Jendela: PENUNDAAN MUBES GGBI DAN JASA MEDIA SOSIAL

0
344

Laksana badai, wabah virus corona (Covid-19) bergulung sangat cepat dan menghantam siapa saja, termasuk gereja-gereja Baptis Indonesia. Akibatnya, Musyawarah Besar Gabungan Gereja Baptis Indonesia (Mubes GGBI) yang sedianya dilangsungkan 24-27 Maret 2020 lalu, harus ditunda. Keputusan ini diambil sesudah panitia pengarah (Badan Permusyawaratan Nasional / Bamusnas GGBI, Badan Pengurus Nasional /BPN GGBI), panitia pelaksana dan Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) bersidang pada Sabtu 14 Maret 2020. 

Hari itu juga, keputusan penundaan Mubes GGBI disebarkan melalui media sosial (medsos) dan mendapat banyak tanggapan hangat. Meski banyak biaya dan tenaga sudah dikerahkan, penundaan mubes menghapus potensi penyebaran Covid-19 yang dampaknya sangat sulit diperkirakan.

Serangan Covid-19 telah memaksa pemerintah menyatakannya sebagai bencana nasional. Untuk mencegah penularan Covid-19, Presiden Joko Widodo pun memerintahkan semua kepala daerah untuk membuat kebijakan tentang proses belajar dari rumah bagi pelajar dan mahasiswa. Tugas-tugas belajar dikirimkan guru secara online.

Sementara sebagian perusahaan meliburkan karyawannya, beberapa gereja di Jakarta bahkan mengganti kebaktian Minggu dengan kebaktian online. Keputusan ini sudah lebih dulu dilakukan sejumlah gereja di Singapura, Hongkong dan Korea Selatan. 

Tanpa disadari, pandemi global Covid-19 ini mempercepat penggunaan internet untuk menggantikan kegiatan-kegiatan tatap muka tertentu. Termasuk bagaimana akun Facebook Gereja Baptis berusaha menyebarkan informasi penundaan Mubes GGBI dan membuka tanya jawab. Juga bagaimana Suara Baptis menyiarkan berita-berita online melalui www.suarabaptis.com maupun mengajak umat Baptis mendiskusikan konsekuensi-konsekuensi penundaan Mubes XI GGBI di laman Facebook Majalah Suara Baptis.

Dengan kemajuan-kemajuan yang terus dicapai, penggunaan internet dan media sosial (medsos) untuk keperluan harian pun kian masif. Karena itu, gereja dan organisasi-organisasi bentukannya (Bamusnas GGBI, BPN GGBI, YBI dan YRSBI serta organisasi-organisasi lain di bawahnya) perlu memanfaatkannya dengan cerdik. Bila sebelumnya sebagian orang tidak mempedulikan masukan-masukan yang dikirim melalui medsos karena jalur tersebut bukanlah saluran komunikasi resmi, sikap tersebut akan semakin sulit dipertahankan.

Media sosial (medsos) adalah terobosan besar dalam teknologi komunikasi. Kecanggihan teknologi ini mengubah pola komunikasi monolog menjadi dialog. Publik tak lagi hanya menjadi penerima pesan, namun juga pengirimnya. 

Penelitian Nicholas A. Christakis dan James H. Fowler (2008) mengungkapkan, salah satu kekuatan medsos terletak pada jaringan sosial antara dua elemen, yakni individual dan hubungan sosial. Hubungan antarindividu beserta lingkungannya menjadi demikian kuat dan cepat melalui jaringan virtual. Begitu kuatnya pengaruh medsos sehingga memungkinkan seseorang mengambil keputusan berdasarkan kecenderungan yang dibentuk oleh dunia maya (detik.com, 14 Mei 2014).

Kuatnya pengaruh yang dihasilkan menempatkan medsos sebagai alat strategis dalam bisnis, sosial, hingga dunia politik. Maka, diperlukan sikap dewasa sekaligus kritis supaya kita mampu mendapatkan hasil-hasil yang bermanfaat dari medsos. Anggapan bahwa medsos sekadar saluran untuk pamer atau pelepas galau hanya akan membuat kita kehilangan kesempatan memanfaatkan kecanggihan dan kekuatan media tersebut.

Medsos juga mampu memberikan kesempatan berbicara bagi mereka yang tidak diutus gereja dalam musyawarah daerah, musyawarah nasional tahunan dan musyawarah besar lima tahunan. Juga melalui medsos, seorang anggota gereja dapat menyampaikan aspirasi dengan lebih runtut karena ia sempat menyunting sebelum mengirimkan tulisannya. Bahkan selama ini didapati, diskusi-diskusi yang terjalin melalui medsos begitu hidup, kuat, mencerahkan, mampu memberi sudut pandang baru dan melibatkan banyak pihak. 

Meski begitu, kadang-kadang diskusi tak lagi berpusat pada topik namun melebar ke arah pribadi. Di kutub lain, tak jarang ajakan mendiskusikan soal yang nyata-nyata menjadi pergumulan umat dan membutuhkan kontribusi publik, justru dicurigai berlebihan. 

Kedua sikap yang berbeda secara mencolok tersebut seharusnya dapat diterima sebagai konsekuensi lumrah dalam sebuah proses pembelajaran. Keduanya perlu ditanggapi dengan bijaksana seraya terus didorong untuk menggunakan medsos secara dewasa. Jangan sampai kita kehilangan kesempatan mendapatkan manfaat penting dari kecanggihan medsos tersebut untuk kemajuan pelayanan gereja.

Salam!

Redaksi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here