Gerejaku: GBI Banaran, Surakarta Rumah Kedua Bagi Anggotanya

0
308

Bukan perkara mudah mengelola gereja yang sudah dimulai 57 tahun lalu dan mandiri hampir 43 tahun. Apalagi dengan adanya beragam kegiatan dari anak-anak sampai lanjut usia, Pusat Pengembangan Anak (PPA) dan Lembaga Pendidikan (Taman Kanak-kanak/TK). Ya, itulah yang terjadi di Gereja Baptis Indonesia (GBI) Banaran di Jl. Arjuna No. 8 Surakarta, Jawa Tengah ini. GBI Banaran ini terus bertumbuh dengan baik. Sampai akhir tahun 2019 tercatat anggotanya berjumlah 709 jiwa. Belum termasuk anak-anak Sekolah Minggu dan PPA.

GBI Banaran memiliki sejarah panjang, dimulai dengan kebaktian rumah tangga pada 7 Juni 1963 di Hendrik Pauran. Kebaktian ini dipimpin Pdt. Warison Samosir, Gembala Sidang GBI Penumping, Surakarta.

Tahun 1967 jemaat perintisan ini resmi menyandang nama GBI Penumping Cabang Arimathea, digembalakan Pdt. R.H. Soetikno dari gereja induk, dibantu misionaris Baptis Pdt. Rojes, dilanjutkan Pdt. Penell dan Pdt. Ellison. Pada 8 Desember 1967 gereja cabang ini menempati gedung pemberian Misi Baptis di Jl. Pondongan RT 08 RW VI. Lalu 6 September 1977 gereja ini dimandirikan dengan nama Gereja Baptis Indonesia (GBI) Banaran.

Gereja ini pernah digembalakan Pdt. Yokhanan Suripto (1968 – 1970), Pdt. Sisdono (1970 – 1977), Pdt. Zakheus Slamet (1979 – 1980), Pdt. Markus Saliman Wangsa (1981 – 1996), Pdt. David Djumirin (1996 – 2015) dan Pdm. Daniel Edho (2014-sekarang).

Tuhan memberkati pelayanan GBI Banaran dengan pertambahan jiwa-jiwa baru yang luar biasa banyak selama pelayanan selanjutnya. Salah satunya ketika dilayani Pdt. Markus Saliman Wangsa yang sekarang menggembalakan GBI Immanuel Bandung. Selama sekitar 15 tahun Pdt. Markus melayani di Banaran, gedung gereja berpindah ke tempat yang sekarang. Gedung ini menempati lahan seluas kurang lebih 1.000 meter persegi. Pada 6 Maret 1988 dibangunlah gedung dua lantai dan mulai dipakai setelah diresmikan pada 18 September 1990.

Sebagai gereja yang sudah cukup lama berdiri dan jumlah jemaat yang banyak, GBI Banaran juga telah berhasil mendewasakan beberapa gereja di sekitar Kota Solo, diantaranya GBI Cawas (Klaten), GBI Karangnongko (Klaten), GBI Gajahan dan GBI Papringan Boyolali. Kini dengan enam gereja cabang (termasuk Tempat Pembinaan Warga/TPW) dan 14 Kelompok Pembinaan Warga (KPW), tidak lantas membuat jemaat berhenti mengembangkan dirinya. Pelayanan penjangkauan yang masih terbuka lebar akan dimanfaatkan untuk menambah jumlah anggota jemaat.

GBI Banaran memiliki kegiatan beragam yang diharapkan mampu meningkatkan kualitas rohani jemaat, yang tentu akan berdampak kepada peningkatan jumlah anggota. Sebagai gembala, Pdm. Edho memiliki kerinduan dan visi yang cukup besar untuk memajukan pelayanan GBI Banaran. “Visi saya adalah gereja yang ber-amanat agung, menjangkau sebanyak Tuhan mau dan memelihara sebanyak yang Tuhan percayakan,” tuturnya kepada kontributor Suara Baptis (SB) Pdt. Aryanto Budiono.

Pdm. Edho sadar, dirinya yang masih muda dan belum menikah menyebabkan pelayanan seringkali menjadi tidak maksimal. Meskipun demikian, SB melihat pola penggembalaannya sangat khas. Pdm. Edho rajin mengunjungi anggota jemaat dan menghafal nama mereka. Menarik sekali ketika Pdm. Edho menyalami 300-an anggota jemaat selepas ibadah dengan menyebut nama mereka secara pribadi, bahkan nama lengkapnya! Daya ingat gembala berusia muda ini memang luar biasa.

GBI Banaran memiliki beberapa gereja cabang yang digembalakan hamba-hamba Tuhan yang di antaranya jauh lebih senior dari pada gembala sidang gereja induk. Misalnya TPW Windan/Gumpang (Pdt. Em. Petrus Suwarsono), TPW Manang (Pdt. Em. St. Sugito) TPW Bengking (Sudaryadi), TPW Randusari (Catur Wisuda), TPW Tempel (Pdm. Sugeng Mulyanto), dan TPW Filipi Kalasan (Darius A). Para hamba Tuhan ini mengadakan pertemuan sebulan sekali untuk berbagi pergumulan pelayanan dan berdoa bersama gembala gereja induk. Hal ini tentu saja menjadikan pelayanan semakin kuat karena ada kesehatian para hamba Tuhannya.

