Gereja Baptis Pertama Bandung “GEREJA BAPTIS MULA-MULA DI INDONESIA”

0
303

 

Paduan Suara Hosana

Tak ada kuasa yang mampu menghalangi pekerjaan Tuhan di dunia ini. Kalimat itu sering terdengar dan dituliskan. Kalimat itu juga menggambarkan perjalananan gereja Baptis masuk di Indonesia yang penuh liku-liku.

Sesudah Pemerintah Nasionalis China kalah dalam perang saudara, 1 Oktober 1949 Partai Komunis China (PKC) memproklamasikan berdirinya Republik Rakyat China (RRC) dengan ibukota Beijing. Mao Zedong, Ketua PKC yang juga pendiri RRC lantas mengeluarkan berbagai kebijakan yang kemudian berimbas pada penutupan tempat-tempat ibadah dan seminari di China. Para utusan Injil Konvensi Baptis Selatan (SBC) dari Amerika Serikat pun akhirnya harus meninggalkan RRC untuk mencari negara lain bagi pelayanan mereka.

Sesudah mempertimbangkan sejumlah negara di Asia Tenggara, para misionaris SBC memutuskan untuk memulai pelayanan baru di Indonesia. Salah satu pertimbangan mereka, Konstitusi Sementara Indonesia tahun 1945 memberi jaminan kebebasan beragama. Hal ini menjadi peluang bagi pekerjaan Baptis di Indonesia.

Maka pada 24 Desember 1951 tiga utusan Injil SBC yakni Burren Johnson, Stokwell B. Sears dan Charles Cowheard tiba di Jakarta. Meski Jakarta menjadi kota pertama yang disinggahi, Bandung menjadi pilihan untuk memulai pekerjaan Baptis Indonesia.  Salah satu alasannya, harga rumah atau lahan di Jakarta cukup sulit dan mahal, sementara di Bandung lebih mudah dan murah.

Terbatas dalam bahasa tak mengurangi semangat para utusan Injil  untuk memberitakan Kabar Baik bagi orang-orang di Bandung. Charles Cowherd memasang iklan di koran untuk mengundang orang-orang menghadiri ibadah perdana, 11 Mei 1952 di Masonic Hall (sekarang Masjid Agung Al-Ukhuwwah), Jalan Wastukencana 27 Bandung.

Baca Juga Gereja Baptis Getsemani BPW Secang Tambibendo, Mojo, Kediri “KUNJUNGAN MINITRIP GEREJA BAPTIS HONGKONG”
Petugas Ibadah

Ibadah perdana dalam bahasa Ingris tersebut dihadiri 23 orang (10 orang Amerika, Inggris dan Belanda, sementara 13 lainnya orang Bandung). Di antara mereka yang datang adalah keluarga Yusuf Mathias, yang kelak mengambil peran penting dalam pelayanan Baptis mula-mula di Bandung.

Para utusan Injil terus berusaha mengajak banyak orang untuk hadir dalam ibadah. Kebaktian dilaksanakan pagi dan sore, sedangkan pelajaran Sekolah Minggu disampaikan dalam bahasa Inggris, Belanda, Cina dan Indonesia.

Hanya 6,5 bulan sejak ibadah perdana atau 11 bulan sejak Misi datang di Indonesia, pada 23 November 1952 berdirilah Gereja Baptis (GB) Pertama Bandung. Ada 20 penanda tangan piagam pendirian gereja, di antaranya Yusuf Mathias dan Billy Mathias. Bersamaan dengan pendirian gereja tersebut, dilakukanlah pembaptisan terhadap tujuh anggotanya. Pembaptisan dilakukan dengan meminjam gedung Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh di Jalan Naripan.

Suasana Ibadah

Badan Pengutusan Injil SBC lalu membeli rumah di Jalan Wastukencana 50-52 (sekarang nomor 40-42). Sesudah direnovasi untuk menjadi rumah ibadah, gedung GB Pertama akhirnya diresmikan pada Oktober 1955. Pdt. Charles,  gembala sidang pertama gereja ini terus mengupayakan berbagai bentuk pelayanan. Salah satunya Sekolah Minggu yang menjangkau kaum dewasa, kaum muda, dan anak-anak.

