GBI NGADINEGARAN, 56 TAHUN MEMBERKATI JEMAAT MAUPUN MASYARAKAT

0
228

Melintasi Jalan D.I. Panjaitan dari Alun-alun Selatan Keraton Kasultanan Yogyakarta, gedung Gereja Baptis Indonesia (GBI) Ngadinegaran terlihat megah menjulang di sebelah kiri jalan. Gedung baru yang menggantikan bangunan lama tersebut seolah mewakili geliat jemaat Ngadinegaran yang terus bertumbuh.

Mei 2019 lalu, gereja di Jl. D.I. Panjaitan 29 ini genap berusia 56 tahun. Sejumlah kegiatan pelayanan GBI Ngadinegaran ini tak hanya dirasakan jemaat, namun juga menyentuh
banyak orang hingga berkilo-kilometer jauhnya. Salah satunya, kaum muda yang pernah memberikan les gratis bagi anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar hingga sekolah menengah di Bantul.

Semangat bergereja ini juga terlihat dalam perayaan ulang tahun 25-26 Mei 2019 lalu. Jemaat bersemangat mengikuti lomba badminton, merangkai bunga dan membuat es buah antar-gereja wilayah, hingga penampilan grup musik Campursari Seger dan kelompok pelayanan kaum muda Baptist Youth Revival dalam kebaktian ulang tahun.

Ada yang menarik yakni penampilan Campursari Seger, campuran berbagai aliran musik yang tunduk pada pakem musik Jawa ini. Gembala Sidang GBI Ngadinegaran Pdt. Marthinus Sumendi mengatakan, gereja memiliki alasan khusus dengan mengembangkan jenis musik unik ini. Menurutnya, musik campursari menjadi salah satu hasil kreativitas kaum muda gereja yang perlu diapresiasi. Selain itu, di tengah tren kebangkitan kembali jenis musik ini, gereja dapat menggunakannya sebagai peluang pengabaran Injil.

Pdt. Martinus Sumendi (Tengah berbatik Ungu) bersama para pemuda

Grup Campursari Seger diisi anggota gereja senior dan junior. Dengan demikian, diharapkan semua anggota jemaat mampu mensyukuri dan mengembangkan seni budaya tersebut menjadi alat pelayanan rohani.

Grup Campursari Seger berdiri tahun 2017 lalu. Grup musik ini pernah melayani di GBI Ebenhaezer, Tanjung Priok Jakarta. Setahun sekali, Campursari Seger yang dilatih Pdt. Sumendi ini mengadakan pentas pelayanan ke sejumlah daerah sekitar Yogyakarta seperti Klaten dan Gunung Kidul.

GBI Ngadinegaran juga memiliki unit pelayanan Gerbang Creative Ministry (GCM) yang memproduksi kaset lagu rohani, khotbah hingga pembuatan website. Tahun ini GCM menggarap album musik penghiburan.

Di usia ke-56 ini, sejumlah harapan disampaikan beberapa orang agar iman jemaat terus bertumbuh dan gereja ini menjadi pembawa berkat bagi masyarakat.

“Harapannya, gereja ini terus bertumbuh secara kuantitas dan kualitas. Bisa mengembangkan sayapnya dan mengadopsi gereja di Bandar Lampung, juga di daerah Temanggung (Jawa Tengah),” ujar Pdt. Sutoyo L. Sigar yang pernah menggembalakan gereja ini.

Dkn. Irwan Rares, salah satu anggota gereja pun mengatakan, dirinya melihat estafet kepemimpinan di GBI Ngadinegaran selama ini telah berlangsung dengan baik. Ia juga menilai, gereja telah menjalin kerja sama yang baik dengan lingkungan berkat campur tangan Tuhan.

“Kedewasaan gereja ini terlihat. Teruslah bertambah dewasa dengan terus menjadikan Tuhan Yesus (sebagai) sumber pelayanan,” dorong Dkn. Irwan.

Selain pembangunan pengajaran, jemaat juga tak berhenti mengusahakan pembangunan fisik. Soal ini, Pdt. Sumendi menjelaskan, jemaat tengah membangun aula besar untuk berbagai kepentingan, studio mini, 12 ruang kelas Sekolah Minggu, 7 ruang kantor, dan kamar-kamar tamu di lantai dua untuk menginap para hamba Tuhan yang sedang melayani di Yogyakarta.

Baca Juga Artikel Gereja Baptis Pertama Bandung “GEREJA BAPTIS MULA-MULA DI INDONESIA”

“Rencananya tahun 2020 (pembangunan) akan dimulai kembali. Tentunya harapan ini sejalan dengan visi, misi, dan moto gereja untuk terus melayani serta melaksanakan Amanat Agung Kristus,” ujar Pdt. Sumendi.

Amanat Agung dari Tuhan Yesus Kristus supaya setiap orang percaya menjangkau, menginjil, mengajar, memuridkan dan melayani, menjadi tujuan utama GBI Ngadinegaran

“Karena itu, ayat ini juga yang menjadi pedoman GBI Ngadinegaran untuk memiiliki visi Melaty Mekar, yaitu melaksanakan Amanat Tuhan Yesus Mengembang dan Mengakar,” ujar Pdt. Sumendi.

