IBADAH, SUATU PERAYAAN? Bagian II

0
502

Ibadah sebagai perayaan, yaitu Merayakan Kristus

Menurut Warren dan Ruth Myers, “Ibadah adalah memandang Tuhan dengan rasa hormat yang  mendalam, dengan penuh pemujaan, dengan mengagungkan sifat-sifat-Nya yang penuh mulia atau dengan rasa takjub dan kagum. Di dalam ibadah, kita mengucap syukur dan berterimakasih atas segala sifat dan perbuatan Allah yang  ajaib. Demikian juga, kita memuji Allah dan melalui pujian itu, kita mengungkapkan rasa kagum (Warren dan Ruth Myers, 1990:  75).

Webber juga mengatakan bahwa “kita pergi beribadah adalah untuk memuji dan berterimakasih kepada Allah terhadap apa yang sudah  diperbuat-Nya, yang sedang dikerjakan-Nya dan yang akan dilakukan-Nya. Karya Allah dalam Kristus adalah fokus dari ibadah itu  (Webber, 1992:  30).

Seperti yang dikatakan dalam buku “Worship Is A Verb” bahwa ibadah adalah merayakan Kristus, maka Webber menegaskan bahwa “Ibadah itu merupakan pusat hidup bagi setiap orang “(Webber:  204).

Jika orang Kristen berpendapat bahwa ibadah itu pusat hidupnya, maka orang Kristen akan menjalani hidup dalam rangka beribadah artinya hidup ini adalah ibadah. Jikalau setiap saat dan di manapun setiap orang  itu melaksanakan ibadah, tentu setiap orang percaya akan berbuat yang terbaik sebab semuanya untuk dibawa kepada Tuhan Yesus sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan berkenan kepada-Nya (Roma 12:1).

Selain itu, Webber mengetengahkan delapan prinsip dalam ibadah yaitu ibadah adalah merayakan Kristus, ibadah itu memberitakan dan menyatakan kembali kenyataan tentang Kristus, dalam ibadah Allah berbicara dan berbuat, ibadah adalah sebuah interaksi komunikasi, dalam ibadah kita menanggapi Allah dan sesama, ibadah harus dikembalikan kepada umat (setiap umat harus berpartisipasi secara aktif),  dalam ibadah semua kreatifitas seni bergabung, dan yang ke delapan ibadah sebagai cara hidup (Webber hal 16-18).

Kalau kita cermati, maka sesungguhnya Webber ingin mengajak kita untuk mengerti bahwa yang menjadi inti dari ibadah  adalah pemuliaan Kristus. itu sebabnya dia mengatakan bahwa ibadah adalah merayakan Kristus.

Perayaan adalah bagian yang penting dalam kehidupan manusia. Untuk melekatkan setiap peristiwa yang monumentalis dalam sanubari manusia, baik untuk mengingat, memahami makna peristiwa itu, manusia menyelenggarakan suatu perayaan, dengan menggunakan  tulisan-tulisan yang menjelaskan peristiwa yang dulu terjadi (bersifat historis) juga dilengkapi dengann hiasan-hiasan yang menggambarkan, melambangkan maksud tertentu.

Ilustrasi Ibadah IBYC
Ilustrasi Ibadah IBYC

Newport menjelaskan bahwa: ”Worship as the reverent love and allegiance  accorded to God, involves ceremonies and the utilization of art forms. Although Christian groups differ in their practices, such art forms as music, painting, speech (such as sermons),  sculpture, architecture, drama, religious dance, telivision, and radio are utilizd in worship. This means that Christians should be concerned with an appropriate biblical relationship  to the art, culture, and worship” (Newport, 1989:519).

Oleh karena kepentingan suatu perayaan, ibadah pasti tidak bisa meninggalkan penggunaan seni dan karya seni dalam ibadah, termasuk diantaranya adalah musik.

Musik yang anda gunakan menentukan kedudukan gereja anda dalam masyarakat. Musik itu menentukan siapa anda sebenarnya. Setelah anda memutuskan gaya musik yang  anda gunakan dalam kebaktian, anda sudah mengarahkan gereja anda dalam cara-cara yang jauh lebih banyak daripada yang  anda sadari. Musik akan menentukan jenis orang yang akan tertarik, Jenis orang yang anda pertahankan, serta jenis orang yang akan meninggalkan gereja anda” (Rick Warren, 1995:; 287).

