Jalan-Jalan: Tana Toraja Sulawesi Selatan “ADA KERBAU SEHARGA TOYOTA ALPHARD”

0
117

Pesawat pukul 05.00 WIB tinggal landas menuju Makassar, Sulawesi Selatan un￾tuk mengejar waktu empat hari overland tour (wisata melalui jalur darat) dari Makassar ke Tana Toraja. Begitu tiba di Bandar Udara Inter￾nasional Sultan Hasanuddin pukul 09.00 WITA, hawa panas mulai menyengat. Untunglah kami berlima langsung dijemput Bapak AT.

Mobil membawa kami melewati Kota Maros. Banyak penjual jeruk besar (jeruk Bali). Saya baru tahu kalau jeruk ini bukan berasal dari Bali, tetapi hanya ditanam petani Maros dengan sebutan “jeruk putih”. Harganya murah sekali, Rp 12 ribu dapat tiga buah, manis pula, dan aman dari pestisida.

Kota kedua yang kami lalui adalah Pangkep, terkenal dengan Sup Saudara terdiri dari kuah kaldu bening plus rempah-rempah dan daging sapi, dimakan bersama ketupat atau nasi. Di Kabupaten Barru, banyak warung yang menjual jagung pulut rebus berwarna putih tanpa serat. Rasanya lebih padat dan berisi, dimakan ber￾sama garam yang diulek dengan cabe merah dan ditaburi air perasan jeruk nipis. Hm… enak, wangi dan rasanya campur-campur. Sepiring hanya Rp 10 ribu berisi enam-tujuh buah. Mu￾rah, kan?

Sekitar pukul 13:00 kami tiba di Pare-pare untuk makan siang. Kami bingung, kok dia￾jaknya ke toko pakaian? Ternyata di lantai atas ada restoran dan cafe. Ada berbagai kue khas Sulawesi, sayur dan lauk-pauk. Tinggal tunjuk, duduk, disajikan lalu makan. Sebelum melan￾jutkan perjalanan, Pak AT membelikan kami ja￾janan khas, mantou mini yang direbus dan digoreng, terbuat dari tepung, gula, susu dan telur.

Setelah itu kami melintasi kota Pinrang yang terkenal dengan ikan Bandeng tanpa duri. Enak sekali, tidak perlu was-was menyantapnya.

Jalan mulai menanjak dan berkelok-kelok. Pukul 15:00 kami tiba di Enrekang, daerah pe￾gunungan. Udara mulai sejuk. Yang terkenal di sini adalah Gunung Nona (bukan porno ya, tetapi memang sebutannya begitu).

Kami duduk di warung, tepat menghadap ke gunung tersebut. Banyak pengunjung yang sekadar menikmati pemandangan sambil mi￾num teh manis dan mie instan. Seru!

Baru beberapa menit menikmati peman￾dangan, eh, tiba-tiba hujan deras. Kabut mulai turun menutupi alam sekitar. Tetapi kami sung￾guh-sungguh menikmati momen itu. Dan yang paling menarik, muncul pelangi sehabis hujan. Wow…. indah sekali!

Makanan khasnya adalah gogos (terbuat dari ketan hitam yang dipanggang, dimakan bersama telur asin), dangke (dari susu kerbau dan getah pepaya, dibentuk seperti telur ceplok dan digoreng), dan palumara (ikan cakalang di￾masak dengan bumbu kuning). Hm… yummy.

Setelah makan malam, kami menuju hotel. Jalanan gelap sekali. Kami mendapati patung kerbau albino sebagai lambang Tana Toraja. Makanannya biasa, tidak ada yang istimewa. Pak AT menyuruh kami menunggu di tempat parkir hotel. Sekelilingnya gelap banget, hanya ada beberapa lampu kecil dan remang-remang yang dipasang di taman.

Begitu Pak AT memberikan kunci ke kami, waaaa… saya diberi sebuah kamar sendiri!

 “Aduh, Pak! Mendingan saya tidur bertiga saja dengan Agnes dan Kiki,” pinta saya.

