Jonny Sinaga | NGERINYA NERAKA MEMBUATNYA BERTOBAT

6
133

Menjadi pengikut Kristus justru membuat kinerja dan kariernya di pemerintahan lebih baik. Awalnya, Jonny Sinaga hanya pegawai negeri biasa. Namun, sejak menyerahkan hidup kepada Tuhan tahun 1992, semuanya berubah.

Anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Getsemani Jakarta ini terpilih menjadi Duta Besar Republik Indonesia untuk Argentina, Uruguay, dan Paraguay tahun 2014. Lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (UI) tahun 1987 ini masuk Sekolah Dinas Luar Negeri (Sekdilu) dan menjadi pegawai di Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) sejak tahun 1988.

Penugasan pertama di luar negeri adalah KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) Canberra Australia, kemudian di Perutusan Tetap Repulik Indonesia (PTRI) untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York 2000-2004. Tahun 2008 ia dipercaya menjadi Direktur Sekolah Staf dan Pimpinan Kementerian Luar Negeri (Sesparlu). Tahun 2010 diangkat menjadi Kepala Biro Keuangan Kemenlu. Tahun 2012 ia dipercaya menjadi Wakil Duta Besar di Tokyo.

Pada 15 Oktober 2014, ia dilantik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Istana Negara sebagai Duta Besar RI untuk Argentina, Uruguay, dan Paraguay, didampingi Gembala Sidang GBI Getsemani Pdt. Raymond Danny Wahyudi dan istri, Arni Dani Wahyudi.

Saat menjadi Direktur Sesparlu, walaupun tanpa pendidikan dan pengalaman di bidang keuangan, Jonny cepat belajar dan dapat melakukan berbagai terobosan untuk membersihkan Kemenlu dari praktik-praktik tidak benar yang dilakukan sebagian orang. Pimpinan saat itu menganggap tidak ada lagi yang bisa dipercaya untuk menangani keuangan karena terjadi juga kasus korupsi di kantor itu.

“Sering saya mengalami pekerjaan yang sulit, namun karena kasih dan kemurahan Tuhan dapat diselesaikan dengan baik,” tulisnya dalam wawancara via e-mail dengan Lya Anggraini dari Suara Baptis, 27 April 2015.

Jonny dilahirkan 19 September 1962 di Desa Lumban Silintong, Balige, dekat Danau Toba Sumatera Utara, dari ibu Perine boru Siahaan dan ayah Drs. Pantun Sinaga, seorang guru SMA. Jonny mengaku sang ibulah yang paling berperan dalam mendidiknya. Perine boru Siahaan yang baru berulang tahun ke-80 pada 2 Mei 2015, tinggal di Tarutung, Sumatera Utara.

“Ibu saya yang merupakan seorang ibu rumah tangga sangat berperan bagi sembilan anaknya yang semuanya berhasil mengecap perguruan tinggi. Saya masih ingat ketika di kelas satu SD semua nilai rapor saya merah. Namun, dengan caranya yang unik Ibu berhasil mendidik saya agar bisa membaca dan menulis,” ceritanya.

Empat saudara Jonny juga lulus dari UI, satu orang dari Sekolah Tinggi Akuntasi Negara (STAN), satu orang dari Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran, dan seorang lagi dari STBI (kini Sekolah Tinggi Theologia Baptis Indonesia, red.) Semarang.

Setelah lulus SMA tahun 1981 di kampung Narumonda, Porsea, Tobasa, Sumatera Utara, Jonny diterima di beberapa perguruan tinggi di Jakarta seperti STAN, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS), dan UI. Setelah memilih UI dan menjadi Sarjana Hukum tahun 1987, ia diterima sebagai calon hakim di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dan calon eksekutif di Bank Rakyat Indonesia, namun ia memilih bergabung dengan Kemenlu tahun 1988. Tahun 1991, Jonny mendapatkan beasiswa dari Bank Dunia ke Amerika Serikat (AS). Saat itu, ia berpikir akan mudah menggapai apa yang dicita-citakannya, bahkan mungkin semua yang diinginkannya.

“Walaupun saya sudah berbakti di Gereja Baptis New Orleans (First Baptist of New Orleans) AS, namun hidup saya masih berpusat pada diri sendiri. Keberhasilan diri sendiri menjadi fokus hidup saya. Sampai akhirnya Tuhan Yesus menyadarkan bahwa walaupun saya nanti bisa menjadi master, bahkan doktor, profesor, menulis banyak buku, diminta jadi menteri, presiden Indonesia, bahkan jadi Sekjen PBB, dan seluruh masyarakat Indonesia dan dunia mengakui kehebatan saya, istri dan keluarga, namun setelah usia lanjut Tuhan memberitahu saat harus meninggalkan dunia, maka saya disadarkan bahwa semua kebaikan dan kehebatan saya itu tidak mampu mencegah saya masuk ke dalam neraka. Entah apa yang membuat saya berpikir begitu, tetapi saya yakin bahwa ke nerakalah saya pergi.”

