Jangan Minder Dengan Gangguan Kesehatan Mental

0
85

Anak muda tidak akan lepas dari semangat, cita-cita dan karya. Masa muda merupakan masa di mana semua hal sebisa mungkin dicoba. Masa ketika orang berani mengambil pelayanan di gereja, mengikuti beberapa kegiatan ekstrakurikuler di sekolah, atau rajin mengikuti komunitas-komunitas yang menolong berpikir kritis dan mengembangkan diri. Masa muda adalah masa seseorang menemukan dan menentukan apa yang menjadi keinginan dan mimpinya.

Sama halnya dengan Alviani Gloria Sisti, pemudi kelahiran Bandar Lampung, 3 Oktober 1993 yang saat ini menjadi anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Nazareth, Jakarta Pusat. Putri pertama dari tiga bersaudara ini terlahir dari pasangan Pdt. Albert Wiyadi dan dr. Anita Kartadjaja. Gloria merupakan seorang dokter seperti ibunya, memiliki jiwa muda yang kuat. Ia menjalani masa mudanya dalam sosial, profesi dokter, maupun banyak bidang pelayanan.

Gloria terbiasa mencoba banyak hal terkait seni sedari kecil. Sejak di taman kanak-kanak (TK), Gloria sering mengikuti kegiatan menari, vocal group, paduan suara, menggambar, teater, dan musikalisasi puisi. Sayangnya ketika memasuki masa kuliah, kesenangannya harus terhenti karena kesibukan dan tuntutan pendidikan. Minat seninya dengan berat
hati harus terkubur sementara.

Gloria besar dan tumbuh di Bandar Lampung hingga duduk di sekolah menengah atas (SMA). Ia lalu merantau ke Jakarta untuk berkuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (2011-2016). Lulus kuliah, Gloria menjalani masa magang (internship) di Blitar, Jawa Timur. Baru kemudian ia bekerja sebagai dokter umum di Rumah Sakit PGI Cikini Jakarta.

Terlepas dari kesibukannya di tempat kerja maupun gereja, Gloria juga rindu mencoba hal-hal baru untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Sampai pada satu kesempatan di tahun 2018, Gloria menolong dekorasi dan karya untuk acara pameran visual fotografi dan lukis DWIMENSI “The Body Of Christ”.

Dalam masa singkatnya memegang kembali hal berbau seni, Gloria mencoba menulis puisi, hal yang sebelumnya tidak pernah dia coba. Dan ternyata ia langsung tertarik karena dianggap sebagai kegiatan yang menantang untuk meluapkan rasa melalui kata. Setelah itu, sembari mengembangkan tulisannya, Gloria bergabung dalam komunitas peminat sastra Duduk Bareng Satu Sastra dan membagikan karyakaryanya di sana.

Gloria pun kembali menekuni sedikit demi sedikit apa yang ingin ia coba sebelumnya. Selain membuat puisi, Gloria kembali menggambar di media kertas maupun bahan pakai seperti tas belanja berbahan kanvas (totebag), baju, celana, jaket, tas pouch,. Bagusnya, sudah ada beberapa hasil karya gambarnya yang terjual.

Gloria juga mencoba mengeskpresikan puisi karyanya lewat gerak teatrikal. Belakangan ini juga ikut ambil bagian dalam proyek bernyanyi solo dan berkelompok secara daring. Ia juga mulai menaruh minat dalam bidang seni peran.

Di tengah bersemangantnya melakoni hobi-hobi tersebut, Gloria tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter dengan baik. Pekerjaan ini mengharuskannya bertemu dengan banyak orang, baik pasien maupun wali. Di sinilah Gloria bisa menceritakan kasih Tuhan melalui pekerjaan dan perkataannya ketika merawat pasien dan menemui wali. Maka, selain memberikan nasihat medis, Gloria memberikan penghiburan, penguatan dan pengharapan.

Jiwa pelayanan pekabaran Injil sudah dikembangkannya sejak bergabung dalam
persekutuan mahasiswa Kristen di kampus. Di sana, Gloria belajar tentang visi dan misi
penginjilan, serta pemuridan. Ia juga sering mengikuti kegiatan sosial seperti pengobatan
gratis di beberapa tempat bahkan di pesantren. Semua kegiatan tersebut merupakan bentuk pengabaran Injil.

Gloria pun tetap berusaha mempraktikkannya ketika ia menjadi dokter. Pernah suatu kali, ia melayani pasien yang adalah ketua organisasi garis keras sebuah agama. Sebelum meninggalkan pasiennya di ruang perawatan gawat darurat, Gloria berkata, “Tuhan Memberkati!”