“Tidak apa, Bu. Kami sudah pesan ka￾marnya.”

“Saya kembalikan ya, kuncinya ke resep￾sionis. Jadi pakai tiga kamar saja, kan hemat?

Lagipula hanya semalam doang di sini.”

Terus-terang melihat sekeliling hotel terse￾but, hati saya rada ciut. Suasananya menye￾ramkan.

“Tidak apa, Bu. Kamarnya sederet, kok. Berdekatan semua.”

Terpaksa saya tidur sendirian. Memang sih, saya tahu kalo Pak AT berusaha memberikan pelayanan yang baik. Tetapi seremnya ini kagak ketulungan!

Begitu mau buka pintu, saya berkomat￾kamit, “Darah Yesus!”

Rasanya takut sekali. Entah kenapa, ada perasaan tidak nyaman masuk ke kamar itu.

Saya langsung duduk di ranjang, berdoa. “Tuhan Yesus, terus-terang saya takut setengah mati. Saya mohon perlindungan-Mu sepanjang malam. Kuasai setiap sudut ruangan ini, jauh[1]kan dari kuasa-kuasa kegelapan. Kalau ada Iblis ataupun Setan yang akan mengganggu, hamba usir di dalam nama Tuhan Yesus! Amin.”

Saya langsung menyalakan lagu-lagu ro[1]hani dari telepon genggam dan menyanyi. Tele[1]visi juga saya nyalakan untuk menghilangkan rasa takut. Mau mandi rada takut, nggak mandi lebih takut lagi, hehehe… Toiletnya kotor sekali, banyak sarang laba-laba dan serangga hinggap di kawat kassa jendela.

Sekeliling kamar itu, meja dan lemari se[1]muanya berdebu. Berarti hotel ini jarang dikun[1]jungi tamu. Ada lilin pula, berarti… sering mati listrik….

Saya cepat-cepat berdoa lagi, “Tuhan Ye[1]sus, tolong lewati malam ini hamba boleh ber[1]istirahat. Jauhkan dari kuasa-kuasa kegelapan dan jangan mati lampu. Dalam nama Tuhan Yesus, amin!”

Saya agak tenang begitu melihat ada Alkitab di meja rias. Langsung saya baca be[1]berapa pasal. Perlahan-lahan rasa takut mulai hilang. Puji Tuhan.

Pk. 05.00 WITA saya bangun, mengucap syukur, Tuhan sudah melindungi sepanjang malam. Begitu terang, saya keluar kamar menu[1]ju kolam renang. Hawanya sejuk sekali, air ko[1]lam terasa hangat, langsung ganti pakaian dan berenang. Seger banget.

Beberapa teman bercerita, tadi malam mereka mendengar suara tangisan wanita dan desisan ular di hotel tersebut. Terbukti Roh Tuhan Yesus lebih besar dari roh-roh di dunia! Waktu aku takut, aku percaya kepada-Mu.

Setelah sarapan, kami berangkat ke makam  para bangsawan dan raja-raja di Kette Kesu. Be[1]gitu masuk, ada beberapa lumbung padi yang bentuknya seperti rumah panggung adat Toraja, di depannya dihiasi beberapa tanduk kerbau disusun ke atas. Semakin banyak tanduknya, berarti semakin banyak keluarga yang mening[1]gal, yang mengadakan upacara penguburan adat dengan mengurbankan seekor kerbau dan 100 ekor babi. Biayanya mahal sekali. Kabarnya, banyak yang kabur dari Tana Toraja karena tidak mau terikat adat tersebut, khusus[1]nya keluarga yang tidak mampu.

Menurut informasi pedagang suvenir di situ, baru-baru ini ada keluarga yang mengurbankan kerbau seharga Rp 1,2 miliar!

Di sekeliling lumbung terdapat kerangka mulut dan gigi kerbau bekas kurban. Semakin jauh masuk, semakin banyak tulang-belulang. Di dekat gua ada beberapa peti jenazah yang masih utuh, banyak sesajen berupa minuman, uang receh, rokok, kopi, dan lain-lain.

