Jalan-jalan – Pulau Sumba Bayar Seiklasnya, Nikmati sepuasnya

0
252

Tahukah Anda, Sumba adalah sebuah pulau di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) Indonesia? Luas wilayahnya 10.710 km², dengan titik tertinggi terletak di Gunung Wanggameti (1.225 m). Sumba berbatasan dengan Sumbawa di sebelah Barat Laut, Flores di Timur Laut, Timor di Timur, dan Australia di Selatan dan Tenggara.

Pulau Sumba terdiri dari empat kabupaten yaitu Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah dan Sumba Timur. Meski mayoritas penduduknya menganut agama Kristen Protestan maupun Katolik, masih banyak yang menganut kepercayaan animisme yang disebut “Marapu” yaitu menyembah roh nenek moyang. Penduduk beragama Islam hanya sedikit. Mereka dapat ditemukan di sepanjang kawasan pesisir. Umumnya kaum muslim ini merupakan pendatang dari luar Sumba seperti, Bima, Ambon, Sumbawa dan Surabaya.

Pulau Sumba menyimpan keindahan alam yang masih asri. Pantai di Sumba memiliki air laut berwarna biru, pasir putih bersih serta bukit-bukit yang menampilkan pesona alam nan indah. Banyak tempat menarik dan indah di pulau kecil ini yang bahkan belum tersentuh tangan manusia ini. Tak hanya itu, tempat-tempat indah ini juga dapat dikunjungi dengan gratis alias tidak dipungut biasa sepeser pun.

Senin 22 Juli 2019, saya bersama tim pengabaran Injil (PI) Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung. Kami berangkat dari Bandung pukul 06:00 menuju Bandara Tambolaka di Sumba. Perjalanan kami tempuh dua kali transit, di Surabaya dan Bali. Sampai Bandara Tambolaka Sumba sekitar pukul 17:00.

Saya sangat senang karena kembali berkunjung ke tanah kelahiran setelah sekitar delapan tahun meninggalkan Tambolaka. Kami disambut beberapa hamba Tuhan di Tambolaka, kemudian rombongan diantar ke tempat penginapan.

Saya dijemput saudara menuju kampung halaman. Perjalanan dari Tambolaka menuju rumah orang tua sangat sepi. Kami melewati hutan yang masih asri. Kendaraan yang melintasi jalan raya bisa dihitung jari tangan. Tak ada kemacetan, perjalanan pun lancar.
Sekitar pukul 18:00 saya tiba di kediaman orang tua, bertemu dengan keluarga. Dengan wajah yang semringah, mereka menyambut dengan sukacita setelah delapan tahun tidak bersenda gurau secara langsung.

Saat malam tiba, sambil menikmati hidangan malam bersama keluarga tercinta, kami berbagi pengalaman. Saya bercerita soal perjalanan selama delapan tahun dan bagaimana Tuhan menolong di rantau meski tidak bersama orang tua.

Keesokan harinya, tepat pukul 07:00 Waktu Indonesia Timur (WIT) saya menuju penginapan teman-teman Tim PI. Udara terasa segar di sepanjang perjalanan tanpa ada kemacetan seperti di kota besar.

Sepanjang perjalanan, terlihat di bahu jalan anak-anak berangkat ke sekolah berjalan. Ada yang menempuh perjalanan 1 sampai 3 kilometer. Saya teringat masa duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah menengah atas (SMA), yang juga berjalan kaki setiap hari tanpa mengenal lelah.

Setelah tiba di tempat penginapan, sekitar pukul 08:00 WIT kami berangkat menuju beberapa sekolah pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kecamatan Kodi Kabupaten Sumba Barat Daya. Kondisi beberapa PAUD yang kami kunjungi di pedesaan cukup memprihatinkan.

Berada di daerah yang sangat gersang, banyak orang di Kecamatan Kodi kekurangan air bersih. Tak heran, anak-anak kecil maupun orang dewasa jarang mandi. Mereka juga mengenakan pakaian selama berhari-hari. Jadi tak aneh jika kita bertemu dengan mereka di hari berikutnya masih dengan pakaian yang sama, sehari atau dua hari sebelumnya.
Selain kekurangan air bersih, tingkat pendidikan di daerah Kodi juga rendah. Sangat jarang menjumpai berpendidikan sarjana. Selain karena tempat untuk menimba ilmu cukup jauh, perekonomian yang sangat rendah juga menjadi penyebab banyak orang tidak melanjutkan ke pendidikan tinggi. Kami menjumpai anak-anak maupun orang dewasa yang menjadi pengangguran atau petani karena tidak mampu membiayai studi lanjut.

