Gerejaku – GBI SINAR KASIH BENGKULU

0
235

Mengutamakan penginjilan bukan berarti tidak memberikan sentuhan kekeluargaan yang erat antarjemaatnya. Justru kekeluargaan itulah yang patut dikembangkan untuk memaksimalkan pelayanan serta kesatuan jemaat. Konsep inilah yang dipegang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Sinar Kasih, Bengkulu.

Sesudah Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) dibangun, karyawan yang mayoritas umat Kristen memiliki kerinduan untuk bersekutu. Dengan pertimbangan serta kuatnya untuk bersekutu, tepat pada 1989 didirikanlah GBI Sinar Kasih.

Perkembangan gereja ini tak lepas dari pelayanan gigih para perintis yang terlibat di dalamnya. Mereka adalah Ron Baker, Sutadji, Sumiyati, Suparman, Simanjuntak, dan Tambunan.

Berawal dari kehadiran kebaktian hanya lima-enam jiwa, orang yang datang dan lalu bergabung pun bertambah. Saat itu, kepanitiaan berinisiatif membeli rumah warga yang telah ditinggal pemiliknya ke Jawa. Rumah itulah yang menjadi cikal bakal gedung GBI Sinar Kasih saat ini.

Mulai pertengahan tahun 1989 sampai 1992, terjadi kenaikan jumlah anggota jemaat secara bermakna. Karena itu, akhirnya dibangunlah tenda untuk menampung jemaat saat beribadah Minggu. Semenjak saat itu kegiatan ibadah Minggu berjalan secara rutin.
Bersama Ron Baker, tenaga ahli LPPB, sekitar tahun 1992 atau 1993, dibangunlah pondok pertemuan di atas bukit, di rumah yang dibeli jemaat. Kini pondok pertemuan terdebut telah menjadi gedung gereja.

Hamba Tuhan pertama yang menggembalakan gereja ini adalah Sutadji. Pria lulusan Seminari Teologia Baptis Indonesia (kini Sekolah Tinggi Teologia Baptis Indonesia/STBI) Semarang tersebut menjalankan pelayanan penggembalaan seraya melayani sebagai staf LPPB. Sesudah Sutadji, datangah Pdt. Ermanu Siswoyo Handoko untuk meneruskan pelayanan penggembalaan.

GBI Sinar Kasih kala itu merupakan jemaat cabang dari GBI Ebenhaezer Jakarta. GBI Sinar Kasih terus bertumbuh hingga akhirnya menjadi gereja mandiri dan menjadi anggota Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) dalam kongres ke-6, tanggal 3 – 7 April 1995.
Di tengah-tengah perjalanan, muncullah situasi yang kurang mendukung. Terjadi penolakan masyarakat terhadap kegiatan ibadah tiap Minggu. Namun walaupun banyak gangguan, jemaat terus berdoa. Jemaat berharap, dengan adanya gereja, masyarakat sekitar dapat mendengar kebenaran.

Penolakan dan hambatan mewarnai perjuangan dalam mendirikan gereja. Bermula dari datangnya surat kaleng yang mengintimidasi hingga kotoran yang diletakkan tepat di depan pintu rumah ibadah. Meski begitu, jemaat terus mendoakan masyarakat sekelilingnya yang belum percaya.

Pertumbuhan yang terus terjadi menyebabkan kekurangan ruangan untuk beribadah. Salah satu perintis yang merupakan kepala sekolah sebuah sekolah dasar, meminta izin kepada masyarakat untuk melaksanakan ibadah Minggu. Hasilnya, jemaat pun mendapatkan izin untuk melakukan ibadah setiap hari Minggu.

Hingga saat ini masyarakat menerima keberadaan GBI Sinar Kasih. Kegiatan-kegiatan gereja selain ibadah Minggu pun dapat dilakukan dengan aman.

Soal jemaat yang terus mendoakan masyarakat sekelilingnya ketika dulu menghadapi penolakan itu rupanya melahirkan gagasan penamaan gereja yang terletak di atas bukit ini.
“Karena gereja kita ada di puncak (bukit), dan karena gereja kita membawa terang, jadi filosofinya menyinari (dengan kasih), begitu. Jadi, (akhirnya dinamakan) Sinar Kasih,” ungkap Gembala Sidang GBI Sinar Kasih, Manaris Tambunan kepada Yohanes Aris Santoso dari Suara Baptis (SB), Senin 30 Maret 2020.

“Karena gereja kita memang diikat berdasarkan kasih ya, itu jadi ‘Sinar Kasih’. Sampai sekarang kan begitu?” lanjutnya pria kelahiran Kabupaten Tapanuli Utara ini.
Gencarnya penjangkauan dan penginjilan membuat pertumbuhan jemaat naik, baik dari segi kerohanian maupun jumlahnya. Berkat GBI Sinar Kasih, sudah banyak masyarakat di Bengkulu yang telah mendengar berita tentang Yesus. Tak luput juga, ada yang kemudian percaya Yesus Kristus.

Seiring berjalannya waktu, keanggotaan GBI Sinar Kasih terus bertambah. Saat ini kurang lebih terdapat 150 anggota jemaat. Gereja ini juga memiliki 1 Balai Pembinaan Warga (BPW) di Kecamatan Pagar Jati, Kabupaten Bengkulu Tengah dan 1 Pos Pengabaran Injil (PI) di Sukaraja, Kabupaten Seluma.