Sorenya kami pergi ke rumah penduduk yang punya kerbau albino seharga Toyota Al[1]phard (Rp 750 juta). Namanya Tedong Bonga, tidak dipekerjakan di sawah, dimandikan dua hari sekali, kadang-kadang diolesi mentega. Ku[1]litnya bersih, nggak kebayang kalau kerbau ini mati malam nanti. Pemiliknya bisa stres berat.

Jalan mulai menurun dan berkelok-kelok.Hamparan sawah hijau dan perkebunan bawang banyak terlihat di lereng pegunungan. Indah sekali!

Kami melewati Soppeng. Banyak kalelawar bergelantungan di pohon asam. Bau kotoran[1]nya sangat menyengat. Tidak ada yang berani mengganggu kalelawar tersebut karena pen[1]duduk percaya, jika kalelawar pergi dari tempat itu berarti panen akan gagal atau ada bencana.

Pukul 22.30 kami tiba di Sinjai, terkenal dengan pasar pelelangan “ikan mati sekali” (masih segar, baru turun dari kapal). Segala jenis ikan, cumi-cumi, udang, kepiting yang masih segar dan besar-besar, harganya mu[1]rah sekali. Dengan membayar Rp 10 ribu per ekor untuk jasa masak atau bakar, bisa puas makan ikan dengan sambal dabu-dabu dan ke[1]cap manis. Delicious! Minuman khasnya berupa campuran serbuk sebuah minuman energi, tape dan telur berwarna kuning susu. Hampir setiap rumah menanam markisa ungu, rasanya manis sekali.

Paginya kami ke Tanjung Birra, pantai de[1]ngan hamparan pasir putih kristal halus. Ada permainan banana boat dan bisa naik perahu bermotor ke seberang pulau. Di tengah laut kita bisa menyelam atau snorkeling melihat terumbu karang dan ikan.

Berikutnya kami ke Bulukumba, pusat ma[1]kanan iseng jagung marning. Ada rasa manis, pedas dan asin. Garing dan lembut dikunyah.

Melewati kabupaten terbersih di Sulawesi, “Bantaeng”, bupatinya seorang profesor lulusan Jepang. Jalanannya rapi, tidak ada yang ber[1]lubang. Ada taman bermain yang luas dibangun di pinggir laut.

Kota berikutnya Jeneponto, penghasil ga[1]ram dan terkenal dengan coto kuda. Rasanya seperti daging sapi tetapi seratnya lebih kasar. Di sini, pesta pernikahan tidak lengkap tanpa daging kuda.

Pukul 21.00 kami tiba di Makassar, mampir di toko oleh-oleh khas Makassar di Jl. Sulawesi. Lengkap sekali, ada berbagai makanan kering (baruasa, kue moli, bagea, kacang mete men[1]tah dan goreng, kacang telur), kain sarung, mi[1]numan markisa, kerajinan tangan, dan minyaktawon asli Makassar. Di seberang toko ada ja[1]janan mie khas Ujung Pandang, namanya mie titi dan mie awak (mie digoreng lalu disiram dengan kuah sup dan tetelan daging sapi).

Setelah berbelanja, kami pergi ke alun-alun Pantai Losari. Di sekitarnya banyak penjual pisang eppe (pisang kepok mentah yang di[1]gepengkan lalu dibakar, ada rasa gula merah, keju dan coklat).

Esok paginya kami sarapan coto Makas[1]sar (isinya daging sapi, jeroan plus kuah kaldu dicampur tauco) dimakan bersama ketupat mini atau buras (lontong nasi plus santan). Setelah itu kami di[1]antar ke bandara dan kem[1]bali ke Jakarta. SB/funita

Tips Bepergian Jauh

  • Bagi yang sering mual kalau naik kendaraan, tempelkan koyo pada perut.
  • Pakailah topi dan kaca mata hitam jika ke pantai.
  • Jika pergi ketempat yang berbau mistis, sebaiknya cek dulu hotel[1]nya. Yang terpenting, berdoa

Penulis: Funita

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here