“IBADAH SUATU PERAYAAN?” Bagian I

0
412

IBADAH menjadi topik pembicaraan yang hangat selama dua puluh tahun terakhir ini, termasuk di kalangan umat Baptis Indonesia. Berbagai macam pertanyaan muncul, seperti apa bentuk ibadah yang seharusnya? Jenis musik apa saja yang boleh masuk dalam ibadah Baptis? Situasinya harus seperti apa? Dan banyak pertanyaan lainnya. Bahkan sejauh ini Baptis Indonesia jarang atau bahkan tidak pernah mengangkat “model ibadah” sebagai satu topik seminar atau lokakarya.

Melalui tulisan ini, kita akan melihat sedikit gambaran mengenai prinsip-prinsip ibadah umat Baptis yang akan membuka kembali wawasan kita tentang ibadah ditinjau dari buku “Worship Is A Verb” tulisan Robert E. Webber.

Prinsip-prinsip Ibadah Umat Baptis

Sepanjang sejarah permulaan baptis, ibadah Baptis menerapkan tiga  prinsip yaitu ibadah harus sederhana, rohani dan Alkitabiah. Lynn E. May menjelaskan hal itu “Undoubtedly, the first principle for Baptist regarding congregational worship  was that it had to be scriptural.  But from Scripture, Baptists derived two additional principles. Worship also had to be spiritual, open to the movement of the spirit. And scriptural worship would also be simple (Lynn, t.th. : 1)”.

www.worshipmd.com

Dari prinsip tersebut, tujuan utama ibadah Baptis adalah  supaya setiap anggota gereja menikmati persekutuan yang indah dengan Tuhan Yesus Kristus maupun dengan saudara seiman.

Senada dengan itu,  Smith juga menekankan hal tersebut, “kesederhanaan dan sifat tidak formal pada umumnya merupakan sifat kebaktian gereja-gereja Baptis. Meskipun berusaha menciptakan keindahan dan kemanfaatan bagi yang bersekutu dalam kebaktian, orang Baptis tidak condong kepada pemakaian liturgi yang sukar atau urutan-urutan upacara yang tetap.  Kebaktian hanya suatu  alat untuk membantu perjumpaan dan tidak merupakan suatu jaminan akan terjadinya. Orang-orang Baptis menyadari bahwa kebaktian yang benar dapat terjadi dalam kebaktian yang berbelit-belit juga. Tetapi mereka merasa bahwa dalam suasana sederhana dan tidak resmilah lebih mungkin tercipta rasa ikut mengalami persekutuan dengan Allah dan persekutuan antar yang menghadiri kebaktian” (Smith, t.th:   15).

Prinsip ibadah sederhana bertujuan supaya baik yang aktif maupun pasif dapat mengikuti dan menikmati keseluruhan acara ibadah. Sehingga setiap anggota gereja, dapat berpartisipasi dalam ibadah  tersebut.  Prinsip rohani, bertujuan supaya melalui ibadah setiap anggota gereja secara pribadi dapat menikmati persekutuan dan berkomunikasi hangat dengan Tuhan Yesus melalui pimpinan Roh Kudus. Sementara Prinsip Alkitabiah, bertujuan supaya setiap susunan atau acara ibadah dirancang dan  dikembangkan berdasarkan pada terang Firman Allah.

Dari prinsip di atas, menunjukkan bahwa ibadah di gereja Baptis tidak terpaku pada satu liturgi tertentu, atau disebut non-liturgis. Ibadah di gereja Baptis seharusnya variatif karena tidak terpaku pada satu liturgi dan mementingkan fleksibilitas dengan catatan bahwa umat dapat menerima dan mengikutinya. Jikalau ada kelompok orang mengatakan bahwa ibadah di Gereja Baptis Indonesia sekarang: kuno, ketinggalan dan usang, maka yang perlu dipertanyakan adalah apakah kelompok tersebut mengerti prinsip dasar tatanan ibadah umat Baptis sejak permulaannya?

worship.celebration.org

Ketiga prinsip diatas, ditekankan dalam kehidupan ibadah umat Baptis abad XVI sampai  XVIII (dari abad 16 sampai dengan abad 18). Melihat perkembangan ibadah umat Baptis di era modern ini, Lynn menegaskan bahwa ibadah umat Baptis menambah tiga prinsip yang lain yaitu : “As modern Baptists consider their foundations in the congregational worship, they can be warned, inspired and assured. They can be warned that their worship can be shaped as much as their environment as by their theology. They can be inspired needs. They can be assured that their theology and practice of worship will affect those who come after them” (ibid).

Baik prinsip-prinsip ibadah yang digunakan umat baptis pada mulanya maupun pada  era modern tidak menggambarkan bahwa ibadah umat Baptis adalah ibadah yang mati atau monoton. Ibadah umat Baptis merupakan bagian penting yang harus dikelola oleh gereja dengan sungguh-sungguh, kreatif dan inovatif agar memberi sebanyak mungkin pengaruh dan berkat bagi setiap orang yang beribadah.

Penulis: Pdt. Yosia Wartono

Editor: Juniati

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here