Jalan-jalan “LASEM, Tiongkok Kecil di Pulau Jawa” By: Amos Ursia

0
159

Lasem terdengar kurang familiar di antara wilayah wisata lain di Jawa Tengah. Yogyakarta dan Semarang mungkin lebih populer dan familiar ya? Tetapi, siapa sangka, Lasem menyimpan banyak sekali cerita dan kisah yang menarik untuk disimak.

Setiap daerah wisata pasti memiliki ikon yang selalu dikunjungi oleh wisatawan. Seperti kompleks Kota Tua di Jakarta, Braga di Bandung, dan Simpang Lima di Semarang. Lasem pun punya ikon, namanya Tiongkok Kecil Heritage. Belum lengkap rasanya, kalau jalan jalan ke Lasem tanpa mampir ke Tiongkok Kecil, emangnya apa yang unik dari Tiongkok Kecil?

Lasem adalah kota permulaan mendaratnya orang Tionghoa di Nusantara, walaupun tujuan awalnya hanya berdagang, tetapi proses sosial yang terjadi begitu dinamis. Makanya, akhirnya banyak orang Tionghoa yang tinggal di Lasem semenjak abad ke 15. Lalu, terbentuklah pemukiman warga Tionghoa di Lasem. Komplek ini terletak di dekat alun alun dan Masjid Jami Lasem.

Tiongkok Kecil Heritage adalah kawasan yang unik, mungkin di Indonesia jarang sekali kawasan yang seperti Tiongkok Kecil. Kawasan ini merupakan komplek pecinan kuno, yang memiliki bentuk bangunan dan peninggalan peninggalan budaya yang sangat bersejarah.

Rabu, 13 April 2019, saya mengunjungi kawasan Tiongkok Kecil. Wangi dupa dan udara panas Lasem menyambut saya ketika berkeliling. Bangunan bangunan kuno yang antik ternyata sangat indah untuk difoto dan dikunjungi, rasanya seperti kembali ke 50 tahun lalu!

Yang ikonik dari kawasan Tiongkok Kecil adalah gedung-gedung kunonya. Bentuk bangunannya khas sekali, yaitu perpaduan antara bangunan Tionghoa dan Belanda. Bentuk pintu, atap rumah, jendela, dan muka bangunan memang masih asli dari puluhan bahkan ratusan tahun lalu. Ada beberapa bangunan bangunan yang baru dibangun, tetapi bentuk bangunannya pun tetap mirip dengan bangunan kuno. Selain bangunanbangunan klasik, di Tiongkok kecil terdapat juga beberapa tempat-tempat wisata yang unik.

Ada beberapa objek wisata budaya dan religi yang bisa kita nikmati di wilayah Tiongkok Kecil. Yang pertama adalah Klenteng Cu An Kiong dan Klenteng Gie Yong Bio. Kedua objek ini adalah tempat ibadah yang ikonik di Lasem, banyak nilai-nilai sejarah dan budaya yang bisa kita pelajari disini. Klenteng Cu An Kiong adalah kelenteng tertua di pulau Jawa, sedangkan Klenteng Gie Yong Bio adalah klenteng dengan budaya pluralis dan toleransi yang unik.

Selain bangunan kuno, objek wisata religi budaya, kita juga bisa mengunjungi rumah batik khas Lasem di Tiongkok Kecil. Banyak batik tulis Lasem dan baju-baju yang sudah jadi tersedia di sini, begitu pula dengan pernak-pernik dan oleh-oleh yang bisa kita beli. Batik Lasem memang khas, cukup berbeda dengan batik batik di wilayah nusantara lainnya. Akulturasi dengan budaya Tionghoa merupakan salah satu ciri khas yang paling terlihat dari batik Lasem. Maka dari itu, ada motif naga dan motif tiga negeri.

Rumah batik ini bukan sekedar toko saja, bangunannya pun merupakan bangunan klasik. Sehingga para wisatawan bisa menikmati banyak hal di rumah batik ini.

Klenteng unik!

Di area Tiongkok Kecil, saya tertarik mengunjungi Klenteng Gie Yong Bio. Katanya keunikan Klenteng ini terletak pada budaya toleransi yang mendalam. Seperti apa ya kisah sejarah dan toleransi di klenteng ini?

Klenteng Gie Yong Bio adalah satu dari tiga klenteng di Lasem. Yaitu klenteng Cu An Kiong dan klenteng Po An Bio. Sepintas, ketiga klenteng ini mirip dan sama. Tetapi jika kita mengulik dan mendengar ceritanya lebih dalam, tentu akan banyak sekali nilai yang bisa kita dapat. Jadi mulai darimana kita?

