Iuran 10 Persen Demi Ketua BPN

0
155
Wakil gereja se-BPD Jabar mendengarkan sosialisasi dari SC Mubes. (Dok. BPD Jabar)

Iuran 10 persen pemasukan gereja yang harus disetor ke BPN GGBI, masih jadi topik utama Musyawarah Besar. Bedanya, kali ini gereja-gereja lebih antusias memenuhinya, sebab ada wacana mewujudkan Ketua BPN full timer.

Antusiasme itu mengemuka dalam Sosialisasi Musyawarah Besar GGBI 2020 yang diselenggarakan Badan Pengurus Daerah Jawa Barat, Senin (30/9/2019), di aula Sekolah Tinggi Desain Indonesia (STDI), Bandung.

Bahasan bermula dari pernyataan Pdt. Kristianto, Gembala GBI Baitani Sukabumi. Menurutnya, Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga GGBI yang akan disahkan dalam Mubes belum memasukkan kebutuhan Ketua BPN sebagai pekerja penuh waktu. “Harus dipikirkan Ketua BPN full timer, bukan part timer Gembala,” katanya.

Menanggapinya, Pdt. Iwan Simbolon dari GB Pertama Bandung, mengingatkan bahwa wacana Ketua BPN sebagai karir sudah ada sejak Kongres 1995. Kala itu, Pdt. Sentot Sardono terpilih sebagai Ketua BPN. “Gimana kalau sekarang dimulai karirnya—sehingga usia 60 sudah pensiun, dengan syarat Ketua BPN harus dicukupi rumah sampai tunjangan pensiunnya,” ujarnya.

Nampaknya, program tersebut tidak pernah terlaksana akibat kondisi keuangan GGBI yang seringkali defisit. Dalam kesempatan lain, Pdt. Yosia Wartono, Ketua BPN GGBI 2015-2020, menyatakan bahwa persoalan defisit anggaran akan lebih mudah diselesaikan jika seluruh gereja anggota membayar iuran secara rutin. Sampai di sini, rupanya ada persoalan lain dengan kewajiban pembayaran iuran.

Pdt. Raymond Danny memaparkan materi bahasan Mubes 2020.

10 Persen Iuran Wajib
Pdt. Raymond Danny, Gembala Sidang GBI Getsemani Jakarta, yang ditugaskan Steering Committee Mubes 2020 menjadi sosialisator perubahan AD/ART GGBI, mengungkapkan perbedaan iuran “wajib” dan tanpa kata tersebut dalam AD/ART sebelumnya.

Mendengar paparan Pdt. Raymond Danny, Gembala Sidang GBI Bukit Moria Cirebon, Pdt. Mathias Awiono, sempat sangsi akan pembahasan iuran gereja. “Apakah 10 persen iuran—jika ditulis “wajib”—akan menjadi polemik dalam Mubes? Sebab belum semua gereja memberi sejumlah itu,” sahutnya.

Menanggapi pandangan itu, Pdt. Ardi Wiriadinata, Gembala Sidang GB Pertama Bandung yang ditugaskan menjadi sosialisator Visi dan Misi GGBI 2040 oleh Steering Committee Mubes 2020, menyatakan dukungannya terhadap kewajiban tersebut. Menurutnya, jika gereja-gereja anggota dapat membayar iuran 10 persen dari pemasukan gereja, kebutuhan pembiayaan guna mendukung Ketua BPN full timer akan leluasa dicapai. “Sebenarnya yang dulu pun sudah wajib, tetapi dalam AD/ART yang sekarang dipertegas supaya tidak ada ‘abu-abunya’,” jelasnya.

Pdt. Markus Saliman, Gembala Sidang GBI Imanuel Bandung, mendukung pernyataan itu. Menurutnya, GGBI selama ini berbeda dengan denominasi lain. Dia mencontohkan salah satu denominasi yang secara tegas mengeluarkan gereja jika tidak membayar iuran. “Oleh sebab itu, kami di Imanuel selalu memotong pemasukan setiap minggu. Sebab kalau ditunda sebulan, akan terasa berat—seperti halnya seseorang membayar perpuluhan,” paparnya.

Terkait hal itu, Pdt. Joko Budiyanto, Gembala Sidang GBI Bakti Bandung, mengharapkan BPN dapat membuat survei ke gereja-gereja mengenai peningkatan atau penurunan pemasukan gereja setelah memberi iuran. “Ini untuk membuktikan saja, agar gereja-gereja yang belum bisa diyakinkan,” ujarnya.

Pdt. Ardi Wiriadinata menyampaikan Visi-Misi GGBI 2040.

Pembahasan Lain
Kehadiran dua anggota steering committee Mubes 2020 di Musyawarah Daerah BPD Jabar ini juga bertujuan mengajak lebih banyak gereja di Jawa Barat untuk mendaftar dan hadir dalam Mubes di Bogor, 24-27 Maret 2020. Kehadiran ini penting mengingat gereja-gereja sudah bersepakat untuk membangun pelayanan bersama-sama, selain demi melakukan sinergi antara BPN dengan Yayasan-yayasan Baptis.

Gereja di BPD Jabar menyambut nuansa baru dalam musyawarah-musyawarah skala nasional yang diselenggarakan gabungan. “Dulu kita hadir di Kongres dengan agenda masing-masing, tetapi sekarang bersemangat membangun kebersamaan dalam keluarga besar,” kata Pdt. Joko.

Sebanyak 24 orang yang berasal dari 13 utusan gereja induk dan dua utusan gereja cabang se-BPD Jabar menghadiri sosialisasi tersebut. Kegiatan yang dimulai pukul 18.00 itu juga dihadiri Ketua BPD Jabar, Pdt. Hosea Sugiman, Gembala Sidang GBI Cimahi, dan Wakil Ketua BPD Jabar, Pdt. Sean Anwar, Gembala Sidang GBI Efrata Bandung. Pukul 21.00, kegiatan ditutup dengan doa bersama.

 

Reporter: Arseindy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here