JADI DIAKON, Pertemanan Pun Mendadak Berjarak Part 1

0
253

“Duh… tiba-tiba saya harus pakai dasi dan selalu duduk di depan. Itu susah. Saya kayak mengekslusifkan diri. Justru kalau (menurut) saya, bagaimana saya harus semakin masuk ke dalam jemaat,” ujar Markus Suliman, anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Jatinegara Jakarta yang baru saja ditahbiskan sebagai diakon.

Sabtu sore itu, 20 Juli 2019 dua diakon baru lain juga resmi melayani di GBI Jatinegara. Yang tak biasa, Markus menjadi diakon di usia sangat muda, 35 tahun.

“Senang sih , tapi kaget juga. Kaget karena teman-teman jadi bersikap kayak sungkan, gitu. Padahal biasa saja. Saya Markus yang tetap Markus, tidak berubah. Cuma tanggung jawabnya yang berbeda sekarang,” ungkap pria berkulit terang ini sesaat setelah menyandang gelar diakon.

Markus sempat mengelak ketika dihubungi gembala sidangnya saat itu (tahun 2018, red .) Pdt. Irwanto Soedibyo, untuk menjadi diakon. Menurutnya, tanpa menjadi diakon pun, Markus tetap melayani di gereja.

Jangan berpikir karena ayahnya diakon di GBI Jatinegara, pianis gereja ini juga lantas bersedia menjadi diakon. Butuh waktu hampir satu tahun untuk menyakinkan diri atas panggilan pelayanan tersebut. Markus mengaku mendoakan panggilan ini, berembuk dengan istri, berkonsultasi dengan beberapa pendeta dan para senior di gereja. Juga beberapa teman sebayanya pun dimintai pendapat.

Selama masa tersebut, Markus sering berpikir bagaimana cara meningkatkan pelayanan sosial bagi jemaat Jatinegara. Sesudah yakin Suliman dan Mayana Halim ini menyanggupi melayani sebagai diakon.

Penahbisan Markus Suliman sebagai diakon

Kepada Kiki dari Suara Baptis ( SB ), Dkn. Markus berpendapat, tantangan besar seorang diakon adalah bagaimana mengubah cara pandang jemaat terhadap jabatan tersebut. “Diakon itu bukan ‘sentral’ tetapi menjadi bagian yang menguatkan jemaat. Bukan pemimpin atau pengatur jemaat tetapi sama-sama anggota jemaat yang bertugas melayani. Ada anggota jemaat dan juga pendeta yang takut dengan diakon. Padahal diakon juga manusia. Ini tantangan, bagaimana mengubah paradigma itu,” tuturnya.

Suami Purnamasari ini bertekad menjadi berkat bagi jemaat GBI Jatinegara. “Bagaimana kalau kita melayani tetapi nggak ada anggota jemaat yang merasa diberkati, ya susah. Itu namanya bukan melayani. Diakon itu melayani, bukan dilayani.”

Penahbisan diakon di GBI Jatinegara berlangsung seperti di gereja Baptis umumnya. Pertama, sesudah para calon diakon menyatakan kesanggupannya melayani, gereja lalu memusyawarahkannya. Begitu gereja setuju, gembala sidang kemudian memberikan pembekalan mengenai lika-liku jabatan diakon. Berikutnya, para calon diakon diwawancarai pejabat-pejabat Badan Pengurus Daerah Gabungan Gereja Baptis Indonesia (BPD GGBI) DKI Jaya – Banten. Sesudah lulus, dilakukanlah pentahbisan diakon yang disaksikan Pengurus BPD GGBI setempat, gembala sidang dan jemaat.

Terdapat jenjang usia yang cukup jauh antara diakon senior dengan diakon muda di GBI Jatinegara. Dari enam diakon, empat di antaranya berusia 70 tahun, dan dua lainnya kurang dari 40 tahun. Bagaimana mereka akan melayani bersama-sama?

“Kita akan masuk dalam pembagian tugas. Saya pikir para senior akan mengarahkan kepada yang muda tentang hal-hal kerohanian atau kepada hal yang prinsip. Memang sih terjadi perbedaan dan terus akan berbeda karena perubahan zaman. Diakon muda akan menolong pelayanan diakon senior di kala mereka tidak bisa masuk kepada kaum milenial,” ungkap Dkn. Markus yang menguasai berbagai alat musik ini.

Diakon usia muda dari GBI Karunia Tuhan Bandar Lampung, Boyke Lim, lain lagi. Ia tidak perlu waktu lama menanggapi panggilan pelayanan sebagai diakon meski sempat tidak yakin dengan kemampuannya. Maka, 1 November 2018 pun Boyke ditahbiskan sebagai diakon di usia 37 tahun, bersama Adi Putranto.

“Awalnya saya nggak yakin apakah saya bisa dan sanggup. Kan pelayanan diakon itu tidak mudah. Diakon akan membantu pelayanan gembala sidang dalam pelayanan meja bagi jemaat yang jumlahnya lebih dari 200 orang. Dan lagi pertimbangannya adalah waktu, keluarga dan juga anak saya kan masih kecil-kecil,” cerita Boyke ketika dihubungi tim SB.

Pria asal Palembang ini mengaku, hidup untuk melayani Tuhan menjadi pendorong maksud pelayanannya.

“Dan mengingat akan visi GBI Karunia Tuhan, yaitu Menjadi Murid yang Mengasihi Tuhan, Mengasihi Sesama, dan Menjangkau Dunia. Untuk gereja dalam mengasihi sesama, dibutuhkan tim diakonia yang akan membantu pelayanan gembala sidang. Jadi, gereja menetapkan perlunya dua orang diakon,” lanjut Boyke.

Dkn. Boyke dan Keluarga | dok. Facebook

Ketika gembala sidangnya, Pdm. Krisna Wahyu Surya bersama tim menghubungi, Boyke dan istri lantas mendokan panggilan pelayanan diakon itu.

“Tidak ada pertentangan dalam hati, justru ada damai sejahtera. Saya menyakini ketika gembala sidang bersama tim mendoakan beberapa nama, termasuk nama saya, itu salah satu pentunjuk. Jadi, kurang dari satu bulan saya menerima panggilan pelayanan diakon tersebut.”

Suami Kartina ini akhirnya ditahbiskan pada 1 November 2018. Apa tantangan sebagai diakon berusia muda?

“Bagi saya, tantangannya adalah bagaimana bisa menjadi diakon seperti dalam 1 Timotius 3:813. Ini menjadi pedoman untuk tetap dalam ‘rel’. Tantangan berikutnya, bagaimana mengambil sikap ketika terjadi perbedaan pendapat dalam jemaat. Kita harus tetap mengasihi dan menjaga kesatuan anggota dalam persekutuan kasih Kristus,” kata Boyke yang juga seorang pengusaha properti.

Baca Part 2 klik Link di bawah ini

JADI DIAKON, Pertemanan Pun Mendadak Berjarak Part 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here