Jalan-Jalan: Budi Kasmanto “MENCERAP GETARAN MISI DI PULAU MANSIAM”

0
97

Pada akhir tahun 2017 seorang hamba Tuhan dari Manokwari, Papua Barat, berkunjung ke rumah saya di Kuta Utara, Badung, Bali. Ia mengundang saya untuk berpelayanan bersama di Manokwari pada bulan Februari 2018. Menanggapi undangan tersebut serta-merta hati saya terarah ke Pulau Mansinam, tempat dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Golttlob Gleissler yang pernah menginjakkan kaki di Tanah Papua untuk mengabarkan Cerita tentang Tuhan.

Selama ini, saya hanya mendengar keelokan Pulau Mansinam dari teman-teman hamba Tuhan dan internet. Maka tentu saja saya sangat gembira jika pada tanggal 5 Februari itu akan dapat menyaksikan keindahan Pulau Mansinam bersama ribuan umat Kristiani. Kunjungan kami ini khususnya untuk memperingati 163 tahun masuknya Injil ke Tanah Papua.

Tetapi sayangnya, harapan tersebut kandas karena undangan tak lantas ditindaklanjuti.

Beberapa bulan kemudian rencana kunjungan ke Papua dikonfirmasi. Saya akan hadir dalam peringatan ulang tahun Gereja Baptis Anugerah Indonesia (GBAI) Jemaat Pemulihan di Manokwari, tanggal 27 Mei 2018.

Direncanakan, saya akan berada bersama-sama dengan mereka selama seminggu dan berbicara pada dua acara yakni seminar sehari dan ibadah syukur ulang tahun gereja. Harapan saya untuk bertandang ke Pulau Mansinam kembali mengembang.

Gayung bersambut, di hari pertama, tawaran datang. Jemaat setempat menanyakan kepada saya, barangkali ada tempat di sekitar Manokwari yang ingin saya kunjungi. Tanpa pikir panjang saya mengungkapkan kerinduan saya untuk berkunjung ke Pulau Mansinam. Beberapa kaum pria dari gereja setempat akhirnya bersedia menemani saya ke pulau itu.

Kamis, 24 Mei 2018, kami bersepuluh beranjak ke Mansinam. Setelah sekitar 30 menit perjalanan dari gereja, kami tiba di tempat penyeberangan. Kami cukup membayar Rp 10 ribu per orang untuk sampai di daratan Mansinam dengan menumpang perahu motor, yang mereka sebut “taksi laut”.

Pengalaman pertama menikmati perjalanan laut dengan perahu kecil, kapasitas maksimum 20 orang, sangat menyenangkan. Sensasi percikan hingga semburan air laut terasa begitu menggetarkan hati. Mungkin sensasi itu tidak dirasakan kawan-kawan seperjalanan saya, karena mereka sudah biasa.

Perjalanan laut hanya kami tempuh selama belasan menit. Kami kemudian menjejakkan kaki di pulau bersejarah ini. Saya menyadari bahwa jejak kaki kami mungkin tak ada artinya dibandingkan jejak kaki Ottow dan Geissler yang membawa Kabar Baik ke tanah ini. Saya membayangkan mereka berdua yang datang pada waktu itu, menetap dan mengalami banyak pergumulan melalui berbagai penolakan hingga sakit-penyakit.

Tidak jauh dari tempat kami turun, tampak berdiri kokoh tugu peringatan mendaratnya Ottow dan Geissler. Patung mereka berdiri berjajar menghadap ke arah laut. Ada juga patung mereka yang sedang bersujud syukur dengan sebuah tulisan “Dalam Nama Tuhan Kami Injak Tanah Ini”.

Mencerap getaran misi di pulau eksotis ini, selanjutnya kami menyusuri jalan menanjak ke arah puncak, tempat Monumen Yesus Kristus berdiri. Jarak yang harus kami tempuh sejauh kurang lebih 2 km. Tidak ada mobil, hanya satu dua motor lewat di jalan tersebut. Kadang-kadang ada ojek atau motor yang disewakan.Rasa pegal di kaki akibat berjalan menanjak dan sengatan cahaya matahari siang itu membuat saya lupa menghitung waktu yang kami tempuh.

Yang pasti saya berada di urutan paling belakang saat tiba di pelataran di bawah patung. Angin berhembus membawa udara pegunungan, membuat kami ingin merebahkan badan, tetapi kami ingat bahwa kami datang ke sini bukan untuk tidur-tiduran.

Sebenarnya, inilah bagian penting dari perjalanan kami ke puncak Mansinam. Memperingati usia jemaat kami yang kesebelas, kami mau lebih peka lagi terhadap panggilan Allah.

Di pulau ini pula, kami merefleksikan diri pada sejarah. Bahwa di pulau yang disebut sebagai gerbang peradaban baru bagi Papua ini, getaran kasih Allah harus terus berlanjut.

Di tanah ini juga, kami merenungkan perjuangan para misionaris yang lebih dari 50 tahun lalu telah mendirikan gereja-gereja bagi Kristus.

Melalui berbagai perenungan ini, kami berharap memperoleh semangat baru dalam kehidupan gereja kami. Kami berkomitmen untuk menjadi gereja lokal dengan visi dan misi global.

Semula saya berpikir pergi ke Mansinam sebagai kunjungan pribadi, tetapi ternyata menjadi lebih bermakna karena pergi bersama dalam sebuah tim dari gereja yang rindu untuk lebih peka dan lebih terlibat dalam rencana Allah bagi dunia. Saya bersyukur menikmati pengalaman seindah itu!

Penulis: Budi Kasmanto

Editor: Andry W.P.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here