Memang terdengar sederhana, tetapi makna yang ingin disampaikan sangat dalam sebagai
ciri anak-anak Kristus. Lebih-lebih karena pasien tersebut bukanlah orang yang percaya.
Dalam masa mudanya menikmati pekerjaan, pelayanan dan hobi, bukan berarti Gloria menjalani kehidupan yang mudah dan terbebas dari tekanan. Menyeimbangkan studi, pelayanan, pekerjaan dan sosial sangatlah sulit.

Salah satunya saat siap menjalani masa magang tahun 2017, Gloria berharap besar akan
ditempatkan di sekitar Jakarta. Namun ternyata ia harus menjalani magang di Blitar, dengan posisinya sebagai ketua persekutuan kaum muda di GBI Kalvari Jakarta.

Meski demikian, Gloria tetap menjaga komitmen pelayanan dan profesinya. Ia pun berhasil melewati masa-masa sibuk tersebut dengan baik. Bahkan Gloria bisa aktif dalam  persekutuan di GBI Anugerah, Blitar.

Masa pendidikan profesi kedokterannya pun tidak dilalui dengan mudah. Masa studi profesi (co ass) yang dijalaninya tahun 2014 cukup menekan mentalnya. Situasi ini membuatnya
depresi sehingga harus mencari pertolongan ke dosen psikiatrinya di akhir tahun 2015. Gloria menjalani pengobatan selama beberapa bulan namun akhirnya memutuskan untuk berhenti.

Ternyata setelah dua tahun berlalu, terdapat pemicu stres yang membuatnya didiagnosis
gangguan bipolar dengan ciri kepribadian paranoid dan dominan depresif. Sejak diagnosis
itu, Gloria menjalani pengobatan dan konsultasi rutin.

Gangguan bipolar adalah salah satu gangguan kejiwaan yang mempengaruhi pikiran, perasaaan dan perilaku seseorang. Gangguan bipolar ditandai dengan perubahan emosi yang drastis. Seseorang yang menderita bipolar dapat merasakan gejala mania (sangat senang) dan depresif (sangat terpuruk).

Gloria cenderung merasakan gejala depresif daripada gejala mania, yang jarang dialami. Ia
sering paranoid, sensitif, kecenderungan takut terhadap penolakan dan konflik dengan sesama, takut dikucilkan dan mendapat pandangan negatif dengan efek murung, sedih, menyendiri, serta ekspresi emosi yang terkadang meledak-ledak.

Terlepas dari diagnosisnya, Gloria tetap mengucap syukur karena banyak pihak yang mendukungnya, terutama keluarga dan temanteman terdekat. Bahkan saat kondisinya  tidak stabil, Gloria masih tetap mengingat doa dan Firman Tuhan untuk menenangkan diri dan mengendalikan emosinya, walaupun seringkali sulit untuk merasakan pengaruhnya secara langsung.

Dan bagi Gloria, yang terpenting bukan apa penyakitnya, tetapi bagaimana Gloria bisa
menerima diri sendiri apa adanya. Dengan begitu, Gloria bisa lebih tenang dan fokus menjalani aktivitas sehari-harinya dengan tetap bersandar pada Tuhan Yesus.

Gangguan kejiwaan seringkali mendapat cap negatif. Namun bukan berarti suatu gangguan yang harus dipersalahkan atau malah diabaikan. Setiap orang diciptakan Tuhan berbeda-beda dengan segala macam keunikannya. Maka, tak seorang pun berhak membeda-bedakan sesamanya. Keberanian Gloria mengungkapkan gangguan bipolar yang menerpanya adalah sebuah peristiwa penting. Pengakuan menderita gangguan bipolar ini dapat menjadi langkah awal untuk membesarkan hati orang-orang muda lainnya dalam menerima diri dengan mengucap syukur. Maka, kepada orang-orang muda lainnya, Gloria memberikan pesan.

“Tidak apa-apa. Jangan minder dengan kesehatan mental yang kalian miliki. Kuncinya
adalah penerimaan diri. Terima diri kalian sebagaimana adanya Tuhan menciptakan
kalian. Kabar baiknya, Tuhan menciptakan kita SAB, Sungguh Amat Baik,” ucap Gloria kepada kontributor Suara Baptis, Ima Apriliani.

Gloria mendorong orang-orang muda mencari lingkungan yang dapat memberi dukungan dan mampu dijadikan tempat bersandar kala merasa tidak stabil.

“Jangan berlarut-larut ketika merasa lemah dan down, dan jangan pula sungkan mencari
pertolongan ke orang yang lebih kompeten,” sarannya.

Penulis: Ima Apriliyani
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here