Pada masa penggembalaan Pdt. Ancil Scull tahun 1958, keanggotaan gereja terus meningkat. Maka, jemaat memilih lima diakon untuk menolong dalam pelayanan, yaitu  Dkn. Ouw Tjoan Soen, Dkn. Tan Tek Kang, Dkn. Tjiong Kian Hoel, Dkn. Yim Chip Ko dan Dkn. Yusuf Mathias.

Baca juga GBI NGADINEGARAN, 56 TAHUN MEMBERKATI JEMAAT MAUPUN MASYARAKAT

Tahun 1961 untuk pertamakalinya, Gereja Baptis Pertama  menahbiskan seorang pendeta nasional, Pdt. John Liem Seng. Ia melayani hingga tahun 1968 dan memulai pembangunan fasilitas Sekolah Minggu tahap pertama. Pekerjaan ini lalu dilanjutkan Pdt. Gerald Pinkston sampai tahun 1970. Pada tahun itulah, gereja lalu menahbiskan pendeta nasionalnya yang kedua, Pdt. Billy Mathias, putra Dkn. Yusuf Mathias.

Paduan Suara Anak-anak

“Saya masih usia 11 tahun ketika Misi datang. Waktu itu karena orang tua saya belajar bahasa Inggris, jadi ketika dapat undangan ibadah bahasa Inggris (dari Misi Baptis), mereka merasa cocok. Dan saya, juga adik saya ikut ibadah di Baptis,” ujar Pdt. Billy Mathias sambil sesekali menarik napas dalam.

Sudah beberapa tahun, ayah dari dua putri ini sakit dan harus berbaring di tempat tidur. Kepada Juniati dari Suara Baptis, dengan terbata-bata Pdt. Billy menceritakan awal mula pelayanan Baptis  di Indonesia dan awal mula menjadi orang Baptis. Sampai tahun 1970 ketika Pdt. Billy ditabiskan menjadi gembala sidang, jumlah anggota gereja semakin bertambah.

“Ketika saya menjadi gembala sidang, jumlah anggota jemaatnya sekitar 70, akhirnya bertambah dan bertambah terus sampai mencapai 300-an,” ujarnya.

Menggembalakan selama 29 tahun di satu gereja bukanlah hal yang mudah. Pdt. Billy harus memperhatikan anggota jemaat yang semakin banyak. Pelayanan itu menuntut waktu dan tanggung jawab yang besar. Meski tidak selalu semua anggota jemaat mendukung dalam pelayanan, hal itu tak mengurangi Pdt. Billy untuk terus menggembalakan gereja.

Reach-Pro

“Karena anggota jemaat semakin banyak, tanggung jawabnya juga lebih besar. Ada anggota jemaat yang rewel, ada juga yang terus mendukung. Suka-dukanya seperti itu,” ungkapnya.

Sampai sekarang kelas Sekolah Minggu semua usia masih bertahan. Bahkan sudah terbuka kelas-kelas baru seperti pasangan suami-istri (terdiri dari dua kelas), kelas profesional dan beberapa kelas lain yang juga berkegiatan selain hari Minggu.

Perkembangan pelayanan pun dirasakan Indrawati Sudiono, salah satu anggota panitia keanggotaan gereja. Indrawati yang bergabung di GB Pertama sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), tak pernah menyesal menjadi orang Baptis.

Reach-Teen

“Saya bangga jadi orang Baptis karena pengajarannya alkitabiah. Jadi, kita nggak macam-macam tetapi berdiri di atas kebenaran Firman Tuhan,” tuturnya.

