Jordan Martua, Atlet Taekwondo Berprestasi KAKI BOLEH BENGKAK, BERTANDING JALAN TERUS

0
286
Kejuaraan Walikota Cimahi 2019

“Habisin… habisin! Tendang! Habisin!” teriak seorang pria dewasa yang sedang menonton kejuaraan taekwondo. Di sampingnya, Yudas Kukuh Widodo Sidabutar terdiam. Pria yang berteriak-teriak di sebelahnya tidak tahu, Yudas adalah ayah atlet tekwondo yang saat itu tengah berlaga dengan anaknya.

Kejuaraan itu ternyata dimenangkan Jordan Martua, anak Yudas. Untung saja selama pertandingan, Yudas mampu menahan diri. Ia pun tak lantas bersikap pongah kepada pria di sebelahnya yang tadi berteriak-teriak dengan kasar.

Jordan memang remaja yang sangat lekat hidupnya dengan dunia taekwondo. Lahir dari pasangan Yudas Kukuh Widodo Sidabutar dan Rosmiany Sidabukke, remaja umur 16 tahun itu sudah tertarik dengan taekwondo sejak kelas 4 sekolah dasar (SD). Jordan pun mengutarakan keinginannya mengikuti ekstrakurikuler (ekskul) seni beladiri asal Korea itu, tetapi ditolak kedua orang tuanya. Yudas dan Rosminay khawatir kalau-kalau anak mereka cedera ketika berlatih. Wajar saja, sebab taekwondo adalah olah raga keras.

Singkat cerita, ketika Jordan sudah duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP), ia diam-diam mendaftarkan dirinya masuk ekskul taekwondo. Namun karena setiap pemilihan ekskul harus dengan persetujuan orang tua, Jordan mau tidak mau harus meminta izin ayah dan ibunya.

Sang ibu pun kaget. Namun melihat kegigihan anaknya yang ingin mempelajari taekwondo sejak bertahun-tahun lalu, Yudas dan Rosminay pun memberi izin, sambil mendoakan semua baik-baik saja.

“Mungkin Mama khawatir, takut kenapa-napa,” ujar Jordan kepada Enggar dari Suara Baptis yang ikut menyaksikan Jordan bertanding Sabtu, 20 Juli 2019 lalu.

Sang ayah mengakui, ia dan istrinya sempat menawarkan cabang olah raga lain yang lebih aman. “Awalnya kita beri pilihan cabang olah raga yang lain. Cuma memang dari awal pilihannya taekwondo. Dan kita juga melihat, hobby dan bakatnya memang banyak ke sana (taekwondo). Sampai saat ini sudah beberapa kali menang ketika mengikuti kejuaraan. Jadi, kita dukung,” tutur anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Anugerah, Cimahi ini.

Setiap kali Jordan pulang latihan dan mengeluh sakit di badannya, Rosmiany langsung bertindak.

Baca Juga Artikel : Profil Muda: Amos Ursia “REMAJA PELAHAP BUKU FILSAFAT”

“Di rumah sudah ada stok es batu. Jadi, kalau pulang ada memar sedikit, mamanya langsung kompres. Setiap ikut kejuaraan saya selalu menemani dia,” ungkap Yudas.

Tak hanya sekali-dua Jordan pulang dengan badan memar. Namun anak kedua dari tiga bersaudara ini tetap bersemangat mengikuti kejuaraan taekwondo.

Jordan berkisah, dirinya sangat menyenangi taekwondo. Kesehariannya lebih banyak dihabiskan berlatih taekwondo selain bersekolah, dibanding kegiatan lainnya.

Awal-awal ikut kejuaraan, remaja kelahiran Bandung 30 Agustus 2003 itu selalu kalah. Namun dia tidak berhenti berlatih untuk menjadi atlet yang hebat. Semangat itu pun membuahkan hasil. Jordan beberapa kali memenangkan medali emas dan beberapa kali mendapatkan penghargaan sebagai atlet terbaik Kota Cimahi, Jawa Barat.

Dalam kejuaraan taekwondo se-Jawa Barat tahun 2016, Jordan menyabet kemenangan. Ia berhasil meraih medali emas pertamanya. “Senang banget rasanya, dan itu membuat tambah bersemangat untuk terus belatih. Jadi pengen nambah ke tingkat nasional,” ungkap Jordan dengan wajah bahagia.

Medali emas pertama ini mendorong Jordan semakin gigih. Meski hujan sedang turun, ia tak lantas absen berlatih. Perjuangan keras ini pun kembali membuahkan hasil. Tahun 2018 lalu impiannya terkabul. Jordan tak hanya membawa pulang medali emas. Ia pun meraih kemenangan pada kejuaraan tingkat nasional!

“Waktu itu udah pertengahan kelas VIII, terus ada lomba yang diadakan. Aku main lawan atletatlet yang bagus. Nggak nyangka ternyata aku menang. Aku dapet juara satu plus atlet terbaik tingkat nasional,” ujar remaja pendiam ini.