Begitu ngerinya hidup di neraka menyebabkan Jonny sangat ketakutan. “Saya coba untuk menghilangkan konsep neraka dari pikiran saya, tidak mau membaca Alkitab serta tidak mau ke gereja lagi, fokus untuk kuliah saja. Tetapi di bangku kuliah dan di mana pun saya berada, justru neraka itu semakin nyata. Akhirnya saya berdoa agar jangan dimasukkan ke dalam neraka. Bahkan kalau pun saya mati saat itu, saya siap, asal jangan dikirim ke neraka.”

Singkatnya, Minggu, 5 Januari 1992 Jonny kembali lagi ke gereja itu. Herannya, khotbah saat itu seperti hanya ditujukan kepadanya. “Saya masih ingat kira-kira pendetanya mengatakan, ‘Mungkin di negara Anda, Anda sudah ke gereja dan merasa sudah yakin akan masuk surga. Tetapi kalau ada sedikit saja keraguan bahwa Anda tidak masuk surga, yakinkan diri Anda saat ini juga.’ Saat itu juga saya mengakui dosa dan serahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan Yesus yang telah mati bagi saya di kayu salib di Golgota. Dan dengan itu saya sudah ditebus dari seharusnya masuk neraka akibat dosa saya, dan membawa perubahan luar biasa dalam hidup saya,” kenang Jonny tentang titik balik hidupnya.

Sejak kecil orang tua sudah mengajar Jonny dan saudara-saudaranya untuk menghormati Tuhan dan senang memberi bagi Tuhan. Memberi perpuluhan atau persembahan, bahkan seluruh harta milik, lambat laun bukan lagi hal yang sulit karena sejak kecil sudah ditanamkan rasa bangga dan sukacita.

“Cita-cita saya saat kelas empat SD adalah menjadi presiden. Kelas dua SMP saya sudah hafal luar kepala Pembukaan dan pasal-pasal UUD 1945. Namun, ketika saya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Indonesia, dosen mengatakan bahwa untuk menjadi presiden Indonesia harus beragama Islam karena mayoritas penduduknya beragama Islam. Saat itu saya sebenarnya ingin membuktikan bahwa untuk menjadi presiden Indonesia tidak harus beragama Islam,” ceritanya ketika ditanya tentang cita-cita masa kecil.

“Namun, sejak saya serahkan hidup sepenuhnya kepada Tuhan Yesus tahun 1992, ketika belajar Master Hukum Internasional di Universitas Tulane, New Orleans, cita-cita saya berubah menjadi ingin memberikan hidup sepenuhnya dan melayani Tuhan Yesus di mana pun Tuhan tempatkan,” lanjutnya.

Sosok yang mengidolakan Musa saat kelas tiga SD ini, pernah dianggap bodoh oleh gurunya sementara kedua kakaknya cerdas. Saat guru agama menceritakan kisah Musa dengan berbagai keajaiban yang dilakukannya, Jonny berdoa minta diubahkan Tuhan menjadi murid yang cerdas. Naik kelas empat SD, tiba-tiba ia menjadi murid yang cerdas. Sering guru memintanya maju ke depan untuk menjelaskan pelajaran. Sejak saat itu, Jonny selalu menjadi juara kelas, bahkan juara umum hingga lulus SMA.

Kini, pemimpin terbaik baginya adalah Tuhan Yesus. “Saya bukan saja mengidolakan Tuhan Yesus, saya adalah pengikut-Nya,” katanya.

Ketika Jonny mengundang para pakar kepemimpinan untuk mengajar di Sesparlu, ia menyadari bahwa apa yang mereka ajarkan adalah kepemimpinan Tuhan Yesus atau kepemimpinan menurut Alkitab. Hanya saja, mereka tidak menyadarinya. Misalnya, pemimpin yang baik harus mempunyai visi yang jelas dan harus fokus mewujudkan visi itu. Tuhan Yesus, ujar Jonny, sejak awal sudah mengetahui visi-Nya, yakni agar semua manusia selamat melalui kematian-Nya di kayu salib. Jonny lalu dengan sukarela menawarkan diri untuk membagikan tentang kepemimpinan Tuhan Yesus di Sekolah Tinggi Theologia Baptis Jakarta (STTBJ).

Ia mengaku, sebelum mengenal Tuhan Yesus, hidupnya berpusat pada diri sendiri. Belajar atau kuliah agar menjadi hebat, adalah tujuan hidupnya. Kalau pun ikut persekutuan mahasiswa, itu untuk bisa melihat gadis-gadis cantik. Anehnya, tidak ada yang mau.

“Setelah Tuhan Yesus mengubah hidup saya, menariknya, banyak wanita yang men-dekati saya. Tetapi Tuhan memberikan yang terbaik, yakni Nima Sulina Singarimbun yang kemudian menjadi istri saya sampai selama-lamanya. Setelah kami berkeluarga, Tuhan Yesus tetap menjadi yang uta-ma dalam hidup kami. Ketika kami menikah tahun 1998, kami mem-berikan kepada Tuhan Yesus uang yang kami terima dari resepsi pernikahan semuanya, 100 persen. Tetapi kami tidak menjadi kekurangan karena itu, justru sebaliknya kami selalu berkecukupan,“ kisahnya.