Ayah tiga anak ini juga menjelaskan misi GBI Ngadinegaran “Gerbang 4 P” sebagai gereja yang bangkit dalam penginjilan, pemuridan, pelayanan, serta pengajaran.

“Semua visi dan misi ini tentu selaras dengan aktivitas yang rutin
dilaksanakan gereja ini,” lanjut suami Sri Kembang ini.

Terdapat sejumlah kegiatan gereja ini seperti ibadah Minggu bergaya kaum muda berjuluk Baptist Youth Revival, Pendalaman Alkitab Kaum Remaja dan Pemuda (Pakar Muda), Kelompok Empati dan Pemerhati (Keeper), persekutuan Tempat Pembinaan Warga, kunjungan mingguan untuk anggota gereja lanjut, paduan suara, vocal group , dam sejenisnya. Tentu, semua ini bermuara pada terwujudnya misi gereja untuk kemuliaan Tuhan.

Simbol GBI Ngadinegaran

GBI Ngadinegaran memiliki lambang unik yang mencuri perhatian. Pdt. Sumendi menjelaskan, setiap lambang punya makna termasuk lambang GBI Ngadinegaran. Gambar empat pilar melambangkan gerbang (gereja bangkit) dalam menjalankan misi penginjilan, pemuridan, pelayanan dan pengajaran.

Gambar salib melambangkan pengorbanan Kristus, Alkitab dan tangan melambangkan tekad gereja meninggikan Firman Tuhan. Sedangkan burung merpati menggambarkan peran Roh Kudus dalam menjalankan visi Tuhan.

GBI Ngadinegaran juga memajang batu prasasti berisi keterangan masa pendirian gereja. Batu seberat lebih dari 4 ton ini menggambarkan jemaat yang memiliki kekuatan dan mampu mewujudkan visi Tuhan, menjaga kesatuan, kekeluargaan, kerukunan, dan keakraban di dalamnya.

Pdt. Sumendi yang terampil menggunakan bahasa Jawa halus ini juga menjelaskan nilai-nilai yang dibangun dalam jemaat dalam singkatan “Jempol”, yaitu jujur, empati, mandiri, pantang mundur, orientasi jiwa, dan lemah lembut. Dengan membangun nilai-nilai ini, diharapkan jemaat senantiasa memiliki kasih yang besar meneladani Tuhan Yesus.

Pdt. Sumendi juga menjelaskan mengenai moto gereja “Setia” yaitu “Sehat iman, aktif melayani”. Moto ini diharapkan dapat mendorong menggali potensi jemaat untuk digunakan menjadi berkat bagi masyarakat sekitarnya.

Baca juga artikel 
Gereja Baptis Efrata Bandung: “Indahnya Saling Menghargai Antar Umat Beragama”

Pertumbuhan gereja ini tidak luput dari campur tangan para perintis yang dipanggil Tuhan masuk pelayanan. GBI Ngadinegaran bermula dari kedatangan para misionaris Baptis Selatan, Amerika Serikat di Yogyakarta pada tahun 1961. Setahun kemudian, datang Pdt. Ed Sanders dan memulai pelayanan dengan membuka kelas Alkitab berbahasa Inggris dan bahasa Indonesia di kediamannya. Melalui kelas Alkitab tersebut, 16 orang percaya kepada Tuhan Yesus dan menggabungkan diri sebagai anggota gereja Baptis Indonesia di Yogyakarta. Selanjutnya para misionaris memperluas pelayanannya ke wilayah Yogyakarta bagian selatan di Jalan Brontokusuman 8.

Tanggal 5 Mei 1963, untuk pertama kalinya diadakan kebaktian Minggu dan secara resmi berdiri sebagai Gereja Baptis (GB) Brontokusuman. Sejak saat itu jumlah anggota jemaat terus bertambah mencapai 119 orang pada tahun 1967. Pada tahun ini juga GB Brontokusuman berganti nama menjadi GB Sejahtera. Setahun kemudian gereja ini dimandirikan sebagai gereja dewasa.

Pada 12 April 1970 gedung GB Sejahtera berpindah ke jalan D.I. Pandjaitan yang kemudian berganti nama menjadi Gereja Baptis Indonesia (GBI) Ngadinegaran pada tahun 1973.

Saat ini GBI Ngadinegaran terus berkembang dengan berganti-ganti gembala sidang yang melayani. Pdt. Sumendi berharap gereja ini selalu bisa menjadi berkat untuk jemaat maupun masyarakat. Dengan begitu, gereja bisa terus memuliakan Tuhan.

“Juga kepada seluruh umat Baptis, bisa saling dukung dalam pelayanan, saling memberi semangat dan menopang satu sama lain, saling asah kreativitas untuk mengembangkan media pelayanan kepada siapa pun,” dorongnya.

 

 

Penulis : Tiara Gustiani

Editor : Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here