Jalan-Jalan: MENIKMATI SATE LALAT MADURA

0
76

Pulau Madura terdiri dari empat kabupaten, yaitu Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Mendengar kata “Madura”, kita pasti berpikir negatif, seperti; orang – orang yang galak, kasar dan sedikit-dikit, “Tak clurit sampean!”

Saya pun agak takut saat mendapat tugas ke sini. Sereeem…

Tiba di Bandara Juanda, disambut figure berbentuk ikan suro (hiu) dan buaya yang sedang bertarung, konon merupakan asal-usul nama Surabaya. Berangkat dari Gubeng diantar Fauzi, staf lokal asli suku Madura melewati jembatan Nasional Suramadu (Surabaya – Madura). Jembatan ini terbentang di atas selat Madura sebagai jembatan penghubung. Dulu hanya menggunakan kapal feri untuk menyeberang,  sekarang dapat ditempuh melalui daratan sampai Pulau Madura.

Kami menempuh perjalanan sekitar 45 menit sampai di Kabupaten Bangkalan. Kemudian menikmati Nasi Bebek Sinjay di Jalan Raya Ketengan No. 45, Junok, Tunjung. Bebek goreng disajikan dengan nasi hangat ditaburi kremes dan sambal campuran cabai ulek plus mangga muda. Rasanya enak, dagingnya garing serta air jeruk hangat, hanya Rp 25 ribu!

Bangkalan adalah kota kecil dan sepi, namun memiliki wisata Pantai Camplong yang airnya hijau kebiruan dilengkapi fasilitas taman bermain serta ayunan. Tiket masuk hanya Rp. 15 ribu.

Selain itu, dari tempat ini kapal – kapal bisa berlayar sampai ke Papua, Aceh, dan Bali. Bisa bersantai sambil menikmati rujak buah, belanja atau sekadar melihat-lihat  toko suvenir berupa boneka berpakaian tradisional dan clurit dari ukuran mini sampai jumbo dengan harga terjangkau.

Menjelang malam, kami berada di Alun – alun Pamekasan dengan patokan Monumen Arek Lancor (Arek = Clurit dan Lancor = Bulu ekor Ayam). Menurut penduduk setempat, Pamekasan paling berbeda dari kabupaten lainnya. Konon, Pamekasan paling terbuka menerima budaya orang lain, cinta damai dan menyambut hangat siapa saja yang berkunjung, termasuk saya yang bermata sipit, hehehe…

Tak heranlah jika kota ini dijadikan pusat perkantoran administratif daerah. Misalnya, kantor imigrasi, pusat perniagaan — banyak keturunan Tionghoa yang berdagang dan berbisnis — beberapa gereja, hotel, perguruan tinggi dan lainnya.

Kami menuju kawasan pusat kuliner “Sae Selera” di Jalan Niaga menikmati Sate Lalat. Kedengarannya serem. Tapi jangan salah, ini bukan lalat beneran melainkan sate daging ayam atau kambing yang dipotong kecil-kecil disiram saus kacang. Makan bertiga masing – masing dapat 20 tusuk dengan tambahan lontong plus teh hangat, bayarnya Rp. 72 ribu.

Disambut udara yang sejuk pagi hari, kami tiba di Sumenep setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam. Kami mengunjungi rumah Sucip, salah satu penjual dari perusahaan kami. Halaman rumahnya dipenuhi tanaman anggrek dan buah naga.

Tak hanya itu, kami berkesempatan mengunjungi kebunnya di Desa Banjar Barat Kecamatan Gapura. Kami disuguhi pemandangan kebun buah melon yang siap dipanen dan ladang tembakau. Wow… siapa sangka, pemilik toko kecil ini mempunyai kebun yang luas!

Makan siang di Kedai Bebek Pedas Galis, bagi orang yang suka pedas, cocok banget. Mungkin level sambalnya di atas tujuh! Wuiiihh … mantap! Dagingnya garing, dinikmati dengan nasi panas plus teh hangat! Harganya pun terbilang murah, tiga porsi hanya Rp. 90 ribu!

Melintasi Pasar Hewan Keppo, banyak sapi yang diturunkan dari truk untuk dijual dan dijadikan “Karapan Sapi”. Permainan ini diadakan setiap akhir pekan dengan taruhan uang jutaan Rupiah. Sapi – sapi tersebut biasanya diolesi balsam pada bagian mata dan kemaluannya. Agar mempercepat larinya, mereka dipecut dengan cemeti kulit yang ujungnya diberi paku – paku. Sadis banget!

Lain desa, lain pula hasil buminya. Ketika kami singgah di Kios Adi yang berprofesi sebagai petani Desa Parsanga, dengan bangga ia memperlihatkan hasil panen semangka raksasa seberat 12 kilogram. Alamak … besarnya!

Tanpa disangka – sangka, ia menghadiahkan semangka itu ke saya! Wow… senangnya!

Kami pun mampir  di Karaton Soengenep, tempat tinggal para raja Madura dulu kala. Tempat ini sekarang menjadi rumah dinas dan kantor bupati.

Dari pintu gerbang sampai semua bangunan di dalamnya, berwarna kuning cerah. Silsilah keturunan raja pertama sampai bupati yang terkini, bisa dilihat pada prasasti yang terpampang di halaman depan. Terdapat aula tempat pertemuan dengan barisan kursi jati dilengkapi serangkaian alat musik tradisional. Aula ini biasa digunakan untuk upacara adat.

