Jendela: “PERDAGANGAN ANAK DI SEKITAR KITA”

0
77

Kantor Badan Reserse & Kriminal Kepolisian Republik Indonesia (Bareskrim Polri) dipenuhi awak media sebelum konferensi pers, November 2018. Polisi hendak mengumumkan penangkapan lima terduga pelaku perdagangan manusia sekaligus mempertemukan korban dengan keluarganya.

Berbaju lengan panjang putih dengan hiasan bunga-bunga kecil dan berkerudung biru serta mengenakan topeng, ES (16 tahun) menunduk digandeng seorang polisi wanita. Begitu tiba di depan ibunya, Enok (44 tahun), ES langsung bersujud dan menangis tersedu-sedu.


Enok pun terisak melihat keadaan anaknya yang baru saja dibawa pulang dari Malaysia. Ia tak menyangka, anak gadisnya yang semula dijanjikan bekerja di Jakarta sebagai pengasuh bayi, ternyata kemudian dijual ke luar negeri. Keduanya berangkulan sembari terduduk di lantai. Ibu-anak warga Nyalindung, Sukabumi, Jawa Barat ini bertangisan tanpa sanggup berbicara.

ES benar-benar beruntung. Ia dapat diselamatkan sesudah terlunta-lunta di Malaysia. Senin, 3 September 2018, Neng Ai Mariati, warga Bandung yang sudah bertahun-tahun tinggal dan membuka restoran di Bukit Belimbing, Malaysia, terkejut mendapat kabar ganjil dari seseorang asal Myanmar. Katanya, ada perempuan asal Indonesia yang tengah membersihkan toko bangunan milik orang Bangladesh sambil menangis.

Semula, pemilik toko mengaku ES sebagai istrinya. Namun Neng Ai curiga lantaran melihat ES masih terlalu muda. Ia lantas membawa ES ke rumahnya (www.kumparan.com, Jumat 7 September 2018).

Besoknya, Neng Ai yang baru kembali mengantar anaknya ke sekolah, terkejut mendapati ES tak ada di rumah. Neng Ai cepat-cepat mencari ES dan menemukannya di halte bus bersama tiga orang Bangladesh. Mereka hendak membawa ES ke Johor.

Karena merasa tidak aman, Neng Ai membawa ES ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Kuala Lumpur. ES lalu dipulangkan ke Indonesia.

Penemuan ES di Malaysia dan pemulangannya adalah salah satu kisah keberhasilan penyelamatan yang pernah terungkap. Namu;n ada sangat banyak korban lainnya bernasib mengenaskan: dipaksa menjadi pelacur, diperkosa, dipekerjakan sebagai pembantu rumah tangga tanpa dibayar, diperlakukan secara kejam sampai cacat bahkan tewas.

Sejak tahun 2014, ribuan orang dari berbagai tempat di Indonesia menjadi korban perdagangan manusia. Mereka biasanya dikirim sebagai pembantu rumah tangga Maroko, Arab Saudi, Suriah, dan Turki (https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/hukum/ppp8os335/ribuan-orang-jadi-korban-perdagangan-manusia-ke-timur-tengah).

Bahkan Perserikatan Bangsa-Bangsa Urusan Narkoba dan Kejahatan (UNODC) merilis pengumuman mengejutkan awal Februari 2019 lalu. Hanya sepanjang tahun 2016, lebih dari 25 ribu orang menjadi korban perdagangan manusia dari 110 negara. Kebanyakan dari mereka adalah perempuan dan anak-anak (https://grafis.tempo.co/read/1535/pbb-korban-perdagangan-manusia-mayoritas-perempuan-dan-anak).

Sebagai penerima mandat Kristus untuk menghadirkan pikiran dan perasaan Allah di dunia, gereja perlu memeriksa kembali program-program yang dibuatnya, termasuk pelayanan kepada anak-anak. Apakah berbagai program yang menuntut biaya dan energi tersebut telah benar-benar membuat dunia merasakan tangan Allah bekerja?

Untuk terlibat langsung dalam penanganan anak-anak korban perdagangan manusia mungkin terlalu rumit. Namun gereja perlu mulai memikirkan program-program pelayanan yang dibuatnya supaya nyambung dengan kebutuhan nyata anak-anak korban kekerasan. Gereja dapat memulainya dengan membuat jejaring bersama lembaga-lembaga pemerintah maupun nonpemerintah yang terlibat dalam perlindungan dan pelayanan anak.


Syukurlah, banyak gereja Baptis sudah menyadari pentingnya pelayanan kepada anak-anak. Dari catatan Suara Baptis, sebagian gereja membuat program-program informal seperti memberikan bimbingan belajar gratis, pelayanan kepada penghuni penjara anak, mengajak anak-anak keluarga tidak mampu menikmati rekreasi murah dan mendapatkan makanan bergizi hingga giat dalam Pusat Pelayanan Anak (PPA).

Gereja-gereja yang lain membuat pelayanan formal melalui panti asuhan, mendirikan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sampai Sekolah Menengah Atas (SMA). Bahkan sejak 1999 sekelompok orang muda melayani anak-anak jalanan di Jakarta hingga pelayanan ini berkembang sedemikian penting. Semula pelayanan ini berupa sebuah lembaga swadaya masyarakat bernama Relawan Baptis Indonesia yang kemudian melayani pengungsi asal Timor Leste dan pelayanan di Ambon. Kini organisasi tersebut menjadi Yayasan Rebana Indonesia yang melayani dalam penanggulangan bencana, kesehatan, pendidikan kerohanian dan pendampingan masyarakat bekerja sama dengan pemerintah setempat. Wilayah yang pernah dilayaninya meliputi Aceh, Medan, Padang, Mentawai, Yogya, Kediri, Pati, Jember, Kupang, Palu, Lombok, Timor Leste, Ambon, Manado dan Papua.

Meski begitu, masih banyak gereja yang perlu lebih sungguh-sungguh menghadirkan Kristus dalam pergumulan anak-anak. Misalnya mendampingi anak akibat perceraian orang tua, dukungan ke panti asuhan terdekat, pelayanan terhadap anak-anak korban HIV/AIDS dan kekerasan, pemberian beasiswa atau penyuluhan kesehatan.

Liputan khusus Suara Baptis kali ini yang menyoroti persoalan anak-anak akibat perilaku orang-orang dewasa, semoga menolong gereja untuk lebih nyata menghadirkan belas kasih Tuhan kepada mereka. Salam.

Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here