Setelah kami berkunjung ke beberapa PAUD, kami juga mengunjungi orang- orang tua murid. Kami melanjutkan perjalanan meski cuaca sangat panas karena daerah pantai. Meski begitu, kami menikmati perjalanan di tempat yang dipenuhi pepohonan dan rumah-rumah masyarakat yang masih sangat alami. Tampak rumah panggung dengan atap dari alang-alang. Beberapa rumah tampak sudah mengikuti perkembangan yang ada.
Kami menuju beberapa tempat pariwisata di Kecamatan Kodi. Hari sudah siang, pukul 12:00 WIT, kami mengunjungi pantai Ratenggaro. Pantai ini tampak indah, dengan air laut yang biru serta pasir putih dan bersih. Tempat ini sudah menjadi salah satu destinasi wisata yang banyak dikunjungi turis.

Meski digandrungi banyak pengunjung, tak ada patokan biaya masuk ke pantai ini. Setiap pengunjung dapat membayar seikhlasnya dan dapat menikmati keindahan Pantai Ratenggaro sepuasnya. Hanya tampak kuda sewaan yang bisa mengantar pengunjung berkeliling menikmati keindahan pantai. Di sepanjang pesisir pantai terlihat penduduk setempat yang menjual aksesoris khas sumba yang dapat dijadikan oleh-oleh seperti gelang maupun kalung.

Kami berlanjut mengunjungi Kampung Ratenggaro yang hanya berjarak beberapa menit dengan berjalan kaki dari pantai. Tampak rumah-rumah adat Sumba yang dihuni masyarakat Kodi, dengan atap menjulang tinggi. Atapnya dari bawah tampak besar dan semakin ke atas, semakin kecil. Rumah adat ini memiliki cerita sendiri yang dipercayai masyarakat setempat.

Penasaran? Mari berkunjung ke tempat ini.
Dari halaman depan rumah adat ini, terlihat pajangan kain tenun khas Sumba yang dijual. Yang unik lagi, kampung adat Sumba ini di tempati para kepala suku. Mereka biasanya mengadakan ritual sakral Marapu, yaitu ritual kepada roh nenek moyang sebagai tanda penghormatan dan penyembahan di tempat ini.

Kepala suku beserta anggota yang lain akan mengadakan ritual sakral pada waktu-waktu tertentu. Perayaan akan dilakukan dengan meriah bahkan menghabiskan biaya yang sangat besar. Sejumlah hewan akan dikorbankan dalam upacara ini seperti kerbau, babi dan ayam.

Pada dasarnya Pulau Sumba terutama daerah Kodi sangat menjunjung tinggi adat istiadat yang diturunkan nenek moyang mereka. Nah, kalau mau tahu lebih dalam mengenai budaya Sumba, silakan berkunjung sambil menikmati pesona alam yang masih murni, juga adat istiadat yang beraneka ragam ada di sini.

Kami melanjutkan perjalanan menuju Danau Weekurri. Perjalan ditempuh selama satu jam sambil menikmati keindahan alam di sepanjang pantai dengan kesejukan angin sore hari.
Tiba di Danau Weekurri, terlihat pesona alam yang sangat indah. Bagaimana tidak, airnya sangat jernih dengan warna kehijauan, menyatu dengan pohon-pohonan di sekelilingnya.
Untuk dapat melihat pemandangan ke seluruh danau, terdapat jembatan yang membentang di atas batu karang. Dari jembatan ini kita dapat melihat dan menikmati pantai yang berada dekat Danau Weekurri. Pemandangan matahari yang akan terbenam menambah pesona dan daya tarik danau ini.

Tak hanya para turis, masyarakat setempat juga sering berbondong-bondong mengunjungi tempat ini pada sore hari. Jadi, kalau ada yang ingin menikmati dan menyaksikan matahari tenggelam, jangan lupakan destinasi satu ini.

Sambil menikmati danau yang indah, kita bisa berbelanja oleh-oleh di sekitar tempat wisata ini seperti kain tenun. Yang menarik, mereka juga menyediakan beberapa kain tenun yang bisa kita sewa untuk mengabadikan suasana di tempat ini. Kita bisa menyewa kain tenun ini untuk berfoto-foto. Seru, bukan?

Rasanya ada yang kurang kalau berkunjung ke tempat ini tanpa ber-selfie, jepret sana jepret sini. Setelah menikmati keindahan Danau Weekurri di sore hari, pukul 18.00 WIT kami kembali ke penginapan. Kami menempuh perjalanan selama sekitar satu jam. Suasana sudah sangat gelap ketika kami tiba untuk beristirahat.

Meski cukup melelahkan karena seharian berada di luar, tak dapat disembunyikan bahwa kami sangat menikmati perjalanan yang menyenangkan ini. Tak hanya menyaksikan kondisi masyarakat yang masih cukup tertinggal dan perlu di bangun, kami juga berkesempatan menikmati dan mengunjungi beberapa tempat wisata.

Jadi, jangan ketinggalan! Ayo, kalian yang senang melancong, silakan mengunjungi tempat wisata alam yang indah dengan pesona yang masih sangat murni di Sumba.

Penulis: Nona Inna
Editor: Juniati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here