Guru Sekolah Minggu Miniatur Gembala Sidang

0
268

Sebuah kelas Sekolah Minggu (SM) adalah miniatur jemaat dan gurunya adalah miniatur  gembala sidang, demikian ungkap editor buku The Six Core Values of Sunday School, Prisetyadi Teguh Wibowo di depan peserta bedah buku di Sekolah Tinggi Teologi (STT) Baptis Bandung, Jumat 7 Februari 2020.

“Jika sebuah gereja ingin bertumbuh, maka gembala sidang harus melakukan hal-hal tertentu untuk membuatnya bertumbuh. Misalnya, secara aktif menjangkau yang tidak bergereja, mengabarkan Firman Tuhan, mengatur gereja untuk pelayanan, mencari dan melengkapi pemimpin, dan lain-lain. Demikian juga, untuk membuat kelas bertumbuh, guru harus memimpin kelompok untuk menjangkau orang, membagikan Firman Tuhan, mengatur kelas untuk pelayanan, mengembangkan pemimpin baru, dan lain-lain,” lanjut Prisetyadi mengutip buku tulisan Allan Taylor, Direktur SM & Pelayanan Pendidikan Kristen di LifeWay Christian Resources yang diterbitkan Lembaga Literatur Baptis (LLB) tersebut. Buku ini diterjemahkan Erika Rotani, anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Grogol Jakarta. Erika sendiri mengundurkan diri dari kursi manajer senior sebuah perusahaan di Jakarta untuk studi tentang SM di sebuah STT di Singapura.

Bedah buku berlangsung selama hampir tiga jam, terdiri dari dua sesi pemaparan plus tanya jawab di setiap sesi. Acara ini dihadiri para dosen dan mahasiswa STTBB, juga beberapa pendeta dan aktivis gereja Baptis di Bandung.

Prisetyadi menjelaskan tiga tugas utama SM yakni menjangkau orang yang belum bergereja, mengajarkan Firman Tuhan dan melayani kebutuhan orang-orang di sekitarnya. Ia juga mengungkapkan isi buku The Six Core Values yang memberikan saran praktis dalam merekrut guru-guru SM dan kriterianya.

Mendengar pemaparan SM yang melakukan tugas-tugas seperti halnya gereja dalam melaksanakan Amanat Agung Kristus tersebut, Pj. Ketua STT Baptis Bandung Pdt. Joko Budiyanto menanyakan, apakah dengan demikian tidak diperlukan lagi organisasi-organisasi seperti pria Baptis, wanita Baptis dan sebagainya dalam gereja.

Prisetyadi menjelaskan, semua itu tergantung pilihan gereja setempat. “Namun memperkuat Sekolah Minggu bukan berarti menghapus organisasi dalam gereja atau kelompok kecil lainnya. Justru tugas SM dalam melaksanakan Amanat Agung dapat dipraktikkan melalui organisasi-organisasi tersebut,” jawabnya.

Beberapa pertanyaan dan tanggapan lain pun sempat dilontarkan.

Ketua Senat STT Baptis Bandung, Nambo mengatakan, “Meski baru pertama kali saya mengikuti seminar ini, namun saya merasa terberkati. Menyangkut pendidikan karakter guru, sebagai hamba Tuhan. Saya pribadi juga masih akan mendalami buku itu. Secara garis besar ini memang salah satu strategi untuk membangun gereja, dengan adanya Sekolah Minggu yang berkualitas.”

Sementara Pembantu Ketua Bidang Keuangan Yanto Soetiyanto mengatakan, bedah buku ini perwujudan dari kerja sama nyata STT Baptis Bandung dengan LLB. Beberapa bulan sebelumnya, Yanto memang telah membicarakan pengadaan acara ini dengan Prisetyadi. Yanto juga mengatakan, kerja sama kedua lembaga Baptis tersebut akan dilanjutkan dengan kegiatan-kegiatan lainnya.

“STT Baptis Bandung juga perlu mengadakan kerja sama dengan LLB dalam pelatihan jurnalistik,” ujar Yanto.

Sebelum acara ditutup, Pemimpin Redaksi SM LLB Elisa Dwi Prasetya mendorong mahasiswa untuk memikirkan pelayanan SM. Ia mendorong supaya mereka mencoba menulis pelajaran SM sehingga mungkin bisa direkrut LLB untuk mengisi bidang tersebut.

Besok paginya, Sabtu 8 Februari 2020, Prisetyadi juga membedah buku tersebut dalam retret guru SM GBI Golden Boulevard dan GBI Cisauk, Tangerang, Banten. Acara dilakukan di Rumah Doa Bukit Tabor di Kota Bunga, Puncak. Dalam bedah buku tersebut, sejumlah peserta mengakui betapa pentingnya pelayanan SM, namun sulit sekali mendapatkan guru yang rela melayani sepenuh hati.

Menjawab pertanyaan tersebut, Prisetyadi mengatakan, kuncinya ada pada gembala sidang untuk memotivasi para guru dan calon-calon guru SM. Selain itu, panitia perancang gereja juga sangat menentukan dengan membuat program-program gereja yang mendukung penguatan SM beserta guru-gurunya.

Dan kepada seorang guru SM yang menanyakan cara praktis untuk dapat memperbaiki SM di gerejanya, Prisetyadi menjawab, “Caranya, dengan mempelajari buku ini bersama gembala sidang dan panitia perancang, lalu cobalah terapkan saran-saran praktis di dalamnya. Jangan takut untuk mencoba, karena semuanya perlu proses.”

Penulis: Tiara Gustiani

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here