Jordan juga resmi ditarik menjadi atlet Kota Cimahi. Status ini menuntut Jordan menyiapkan waktu khusus untuk berlatih setiap harinya. Dalam seminggu bisa empat-lima berlatih taekwondo, sementara latihan fisiknya lari sprint dua kali seminggu. Meski demikian, latihan keras ini sama sekali tidak mengganggu sekolahnya. Ini karena Jordan pintar mengatur waktu.

“Nggak mengganggu, paling telat ngerjain pekerjaan rumah (PR). Jadi, kadang kalau ada waktu luang di sekolah, aku kerjainnya di situ. Atau pas lagi latihan terus ada waktu kosong, aku bisa sambil ngerjain (PR). Kalau waktunya belajar, saya belajar. Waktunya latihan, saya latihan. Kalua waktunya main, ya main,” ungkap Jordan.

Yudas pun membenarkan jika kegiatan taekwondo sama sekali tidak mengganggu sekolah anaknya. “Karena mamanya disiplin, jadi semua (taekwondo maupun pelajaran sekolah) harus tetap jalan,” ujar mantan karyawan Lembaga Literatur Baptis ini.

Meski beberapa kali kelabakan menghadapi semangat Jordan dalam mengikuti kejuaraan, kedua orang tuanya tetap mendukung.

“Pernah sekali waktu mau ujian masuk SMA (sekolah menengah atas), mamanya melarang (bertanding). Jumat-Minggu masih ikut kejuaraan, sementara Senin harus ujian. Takut kenapa-napa, meski akhirnya tetap ikut (bertanding),” tukas Yudas. Ia dan istrinya ketika itu akhirnya meluluskan keinginan Jordan bertanding menjelang ujian sesudah melihat anaknya berjanji sungguh-sungguh untuk berhatihati. Jordan bilang, kalah-menang soal biasa. Dan ia tidak menjadikan kemenangan sebagai tujuan satu-satunya sampai harus mempertaruhkan keselamatan diri.

Baca juga Artikel : Profil Anak Muda Baptis: PENARI YANG GEMAR BERFOTO SELFIE

Meski sempat beberapa kali mengkhawatirkan anaknya ketika menyaksikannya bertanding, Yudas merasa diberkati. Sebab Jordan membuktikan, remaja Kristen yang menjadi minoritas di sekolahnya tersebut pun mampu berprestasi.

”Pernah sekali kejadian, yang membuat saya ingin dia mundur. Waktu itu dia ikut kejuaraan dan sudah sampai final. Dia sudah menang tiga kali, terus kakinya cedera, bengkak. Tapi dia nggak mau mundur, katanya tinggal sekali putaran. Tanggung. Akhirnya dia menang dan menjadi atlet terbaik di (Kabupaten) Bandung Barat,” ungkap Yudas.

Selain itu juga, kesibukan berlatih dan bersekolah tidak menyebabkan Jordan terlibat dalam perbuatan buruk seperti merokok. Bahkan Jordan tak pernah berkelahi dengan orang lain selama ini dan memamerkan kehebatannya.

“Ini karena waktunya banyak dihabiskan untuk berlatih taekwondo,” ujar Yudas. “Ini kan (pergaulan) kota ya, dan saya nggak bisa memantau dia 24 jam. Dengan dia masuk klub pelatihan cabang (Placab), waktunya abis di sekolah dan tempat latihan. Saya juga lihat komitmennya kuat dan saya berserah kepada Tuhan.”

Melihat prestasi kakaknya yang gemilang, sang adik, Amos Christano pun ingin menjadi atlet taekwondo. Amos yang duduk di bangku kelas 5 SD ini lantas ikut ekskul taekwondo.

Meski belum kelihatan bakatnya, Jordan terus menyemangati adiknya. Prestasi yang diraih bukan hanya membuat Jordan bangga.

Prestasi tersebut juga akan sangat menolong ketika akan memilih sekolah lanjutan melalui jalur prestasi. Tak hanya itu, dengan kemengan yang sudah dikumpulkan, Jordan juga mendapat pelatih tingkat nasional dan bebas biaya gedung ketika masuk SMA.

Sebagai siswa berprestasi, Jordan sering menjadi utusan sekolah dan daerah dalam mengikuti kejuaraan taekwondo. Sejak pertama kali menang dalam kejuaraan tahun 2016, sampai saat ini Jordan berhasil memenangkan 15 medali emas dan 4 piala sebagai atlet terbaik. Penggemar jajanan bala-bala (gorengan dari adonan terigu dan sayuran) ini bercita-cita menjadi pelatih taekwondo.

Baca juga Artikel : Asaf Kharisma Putra Utama “KE PERANCIS KARENA FILM PENDEK”

Meski masih duduk di bangku kelas 2 SMA, Jordan sudah mendapat tawaran dari rektor sebuah universitas swasta terkenal di Bandung untuk berkuliah di sana kelak. Semua ini menambah rasa syukur kedua orang tuanya.

Gabungan antara disiplin yang diterapkan orang tua dan tekad yang membaja sang anak, telah membuahkan hasil manis. Semoga, remajaremaja lain pun menjadi terdorong untuk berprestasi seperti Jordan.

 

Penulis: Juniati & Enggar

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here