Dari arah Masjid Jami Lasem, saya menyusuri jalan “pantura” dengan sepeda onthel. Truk gandeng dan bis besar lalu lalang di jalanan, sibuk dan padat. Tapi, rasanya tentram sekali berkeliling Lasem dengan sepeda onthel tua, menikmati jalan dan gedung antik, sangat nikmat! Kurang lebih 10 menit bersepeda, sampailah saya di pelataran klenteng Gie Yong Bio.

Aroma harum hio (seperti dupa) menyambut, beruntung sore itu cuaca cukup teduh, sambutan hangat dari semesta dan klenteng. Setelah masuk ke area klenteng, saya menyapa penjaga dan meminta izin untuk berkunjung. Penjaga klenteng mengizinkan dan saya pun diperbolehkan masuk ke dalam.

Sebenarnya, bangunan klenteng tidak terlalu besar. Dibanding klenteng klenteng lain yang ikonik di Jawa Tengah, maka klenteng ini tergolong kecil. Halaman dan luas bangunannya sedang, tidak terlalu besar, walaupun halaman depan klenteng cukup luas. Setelah mendapat izin, saya pun membuka alas kaki dan masuk ke dalam klenteng.

Entah mengapa, ketika mulai masuk ke bangunan klenteng, sudut sudut bangunan seakan bercerita. Mulai dari tempat dupa di halaman, patung hanzi (singa) di halaman, sampai lukisan lukisan mural di dinding. Semuanya seakan memiliki cerita dan sedang menceritakan sebuah kisah.

Tempat ibadah ini adalah salah satu yang tertua di Lasem, bahkan daerah pulau Jawa. Klenteng ini dibangun pada tahun 1780, tujuannya untuk beribadah dan menghormati pahlawan Lasem.

Tahun 1740, terjadi perang antara masyarakat Tionghoa Lasem dan VOC. Pertempurannya sangat sengit dan mengerikan, pertempuran itu disebut sebagai Geger Pacinan.

Ada tiga pahlawan Lasem yang berjasa ketika melawan VOC, yaitu Oei Ing Kiat, Tan Kie Wee, dan Raden Pandji Margono. Ketiga pahlawan ini diperingati dan dihormati, ketiganya dibuatkan altar, dan dihormati oleh masyarakat Tionghoa Lasem. Termasuk Raden Pandji Margono, yang notabene merupakan seorang tokoh ningrat Jawa dan beragama Islam. Tetapi, Raden Pandji Margono tetap dibuatkan altar dan altarnya diperlakukan seperti altar lain di klenteng ini. Unikkan?

Nah, ada beberapa hal yang harus diperhatikan jika ingin berkunjung ke Klenteng Gie Yong Bio. Pertama, kita harus menjaga tata krama dan sopan santun saat mengunjungi klenteng. Karena klenteng adalah tempat ibadah yang sakral, seperti masjid, vihara, pura, dan gereja. Kita harus menghormati semua peraturan dan adab disini. Kedua, jika kita berkunjung, mintalah izin kepada pengurus klenteng terlebih dahulu, apalagi jika sedang ada kegiatan ibadah.

Ketiga, jika ingin mengambil foto atau video, minta izinlah kepada pengurus klenteng. Pelajaran Berharga

Lasem bukan hanya mempesona dengan semua budaya dan peninggalannya, tetapi nilai toleransi yang berharga pun sangat mempesona. Ditengah masyarakat kita hari ini yang sedang “krisis toleransi”, maka klenteng Gie Yong Bio mengajarkan banyak hal. Selama ini, saya belum pernah mengerti arti toleransi yang utuh dan dalam. Toleransi dalam konteks beragama hanya saya pahami sebatas menghargai perbedaan dan menghormati kepercayaan orang lain. Ternyata, toleransi bisa memiliki makna yang lebih dalam dan luar biasa filosofis.

Klenteng Gie Yong Bio dan Lasem mengajarkan saya, bahwa toleransi tidak sedangkal “menghargai dan menghormati” saja. Tapi toleransi berarti saling menginspirasi, menjaga, melindungi, dan mengisi. Toleransi dan “bhinneka tunggal Ika” yang kita ucapkan sehari hari terkadang hanya larut dalam level rutinitas dan formalitas saja. Toleransi tidak dipahami sebagai cara pandang. Lasem telah mengajarkan arti utuh toleransi.

Jadi, kapan mau jalan jalan ke Lasem? Yuk kita ke Lasem!

Penulis: Amos Ursia

Editor: Masdharma

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here