Selain dukungan para hamba Tuhan senior, GBI Banaran memiliki pola sederhana dalam pembuatan program dan hal-hal yang berkaitan dengan rapat. Pdm. Edho menuturkan, rapat urusan gereja (RUG) hanya diadakan setahun sekali untuk mengesahkan program dan anggaran. “Biasanya bulan Januari adalah penyampaian visi misi pelayanan gembala sidang. Lalu pada bulan Februari setiap seksi akan membuat program dan anggaran. Selanjutnya bulan Maret akan dibahas dan disahkan dalam rapat perancang. Sebelum Maret berakhir, gereja mengundang para pemimpin KPW untuk mensosialisasikan program dan kegiatan tersebut. Lalu para pemimpin di 14 KPW yang kami punya akan membahasnya. Jika ada masukan dan revisi, akan disampaikan di rapat perancang. Minggu pertama di bulan April, RUG-nya hanya pengesahan saja. Jadi, dalam RUG sudah tidak ada pembicaraan lagi.”

Kehidupan bergereja GBI Banaran tidak pernah berhenti. Kegiatan PPA terjadi hampir setiap hari, membuat gereja ini serasa rumah kedua bagi anggotanya. “Gereja adalah rumah kedua bagi saya secara fisik. Saya nyaman dan betah dengan kegiatan-kegiatan yang saya ikuti. Ada banyak hal yang saya terima sejak kecil, yang diturunkan juga oleh kakak-kakak rohani. Jadi regenerasi di gereja ini berjalan cukup baik,” ujar Lilik, sekretaris gereja yang sejak kecil bergereja di Banaran. Rupanya, pengakuan ini mewakili suara banyak anggota gereja lainnya.

Kesehatian dan kedewasaan GBI Banaran nampak nyata dalam menghargai gembala-gembala yang melayaninya. Misalnya, jemaat sangat memperhatikan dan menghargai Pdm. Edho. Ini karena sadar, Tuhanlah yang memilihnya untuk menggembalakan GBI Banaran.

Meski demikian Pdm. Edho menyadari keterbatasannya. “Memang saya bisa melakukan semua hal di gereja ini dan menanganinya, namun semua yang saya tangani (sendirian) tidak bisa maksimal. Dukungan jemaat dan panitia perancang sangat saya perlukan. Karena itu kami sekarang sedang mendoakan untuk memiliki asisten pendeta bidang pemuda dan Sekolah Minggu, supaya pelayanan bisa fokus dan maksimal.”

Kedewasaan jemaat menyebabkan semua kegiatan gereja bisa berjalan dengan baik, seperti Sekolah Minggu, persekutuan pria, persekutuan wanita, persekutuan kaum muda, hingga persekutuan lanjut usia. Semetara itu kelompok penjangkauan melalui KPW merupakan kekuatan tersendiri untuk mengembangkan GBI Banaran.

Kebiasaan kaum muda dan remaja berkumpul di gereja menambah potensi untuk berkembang. Setidaknya jemaat merasa bahwa gereja menjadi tempat untuk bertumbuh serta membangun komunitas yang positif.

Kris Henry, ketua pemuda menuturkan, ada ada banyak pemuda dan remaja di GBI Banaran. Mereka cukup baik mengikuti ibadah hari Minggu, namun akhir-akhir ini kurang bersemangat dalam persekutuan. Ia menduga, padatnya kegiatan sekolah menjadi penyebab.

“Saya ingin GBI Banaran terus bertumbuh baik jumlah maupun rohani jemaat. Pemuda sebagai masa depan gereja harus terlayani dengan baik sehingga mereka tidak ikut kehidupan yang negatif dan dijaga supaya tetap setia di gereja (tidak pindah gereja),” katanya.

Kris juga berharap, ada pembina kaum muda yang dapat melakukan acara-acara sesuai dengan jiwa dan kebutuhan mereka. Salah satunya, membina persekutuan-persekutuan kecil kaum muda. “Komsel atau KPW (kelompok pembinaan warga) pemuda mungkin akan bisa menolong mereka bertumbuh secara rohani dan terpelihara imannya. Selain itu juga bisa saling sharing (berbagi beban) dengan teman-temannya.”

Selain itu, keberadaan PPA dan TK Baptis memungkinkan penjangkauan yang lebih luas. Sekitar 150 anak di PPA merupakan ladang pelayanan Injil yang bisa digarap dengan baik, juga orang tua dan anggota keluarga mereka yang belum bergereja. Demikian juga TK Baptis yang memiliki 25-an murid merupakan sarana yang ampuh untuk penjangkauan.

Nunuk yang hampir setiap hari ada di gereja pekerja, menuturkan, “Saya rasa GBI Banaran salah satu gereja yang cukup aktif dalam kegiatannya, ya. Kegiatan di gereja kami menjangkau semua usia dari balita (usia bawah lima tahun) sampai lansia (lanjut usia). Bahkan kami melihat lansia di Banaran sangat antusias mengikuti beragam kegiatan seperti senam bersama, juga Paduan Suara Adiyuswo (Usia Indah) yang tampil sebulan sekali dalam ibadah pagi maupun sore. Mereka sangat bersemangat mengikuti kegiatan yang diadakan di gereja, bahkan di KPW-KPW.”

GBI Banaran adalah satu dari sekian banyak gereja yang ingin terus bertumbuh di tengah arus dunia, bahkan dalam “persaingan” gereja untuk mencari anggota baru. Di Kota Solo, GBI Banaran barangkali merupakan gereja Baptis dengan jumlah anggota terbesar sekalipun terletak di tengah perkampungan, berdampingan dengan gereja Katolik dan masjid yang juga cukup besar.

Rasanya, gereja ini cukup sehat untuk bisa terus bertumbuh dalam kualitas maupun kuantitas. Teruslah bertumbuh, teruslah maju untuk pelayanan global.

 

Penulis : Aryanto Budiono

Editor : Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here