Ada orang yang punya pandangan demikian, namun satu hal yang harus diingat adalah bahwa produktifitas para pencipta lagu termasuk lagu-lagu  rohani sering lebih banyak didasari pertimbangan komersial, seperti yang dikatakan Newport: “Many creators of these art forms such movies, television  programs, graphic arts, and studio music are quite skilled and dedicated artists but their “patrons” are commercial interest” (Newport: 520).

Jadi, meskipun perkembangan teknologi yang mendorong gereja mau tidak mau menggunakan juga peralatan eletronik, dan tidak menutup juga adanya pengaruh dari gerakan karismatik (renewal) dalam ibadah, sebagai  orang Baptis jangan sampai kita meninggalkan prinsip-prinsip dasar dan tujuan dari ibadah tersebut.

Dr. Kent Millam mengatakan:  “kebenaran tentang Kristus dirayakan, yaitu riwayat hidup-Nya, lambang  tentang Dia seperti salib dan upacara pembaptisan, upacara perjamuan Tuhan menolong kita untuk memperingati Kristus, pengalaman kita dengan Kristus dibagi-bagikan,hubungan dengan teman seiman dirayakan, dan rela saling memberi dan menerima berkat-berkat Tuhan” (Bahan Kuliah Dr. Millan untuk Mata Kuliah Tata Ibadah Baptis).

Oleh karena itu, pengelola ibadah sebaiknya memperhatikan penggunaan lambang-lambang tertentu yang memperkuat makna, maksud maupun penggunaan upacara-upacara gereja  yang menghubungkan setiap orang percaya dengan Kristus. Yang bersifat informal untuk menonjolkan persekutuan juga perlu mempertimbangkan supaya hubungan antar anggota jemaat semakin dikokohkan, seperti misalnya model acara perjamuan kasih.

Selain itu, pengelola ibadah gereja perlu mempertimbangkan setiap ibadah mampu mempertemukan umat dengan Tuhan Yesus bukan hanya untuk masa ini, tetapi untuk kehidupan Yesus selama  di dunia, kematian, kebangkitan dan janji penyertaan serta kedatangan-Nya yang kedua. Supaya setiap anggota jemaat yang beribadah memiliki persekutuan pribadi dengan Yesus sehingga terjadi pembaharuan di dalam kehidupannya, seperti kesaksian Webber: “Ibadah menghubungkan saya dengan masa lampau, memberi makna untuk masa depan sebagaimana  jiwa dan roh saya dipersatukan sekali lagi dalam drama kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus” (Webber: 23).

Webber menegaskan tujuan dari ibadah bukan untuk membuktikan bahwa Kristus itu dirayakan, tetapi untuk membawa orang-orang yang beribadah berharmoni dengan pendamaian Allah melalui Kristus bahwa kematian dan kebangkitan-Nya menjadi sebuah pengalaman hidup. Memberitakan kehidupan, kematian dan kebangkitan Kristus melalui perayaan dalam ibadah  yang selalu membuat peristiwa-peristiwa itu nyata di sini dan saat ini (Webber: 25).

Ibadah sebagai perayaan terhadap Kristus yang membawa umat menikmati realitas Kristus dalam hidupnya, akan meningkatkan kecintaan umat terhadap ibadah, seperti apa yang disaksikan oleh Webber: “Sejak saya mengerti bahwa ibadah ialah perayaan kehidupan, kematian, dan kebangkitan Kristus,maka sikap saya terhadap ibadah telah berubah. Saya suka beribadah dan mengalami terus-menerus realita Kristus. Ibadah ialah satu perayaan yang menunjukkan kebenaran yang sedang membentuk seluruh kehidupan  saya dan merupakan unsur utama dalam pertumbuhan kehidupan rohani saya” (Webber: 27).

Penulis: Pdt. Yosia Wartono (Ketua BPN GGBI)

Editor  : Juniati

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here