Di tengah halaman utama, bertengger pohon tinggi – besar  dengan daun yang rimbun. Pada halaman belakang terdapat kolam tempat pemandian raja, dipenuhi ikan mas jumbo. Sepiii pengunjung, padahal gratis, loh?

Sore hari kami diundang Sadeli, juragan kapal kayu, untuk menikmati ikan laut hasil tangkapan nelayannya. Harum ikan yang sedang dipanggang membuat kami lapar. Sambil menunggu, kami berjalan – jalan menikmati pemandangan sekitar Pantai Pekandangan Barat.

Wisata Pantai Talang Siring, Pamekasan, tidak luput dari daftar kunjungan kami. Di bagian yang dangkal terdapat beberapa kerangka seperti pondokan dari bambu. Namanya bagan, wadah tampungan sementara ikan-ikan hasil tangkapan.

Ada fasilitas gratis berupa kolam renang lengkap dengan arena bermain untuk anak – anak. Juga ada Taman Mangrove (tiket masuk Rp. 5 ribu) yang dihias pagar warna – warni plus gazebo untuk beristirahat sambil menikmati pemandangan laut.

Ketika hari semakin gelap, kami menuju tempat wisata “Api Tak Kunjung Padam” di Desa Langan Tokol, Kecamatan Tlanakan, Pamekasan (tiket masuk Rp. 10 ribu untuk 1 mobil). Tempat ini dikelilingi pagar besi untuk memberi batasan api abadi yang menyala diantara tanah dan batu – batu kerikil.

Tak ada seorang pun mengetahui dari mana asal api yang tak pernah padam itu, sekalipun disiram air bertubi – tubi. Penduduk setempat pun menganggap ini suatu keberuntungan karena mereka bisa memasak air atau makanan dengan gratis. Tinggal susun batu bata untuk tungkunya, tak perlu beli kompor gas, hehehe… Banyak penjual jagung mentah seharga Rp. 5 ribu meraup keuntungan melalui pengunjung yang ingin mencoba bakar jagung dengan api tersebut.

Setelah puas, saya langsung menuju hotel, menyimpan koper dan keluar makan malam di kedai “Soto Madura”. Meski tempatnya sederhana, kedai ini sangat laris. Dengan kuah kaldu panas, aroma rempah – rempah, dilengkapi dengan irisan kentang, soun, suwiran daging ayam, taburan keripik singkong, daun jeruk, bawang goreng dan potongan lontong yang legit, ditambah minuman air perasan jeruk nipis hangat, sueggerrr banget…  Hanya Rp. 16 ribu per porsi! Murah, kan?

Pesona Pantai Slopeng di Trebung, Sumenep memang kuat: air laut hijau kebiruan, deburan ombak yang lembut serta dihiasi beberapa pohon kelapa dan hamparan pasir putih. Dengan fasilitas penyewaan pelampung dan ban (tiket Rp. 5 ribu), kita bisa berenang tanpa rasa was – was. Jika kelaparan, bisa wisata kuliner dan minum air kelapa muda di sekitarnya sambil menikmati matahari terbenam.

Masih ada lagi wisata Gili Labak dan Gili Iyang, yang dijuluki Pulau Oksigen karena kadar oksigennya sangat tinggi. Airnya jernih sebening kaca, penduduknya berumur panjang dan wajahnya bersih meski berkulit hitam. Di sini kita bisa bebas menghirup udara yang bersih tanpa polusi.

Untuk menembus ke pulau ini, kita harus menyewa satu perahu pulang – pergi Rp. 600 ribu – Rp.700 ribu. Perahu bisa mengangkut 20 orang dari pelabuhan Kalianget. Disarankan berangkat sebelum pukul 08.00 dan harus kembali pukul 17.00.

Kalau ingin belanja oleh-oleh seperti beras jagung, kain batik khas, kue bolu jubada, kerupuk rangginang, kerupuk raksasa tanggug, sambal petis dan lain-lain, bisa langsung menuju Pasar Barat di Pamekasan dan Pasar Perinduan, Sumenep,

Dalam perjalanan kembali ke Surabaya, saya mampir ke Bukit Jeddih, Bangkalan. Saya diantar penduduk lokal, salah satu preman Madura karena wilayah ini rawan perampokan. Lokasinya di dataran tinggi. Dengan barisan bukit batuan kapur putih seperti ditutupi salju, ditambah lagi dengan sinar mentari yang terik, abu putih beterbangan tertiup angin, jadi saya harus siap kaca mata dan masker.

Sebenarnya tempat ini merupakan tambang batu kapur, tetapi pemiliknya telah menyulapnya menjadi lokasi wisata (tiket untuk 1 mobil Rp. 60 ribu). Bekas galian yang tergenang air dijadikan danau buatan. Terdapat perahu rakit dihiasi bunga – bunga imitasi yang siap mengantar para turis berkeliling menikmati pemandangan Goa Pote dan sekitarnya.

Walaupun Pulau Madura puanas luar biasa, tetapi Tuhan memang adil. Ia menciptakan beberapa macam tanaman yang tumbuh subur tanpa terganggu terik sinar matahari, seperti jagung, singkong, tembakau, melon, buah naga, lengkeng dan semangka. Ada pepatah mengatakan, “Don’t judge a book by its cover” (Janganlah menilai seseorang dari penampilannya), ternyata Tuhan mempertemukan saya dengan banyak orang Madura yang baik hati dan ramah.

 

Tips berkunjung ke Madura:

  • Bawalah kaca mata hitam
  • Pakailah krim tabir surya
  • Bawalah air minum agar tidak dehidrasi
  • Berbicara dan bersikap sopan

 

Penulis: Funita

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here