JENDELA SB 2 2015| SEBELUM “SANG GARAM” KEHILANGAN PERAN

0
104

Seorang pria paruh baya yang juga penggiat sebuah gereja induk, menanyakan biaya pemasangan iklan di majalah Suara Baptis (SB). Dengan nada rendah, kami menolak permintaan pemasangan iklan itu. Wajar saja, aktivis gereja tersebut ingin memasang iklan “lowongan kerja” gembala sidang. Seperti layaknya iklan lowongan kerja, ia menawarkan gaji dan fasilitas yang menarik, selain juga kriteria calon gembala sidang yang diidamkan. Sesudah beberapa tahun gerejanya tidak bergembala sidang, pria tersebut ingin segera mendapatkan gantinya.

Rupanya ia tidak sendirian. Di tengah pelaksanaan Kongres X Gabungan Gereja Baptis Indonesia Indonesia (GGBI) di Surabaya Maret 2015 lalu, sejumlah utusan gereja yang datang juga berniat memasang iklan “lowongan pelayanan” untuk mencari gembala sidang. Mengagetkan memang, sebab ternyata kegalauan jemaat yang tidak bergembala sidang rupanya sudah sedemikian besar. Jelas, situasi seperti ini tak dapat diabaikan.

Setidaknya ada dua masalah serius dari persoalan ini. Pertama, kebutuhan akan gembala sidang adalah nyata. Jemaat sadar, gereja akan sulit bertumbuh jika mereka tidak memiliki gembala sidang dalam jangka lama. Kedua, keinginan memasang iklan “lowongan kerja” gembala sidang memperlihatkan ketidaktahuan teknis maupun etis dalam tatacara pemanggilan gembala sidang akibat lemahnya pengajaran kegerejaan.

Dari data Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI per Mei 2015, terdapat 104 tempat pelayanan yang tidak memiliki gembala sidang. Mereka terdiri dari 15 gereja induk, 25gerejacabang, 23 tempatpembinaanwarga (TPW), dan 41 balaipembinaanwarga (BPW).

Dilihat dari jumlah gereja induk yang mencapai 270-an, 15 gereja mandiri minus gembala sidang hanyalah angka yang sepele. Cuma 5,5 persen. Namun jika selama bertahun-tahun 15 gereja induk tersebut gagal mendapatkan gembala sidang, masalah besar tentu segera muncul. Tanpa seorang gembala sidang yang cakap dan hidup seturut panggilan pelayanan, sebuah gereja pasti mandek. Baik dalam jumlah keanggotaan, baik dalam pengetahuan dan kedewasaannya.

Itu berarti arah program yang tanpa konsep matang, prioritas-prioritas yang salah, suasana ibadah yang hambar, kejemuan yang menular, hingga memuncak menjadi kegagalan mengelola konflik di antara jemaat. Bila sudah mencapai titik ini, umumnya kegiatan-kegiatan gereja tinggal menjadi rutinitas formal.

Alih-alih jemaat mencapai kedewasaan, terjadi perapuhan di dalam gereja. Gejalanya, muncul ketegangan hubungan di antara jemaat, pertikaian mudah pecah hanya karena soal remeh-temeh, bergunjing dan saling menghakimi menjadi kebiasaan yang tak lagi memalukan, patah ketika mengalami tekanan-tekanan pribadi. Kalau sudah begitu, tak perlulah menyebutkan kemampuan bertahan jika datang aniaya seperti pernah dialami jemaat mula-mula dalam Alkitab.

Yang biasa terjadi berikutnya adalah “kebocoran”. Satu demi satu, anggota jemaat menjadi pasif dalam kegiatan gereja, absen dari peribadatan, pindah ke gereja lain, atau paling fatal menanggalkan iman. Maka, “sang garam” dan “sang terang” yang semula dibangun dengan cucuran keringat, air mata, doa, dan berbagai pengorbanan banyak orang, kehilangan peran di tengah pergulatan kehidupan lingkungannya. Jika sebuah gereja induk hanya memiliki 30 anggota seperti jumlah minimal dalam syarat pemandiriannya, 5,5 persen jumlah jemaat yang terancam gagal bertumbuh adalah 450 orang. Jumlah yang tak lagi dapat disepelekan.

Di sisi lain, justru jemaat-jemaat cabang dan perintisan sesungguhnya adalah kelompok yang lebih membutuhkan keberadaan seorang gembala sidang. Sebagai jemaat yang belum mandiri, mereka  perlu penuntun dalam pengetahuan pengajaran Kristen, pertumbuhan rohani, tata gereja, hubungan antara mereka dengan gereja Baptis lain serta pemahaman terhadap rumah besar bernama Gabungan Gereja Baptis Indonesia. Mereka juga lebih perlu sosok gembala yang memperlihatkan contoh nyata dalam menumbuhkan kehidupan Kristen ketimbang sebuah gereja induk. Maka, 89 gereja cabang dan jemaat perintisan tanpa gembala sidang tersebut benar-benar terancam persoalan serius.

Defisit gembala sidang dalam gereja Baptis Indonesia bukanlah sebuah masalah yang sederhana. Penyumbang persoalan ini bisa saja karena kurangnya tantangan kepada orang-orang muda untuk memasuki pelayanan penggembalaan, sistem gereja yang tidak memberikan rasa aman secara ekonomi dan sosial gembala sidang, sekolah-sekolah teologi yang tak menghasilkan kualitas lulusannya setinggi harapan gereja, atau adanya pilihan-pilihan yang jauh lebih  menggiurkan seiring watak dunia yang kian hedonistis.

Itu sebabnya, membahas soal defisit gembala sidang tak mungkin dilakukan secara ringkas. Dalam terbitan Suara Baptis kali ini, kami baru memaparkan masalah tersebut dari satu sisi. Pada penerbitan-penerbitan berikutnya, kami akan melengkapi pembahasan masalah ini dari sudut pandang yang berbeda. Tujuannya, supaya pemahaman kita menjadi lebih dalam dan para pihak yang berkepentingan dapat menyampaikan jalan keluar.

Hanya dengan keinginan yang terus-menerus untuk mencari jalan keluar, harapan menang atas persoalan tersebut dapat diwujudkan.

Salam!

Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here