Meski tidak bergelar pendeta, M. Tambunan tetap menjawab panggilan menjadi gembala sidang. Jemaat yang mempercayainya untuk memimpin, membuktikan bahwa visi misi gereja yang dipimpin M. Tambunan, membentuk kecocokan hubungan yang sangat kuat. Misalnya, jemaat dan gembala sidangnya sama-sama terpanggil untuk melayani dan menjangkau orang-orang yang belum percaya, memanggil mereka dari gelap ke terang.
Gereja ini memiliki daya tarik yang berbeda dengan gereja lainnya. Pada dasarnya kebanyakan anggota jemaat sudah memiliki pengalaman tersendiri dengan Tuhan. Banyak di antara anggota jemaat mengalami perubahan melalui pekerjaan Roh Kudus sehingga dapat bersabar dan rela memahami orang lain.

Tak mengherankan bila gereja ini menjadi sebuah keluarga besar. Berkali-kali SB mendapati, bagaimana hubungan antaranggota gereja berlangsung begitu kuat. Perasaan kekeluargaan tersebut terlihat jelas dalam obrolan di antara mereka dan kesediaan untuk saling bantu dan mengasihi.

Kesan tersebut dibenarkan sang gembala sidang. M. Tambunan menjelaskan, ketika seorang anak anggota jemaat sedang bermasalah, maka anggota jemaat dewasa lainnya akan merangkulnya.

“Karena (anggota jemaat tersebut) merasa, itu merupakan anaknya juga. Dan (anggota yang bermasalah pun) beranggapan, orang tua di gereja itu sudah seperti orang tua kandung sendiri,” ungkap M. Tambunan.

Prinsip yang selalu dipegang jemaat adalah selalu untuk saling memaafkan satu sama lain, saling mengasihi, saling melengkapi, saling mengingatkan. Itu sebabnya, gereja ini memiliki hal yang unik, yakni hubungan batin yang sangat kuat antarjemaatnya. Begitu kuatnya hubungan tersebut, sebagian anggota mengaku, melebihi hubungan batin dari saudara kandung. Mulai dari orang tua sampai anak-anak, mereka menganggap semua yang ada di gereja adalah anak dan orang tuanya.

Penulis sendiri yang memang berangkat dari GBI Sinar Kasih, merasakan betapa kuatnya rasa kekeluargaan jemaat ini. Setiap kali penulis pulang dari kuliah di Yogyakarta (2015 – 2019) keluarga-keluarga jemaat selalu menyambut dengan ramah. Tak tanggung-tanggung, mereka bahkan mendesak supaya penulis menginap atau mengajak makan di rumah mereka, juga untuk sekadar berbagi cerita.

“Yang paling seru itu, kalau sudah main ke rumah anggota jemaat, kalau lapar, tinggal bilang saja ‘Budhe (Jawa: bibi) masak apa?’ Kalau di tempat lain, hal seperti itu pastinya jarang sekali,” lanjut seorang anggota jemaat.

Di GBI Sinar Kasih, sikap sebuah keluarga besar yang sesungguhnya, sudah terbangun sejak puluhan tahun lalu. Adalah lumrah jika anak seorang anggota gereja bermain ke rumah anggota gereja lainnya lalu makan dan menginap di sana. Tentu saja, semua itu seizin orang tua anak tersebut.

Bagi anggota gereja yang menerima anak anggota gereja lain menginap, mereka pun akan memperlakukuannya seperti anak sendiri. Tidak muncul kecanggungan hubungan satu sama lain.

Bahkan saking eratya hubungan tersebut, tak sedikit anak-anak yang berada di perantauan rindu untuk kembali ke rumah. Mereka rindu akan suasana dan lingkungan yang beragam watak namun hangat.

Namun gereja ini tak melupakan tugas dari Tuhan Yesus Kristus supaya menjangkau semua orang. Tambunan menjelaskan, “Gereja memang hadir terpanggil untuk melayani, untuk menjangkau, karena Yesus datang untuk itu juga. Jadi, sebab itu gereja harus memiliki tujuan untuk menjangkau, untuk menjadi terang, untuk membawa (dan) memberitakan Firman Tuhan. Itu yang terutama. Sehingga visi gereja berada dalam visi Yesus itu, karena Dia datang untuk mencari orang-orang yang berdosa, menyelamatkan supaya tidak ada yang binasa, kan ?” tutur ayah dari tiga anak ini.

Selaras dengan visi dan tujuan gereja, jemaat Sinar Kasih selalu melakukan penginjilan setiap kali bertemu orang baru. Biasanya mereka menggunakan metode pemberitaan Kabar Baik yang sederhana namun cukup berhasil di Bengkulu. Tak sedikit orang yang menerima Tuhan Yesus melalui metode ini.

Setiap Sabtu awal bulan, GBI Sinar Kasih selalu melakukan evaluasi dari pemberitaan Kabar Baik yang dilakukan. Ketika Pemimpin Redaksi SB Prisetyadi Teguh Wibowo berkunjung Sabtu 7 Maret 2020 lalu, ia pun menyaksikan bagaimana evaluasi pemberitaan Kabar Baik tersebut dilakukan dalam suasana hangat dan diakhiri dengan makan malam. Beberapa kekurangan dan hambatan diakui terjadi. Meski begitu, cara ketua tim yang juga Direktur Lembaga Pengembangan Pertanian Baptis (LPPB) Rachmadi Johan Setiawan mengevaluasi, dilakukan dalam semangat kasih dan kekeluargaan. Alhasil, tak terjadi ketegangan dalam rapat evaluasi tersebut.

Tumper Hermanto, salah satu perintis GBI Sinar Kasih berpesan, “Sinar Kasih itu tidak cukup (hanya) berkumpul (serta) bergereja, tetapi kita rindu untuk ada hubungan yang pribadi dengan Tuhan, dan kita bertumbuh secara maksimal secara rohani. Serta kita tangkap visi Allah dan banyak orang semakin bertumbuh dan mengerti visi Allah, melakukan Amanat Agung. Itu yang sangat penting.”

Penulis : Yohanes Aris Santoso
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here