Ia bertemu pertama kali dengan mendiang istrinya di Canberra Baptist Church yang saat itu aktif melayani meski belum dibaptis. Dialah yang meyakinkan calon istrinya untuk dibaptis. Nima didiagnosis mengidap kanker paru-paru tahap akhir 21 April 2014 di Tokyo dan telah bersama Tuhan Yesus sejak 12 Agustus 2014.

“Kami tidak dikaruniai anak, tetapi sukacita kami tidak berkurang karena Yesus memberikan sukacita yang penuh dan sempurna. Dikarunai istri yang mengenal Tuhan saja sudah luar biasa bagi saya,” kenangnya tentang istrinya yang hingga masuk rumah sakit dan dipanggil Tuhan tetap setia melayani sebagai penerima tamu di Tokyo Baptist Church.

Berlatar belakang gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP), ia mengenal gereja Baptis tahun 1991 melalui New Orleans Baptist Church dan menyerahkan hidup kepada Tuhan Yesus 5 Januari 1992, lalu pindah ke Canberra Baptist Church 1993-1997. Sejak dibaptis 24 Agustus 1997 di GBI Getsemani Jakarta, Jonny aktif melayani di sana, selain menjadi anggota pembina Yayasan Baptis Indonesia (YBI) dan pengajar di STTBJ sebelum dipindahtugaskan ke Tokyo 2012-2014 dan aktif melayani di Tokyo Baptist Church. Kini, ia aktif melayani di Gereja Baptis Barrio Norte, Buenos Aires, Argentina. Setelah Tuhan memanggil isterinya di Tokyo, ia mulai bergabung dengan Bible Study Fellowship (BSF) yang saat itu sedang mendalami kepemimpinan Musa.

“Di mana pun, gereja, pemerintahan, swasta, sekolah, atau tempat kuliah adalah tempat pelayanan yang Tuhan berikan kepada kita. Kita perlu tunjukkan melalui hidup kita bahwa Tuhan Yesus hidup di dalam kita. Kita harus memiliki hidup yang suci dan seluruh hidup kita harus kita berikan karena kita menjadi pemimpin, gembala, dan sahabat bagi anggota yang kita bimbing,” pungkasnya.

SB/lya anggraini

6 COMMENTS

  1. Artikel ini memukul dua belah pihak: membuat reputasi kristen yang jadi birokrat ( yang sebelumnya kurang memiliki citra positif) semakin buruk, dan membuat teologi baptis dan umat baptis semakin terlihat dangkal. Come on suara baptis, Anda bisa membuat lebih baik dari ini.. Jangan buat kekayaan teologi baptis berwajah dangkal, pragmatis, dan basa basi.

  2. Apa yang disampaikan pak Joni merupakan sebuah insfirasi bagi saya untuk tetap kuat walau ada tantangan, melayani Tuhan bukan pilihan manusia tetapi keharusan bagi semua orang

  3. Utk Mas Rahadian: Artikel ini justeru dimaksudkan untuk mengerti hidup ini. Bung Karno mengatakan walaupun kita kristen tapi tidak perlu menjadi orang lain; kita tetap sebagai orang Indonesia. Kita bangga sebagai bagian dari negeri kita yang memang banyak ditolong oleh Tuhan. Saat ini ada kebanggaan sebagai bagian dari pemerintahan yang bersih di bawah kepemimpinan Pak Joko Widodo yang sederhana dan rendah hati; kita juga ingin mengikutinya. Tuhan akan bertanya kepada kita apa yang kita perbuat dengan apa yang Tuhan berikan dalam hidup ini. Walau tidak banyak orang Indonesia di Argentina, Uruguay dan Paraguay, dan kebanyakan bekerja sebagai anak buah kapal (ABK) di kapal-kapal ikan, tapi mereka adalah prioritas pelayanan kita. Kita anggap mereka sebagai titipan Tuhan bagi kita agar kita memerhatikan dan melindungi mereka. Semua orang kristen di pemerintahan diingatkan Tuhan untuk tidak melakukan korupsi dalam segaal bentuknya dan dalam keadaan apapun, dan kita harus mempertanggungjawabkan itu bukan saja di dunia ini tapi suatu saat nanti setelah hidup di dunia ini.

  4. Utk Pdt Alex: Terima kasih banyak Pak. Betul Pak kita setiap hari diingatkan Tuhan apakah kita sungguh-sungguh mengasihi semua umat ciptaanNya ini. Saat ini ada sekitar 7 miliar manusia yang Tuhan ciptakan dan semuanya dikasihiNya dan kita juga diminta Tuhan untuk mengasihi mereka.

  5. Untuk Tetty yang baik. Sebenarnya tidak dikandung maksud seperti itu; karena bagi Tuhan gereja bukan gedungnya dan bukan pula organisasinya. Siapapun orang yang mau melakukan kehendak Tuhan maka itu adalah gereja. Tuhan menciptakan semua manusia karena Dia punya rencana yang baik bagi semuanya dan Dia sangat mengasihinya dan Tuhan tidak mau satu orangpun yang binasa.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here