IBADAH SUATU PERAYAAN? Bagian III

0
140

Dalam Bab II secara khusus Webber mengupas prinsip pertama ibadah yaitu merayakan Kristus baik secara prinsipal maupun kesaksian pribadinya. Bab III, prinsip  ibadah kedua,  menceritakan dan menyatakan peristiwa Kristus. Itu sebabnya ibadah memfokuskan pada dua hal yaitu Firman Allah (Alkitab sebagai simbol dari Allah yang berbicara) dan Perjamuan Tuhan (roti dan anggur sebagai simbol dari karya Allah untuk menyelamatkan kita) (Webber: 45).

Ada empat tahap ibadah yang disarankan Webber yaitu pembuka ibadah, pewartaan Firman Allah (baik dengan membaca Alkitab maupun melalui khotbah, termasuk respon dan partisipasi dari jemaat), Perjamuan Tuhan (Selalu menjadi puncak ibadah) dan penutup ibadah (Webber: 46-54). Untuk umat Baptis Indonesia pada umumnya menyelanggarakan Perjamuan Tuhan pada waktu-waktu tertentu saja atau tidak pada setiap acara ibadah.

Bab IV, prinsip ibadah ketiga adalah dalam ibadah Tuhan berbicara dan berkarya. Ia menegaskan bahwa hal dasar yang penting dalam suatu ibadah bukanlah apa yang saya (jemaat) lakukan,  tetapi apa yang Tuhan Allah kerjakan dalam ibadah,  Allah hadir, Allah berbicara kepada saya (jemaat), dan Allah berkarya pada saya (jemaat) (Webber: 66).

Bab V, prinsip ibadah yang keempat adalah ibadah adalah suatu aksi komunikasi. Dalam ibadah Allah berkomunikasi dengan manusia. Manusia berkomunikasi dengan Allah dan sesama.  Pengelola ibadah harus mengusahakan keseimbangan dari dua model komunikasi itu sehingga setiap pribadi tergerak untuk beribadah. Perwujudan komunikasi dalam  ibadah melalui penggunaan bacaan silih berganti, pembacaan secara bermain peran, sikap hormat, kagum dengan tunduk kepala atau menengadah dan lain sebagainya.

https://dg.imgix.net

Bab VI, prinsip ibadah yang  kelima yaitu Dalam ibadah kita memberi respon kepada Allah dan sesama. Bentuk respon kita dalam ibadah bisa pujian, doa, pewartaan Firman dan juga meja perjamuan. (Webber: 117).

Bab VII, prinsip ibadah yang keenam yaitu ibadah harus melibatkan semua jemaat. Ibadah bukanlah sebuah monolog antara pemimpin dengan sidang jemaat, tetapi  suatu dialog di antara mereka. Inilah yang menjadi alasan mengapa dalam suatu ibadah setiap anggota jemaat terlibat secara aktif dalam setiap tahapan ibadah (Webber: 136).

Bab VIII dan IX menjelaskan prinsip ibadah yang ketujuh yaitu semua kreasi bergabung dalam ibadah. Webber menekankan bahwa waktu berjalan terus berlalu dan bisa ditelusur ulang ke belakang secara kronologis, namun sebagai orang Kristen haruslah ingat bahwa setiap perjalanan waktu selalu ada waktu-waktu monumental yang merupakan suatu kesempatan berharga yang dianugerahkan oleh Allah kepada kita. Sebagai implikasinya, gereja harus memiliki kalender peribadahan dengan mengikuti pembagian waktu  yang historis untuk mendukung penyelenggaraan ibadah sebagai suatu perayaan.

Bab X, prinsip ibadah kedelapan yaitu hidup sebagai ibadah atau ibadah sebagai gaya hidup. Webber berkeyakinan seperti apa yang telah diamatinya, yaitu apabila suatu ibadah seseorang sungguh-sungguh telah mempersiapkan diri serta dilibatkan dalam  sepanjang peribadahan yang dinikmatinya sebagai suatu peringatan terhadap Kristus, hingga orang tersebut dapat merasakan dan mengalami kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus,maka orang itu bukan saja akan diperbaharui dari hari ke sehari dalam kehidupannya, namun juga akan mempersembahkan hidupnya sebagai ibadah yang sejati kepada Kristus.

Tanggapan Terhadap Buku Ini

Buku ini akan menolong setiap  Gembala Sidang dan khususnya pengelola ibadah. Di samping membuka wawasan dan mendorong memajukan kerja pelayanan sebagai pengelola ibadah, juga akan menanamkan prinsip-prinsip ibadah yang sungguh-sungguh bermanfaat dalam upayanya untuk mengembangkan dan mengelola peribadahan di gereja yang dikelolanya. Terlepas dari setuju atau tidak terhadap keseluruhan prinsip ibadah yang ditawarkan oleh Webber, yang jelas kita harus sepakat bahwa hidup ini adalah ibadah, maka hendaknya kita menjadikan ibadah itu sebagai pusat hidup atau gaya hidup kita.

Ibadah harusnya dirancang untuk menimbukan dialog antara jemaat dengan Tuhan.

Model ibadah yang demikian hanya dapat dilaksanakan apabila pengelola ibadah adalah orang-orang yang terlatih dalam bidang ini atau sebaiknya adalah seorang full-timer di bidang ini.

 

Penulis: Pdt. Yosia Wartono (Ketua BPN GGBI)

Editor  : Juniati

 

 

Daftar Buku Kepustakaan

May Jr., Lynn E.  Foundation of Baptists Heritage.  Famplet.  Nashville USA: The Historical Commision of the Shouthern Baptist Convention.

Millam, Kenneth.  Ibadah dan Musik Dalam Sejarah Gereja dan Perubahan Ibadah Masa Kini.  Semarang: ABGTS Seminar, 1999.

Myers, Warren dan Ruth.  Puji-Pujian: Pintu Menuju Hadirat Tuhan. Bandung: Lembaga Literatur Baptis, 1990.

Newport, John P.   Life’s Ultimate Questions.  Dallas: Word Publishing, 1989.

Smith, E.C.  Perkembangan Gereja-Gereja Baptis.  Edisi Revisi.  Semarang: Sekolah Tinggi Baptis Indonesia, 2009.

Warren, Rick.   Pertumbuhan Gereja Masa Kini. Dit. Gandum Mas.  Malang: Gandum Mas, 1999.

Webber, Robert E.   Worship Is A  Verb.  Nashville USA: Abbott Martyn Publishing, 1992.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here