Perkembangan GB Pertama tak lepas dari para pemimpin yang terlibat di dalamnya. Berikut ini daftar gembala sidang yang pernah melayani di sana:

Pdt. Charles Cowherd, Pdt. Stokwell Sears, dan Pdt. W. Burren Johnson (1952)

Dr. Keith Parks, Pdt. Leonard Pomes dan Pdt. Bernard Rembeth (1955)

Dr. Frank Owen, Pdt. Ancil B. Scull dan Pdt. Ross Coggins (1956)

Dr. Schweer, Pdt. Ancil B. Scull dan Pdt. Samuel Serendatu(1957)

Pdt. John Lim Seng (gembala sidang nasional pertama 1960)

Pdt. Gerald W. Pinkston (1968)

Pdt. Billy Mathias (gembala sidang nasional kedua 1970-1996)

Pdt. Pdt. Firmanius Wanudjaja (1999)

Pdt. Isriyanto (Pjs., 2002)

Pdt. Hendi Tjiptamustika (2003)

Pdt. Isriyanto (Pjs., 2011)

Pdt. Ardi Y. Wiriadinata (2012 – sekarang)

Saat ini GB Pertama juga memiliki asisten gembala sidang yakni Pdt. Iwan Yafrin Simbolon (1988 – sekarang) dan Pdt. Isriyanto (1995 – sekarang).

Reach-Youth

Menyederhanakan Manajemen Gereja

Seiring perkembangan waktu, GB Pertama terus berbenah. Salah satunya, penyederhanaan cara mengelola gereja.

“Sekarang kita lebih menyederhanakan proses bergereja. Harapannya, jemaat mengerti apa yang harus dilakukan sebagai jemaat,” jelas Pdt. Ardi. “Kalimat visi-misi kami ubah, kemudian kami menolong baik perancang maupun jemaat  untuk bersama-sama dapat melakukan visi-misi tersebut. Selain itu setiap program kegiatan mengarah pada satu tujuan yang jelas. Kegiatan-kegiatan sekarang lebih disederhanakan dalam tiga organisasi yaitu ibadah, Sekolah Minggu dan pelayanan. Yang lainnya seperti komisi keuangan dan administrasi adalah pendukung supaya ketiga hal tadi bisa berjalan dengan baik. Jadi, dalam (rapat) perancang membahas bagaimana terjadinya pergerakan, bukan hal-hal teknis. Dan gerakan itu disebut gerakan gereja di mana semua jemaat terlibat di dalamnya. Ibadah, Sekolah Minggu, kelompok pelayanan, artinya kelompok pelayanan ini melatih jemaat yang sudah ikut Sekolah Minggu untuk mempunyai skill khusus untuk menjangkau dunia, untuk membawa orang masuk kepada ibadah.”

Paduan Suara Dewasa

GB Pertama memiliki beberapa cabang dan pos pelayanan seperti di Garut (Jawa Barat, Pdm. Manuel da Costa), Kopo (Bandung, Pdt. Begin Y.S.), Jragung (Jawa Tengah, Pdm. Evans Silvanus), PPCC ( Semarang, Jois Efendi), Nusawungu (Cilacap, Pdm. Tertius Suwardi), Ponak (Kalimantan Timur, Pdm. Dedi), Paso Ambon, Mamasa (Sulawesi Barat, Andi Iswanto) serta Ladang Bambu, Percut, Simalingkar dan Sunggal (Medan, Sumatra Utara dipimpin Pdt. Jakup Ginting, Oliver Simanjuntak, Firman Sihotang dan Paulus Meha).

Menutup perbincangan dengan Suara Baptis, Indrawati berpesan kepada seluruh gereja Baptis Indonesia, “Karena gereja Baptis terkenalnya sebagai gereja penginjilan, mungkin melalui GGBI (Gabungan Gereja Baptis Indonesia) kita juga bisa membantu hamba-hamba Tuhan, khususnya di desa-desa. Dan saya harap GGBI pun bisa mengelola dengan baik karena melihat kehidupan mereka (sebagian hamba Tuhan di desa, red.) kita jadi prihatin.”

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here