JENDELA – Pendeta Bukan Manusia Super

0
236

Dengan suara pelan, gembala sidang berusia 30-an tahun ini menceritakan suasana panas rapat urusan gereja yang seringkali harus dilaluinya. Saking seringnya mendengar kata-kata kasar dalam rapat, sang istri pun trauma.

“Itu sebabnya kalau mau ada rapat gereja, saya suruh istri saya jalan-jalan ke mal,” ungkap gembala sidang muda ini. Acapkali ia meninggalkan ruang rapat gereja dengan luka-luka baru di antara luka-luka yang sudah lebih dulu ada. Kalau sudah begitu, seorang bapak muda anggota gerejanya akan mengajak memancing atau berjalanjalan menyegarkan perasaan.

Sementara seorang gembala lain yang lebih senior, sedang menerima pemuda anggota jemaatnya yang sedang curhat pada pukul 18:30. Ketika Suara Baptis datang kembali di pastori tempat menginap pukul 23:00 sesudah meliput sebuah berita di Jawa Tengah, gembala sidang ini masih berbicara dengan pemuda tersebut! Padahal hari itu Sabtu malam dan besok pukul 06:00 pendeta ini harus memimpin kebaktian pertama! Lantaran penasaran, besoknya Suara Baptis bertanya, sampai jam berapa anggota gerejanya curhat kemarin malam? “Jam satu,” jawabnya sambil tersenyum.

Tak sedikitpun terasa nada komplain dalam jawaban itu. Dua kejadian di atas adalah sebagian kecil dari pelayanan penggembalaan yang Suara Baptis saksikan langsung. Bagi para pendeta dan gembala sidang, “jam kerja” berlebih menjadi sesuatu yang biasa dialami. Istri dan anak-anak mereka adalah saksi, bagaimana para pendeta harus menjadi seseorang yang tangguh karena pelayanan mereka selalu menuntut energi dan ketahanan mental lebih.

Namun kadang-kadang para pendeta tidak dapat berbagi tekanan kepada istri, seseorang yang paling dekat dan paling terdampak dari pelayanan penggembalaan yang dilakukannya. Tidak ingin menambah beban, khawatir tidak akan membuat situasi menjadi lebih baik dan berbagai pertimbangan lain, kadang-kadang menyebabkan seorang pendeta menyimpan sendiri tekanan-tekanan yang diterima.

Dalam keadaan seperti itu, hanya Allah yang menjadi tempat curhat. Seorang gembala sidang – yang biasanya adalah pendeta – dipanggil Tuhan untuk memperlengkapi jemaat bertumbuh dalam pengajaran yang benar, memiliki kehidupan yang semakin menyerupai Kristus, saling menguatkan dan turut terjun dalam pelayanan (Efesus 4:11 -16).

Dalam menjalankan tugas pelayanannya, seorang gembala sidang sudah mendapatkan contoh yang jelas, yakni cara hidup Kristus sebagai Sang Gembala Agung. Dengan standar moral dan kerohanian yang tinggi seperti ditampakkan dalam kehidupan Kristus sebagai manusia 100 persen semasa di dunia, tantangan yang dihadapi para gembala sidang sungguh berat.

Takkan mungkin dengan kekuatan sendiri, mereka akan mampu menjalankannya. Hanya dengan terus terhubung kepada Allah dan pertolongan Roh Kudus, para pendeta sanggup menjalankan pelayanannya. Namun pendeta bukanlah manusia super.

Mereka tetap membutuhkan orangorang di luar keluarganya untuk berbagi beban. Tanpa menyadari kenyataan ini, pelayanan penggembalaan tidak akan berjalan dengan hasil terbaik. Bila Kristus saja memerlukan kehadiran para murid dalam masamasa kritis di Taman Getsemani menjelang penangkapan, bagaimana mungkin menyangkal adanya kebutuhan persekutuan yang sama untuk para pendeta?

Pendeta juga perlu cukup tidur, diet makanan sehat, memiliki waktu untuk pribadi dan keluarga. Pendeta juga mudah terluka seperti anggota gerejanya, bisa jatuh dalam dosa yang sama buruknya, terbatas kemampuannya, butuh dukungan juga penghargaan.

Anggota jemaat yang dewasa perlu menyiapkan diri untuk menjadi rekan pelayanan gembala sidangnya dan sahabat dalam kelemahan. Tidak harus berumur 50 tahun untuk dapat memberikan dukungan kepada gembala sidang. Bahkan di usia belasan, seorang anggota gereja yang rela dipakai Tuhan dalam pelayanan, dapat menjadi mitrapelayanan yang ampuh bagi gembala sidangnya. Misalnya, pada masa pandemi ini peran jemaat sangat diperlukan dalam membantu pendeta melangsungkan kebaktian melalui internet.

Kaum muda yang siap dipakai Tuhan untuk melayani, dapat sangat membantu supaya kebaktian dan kegiatan-kegiatan gerejawi lainnya dapat dilakukan melalui dunia maya tersebut. Sementara anggota gereja lainnya dapat bergantian berdoa setiap hari bagi gembala sidang dan keluarganya.

Mereka juga dapat membantu dalam mengunjungi anggota jemaat lain yang sedang memerlukan pertolongan, baik kunjungan langsung dengan menjalankan protokol kesehatan maupun kunjungan secara virtual. Para pendeta maupun anggota jemaat sesungguhnya sedang terus digembalakan Kristus supaya kita menjadi tubuh-Nya yang rapi tersusun.

Sang Gembala Agung tak berhenti mendorong kita menjadi kawanan yang saling membangun dalam kasih. Kesadaran akan hal ini akan menentukan keberhasilan gereja sebagai gambaran kerajaan Allah.

Dalam masa pandemi Covid-19 yang menyeret bangsa-bangsa dalam krisis kesehatan, krisis ekonomi dan bisa menimbulkan krisis pangan, krisis politik serta berbagai bahaya serius lainnya, gereja yang menggambarkan pemerintahan Allah, sungguh-sungguh ditunggu kehadirannya.

Salam.

Redaksi 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here