GBI Karangayu, Semarang “SEKARANG PENDETANYA GALAK!”

0
668

Melihat para pedagang pasar pada Minggu pagi menjejali halaman gereja, Pdt. Hana Adji tak ayal tersulut emosi. Wajar saja, sebab berkali- kali di ingatkan , namun para pedagang selalu mengulangi perbuatannya. Mereka menggelar dagangan hingga menyumbat pintu
pagar untuk keluar-masuk anggota jemaat yang hendak kebaktian.

“Awal saya melayani di sini (tahun 2016), di depan gereja nggak bisa digunakan untuk berjalan, penuh dengan pedagang. (Apalagi) kalau mau parkir (sepeda motor dan mobil)… Meski kami memiliki tempat parkir sendiri, kami selalu berebutan dengan orang-orang pasar,” ungkap Pdt. Hana kepada Pemimpin Redaksi Suara Baptis, Prisetyadi Teguh Wibowo.

Ulah para pedagang ini juga tentu saja membuat jengkel anggota jemaat, bukan hanya gembalanya. Maka, terkadang terjadi keributan kecil karena anggota jemaat kesulitan memasuki gedung gerejanya.

Melihat kejadian ini, Pdt. Hana terpaksa turun tangan.

“Kadang (saya) jadi tukang parkir juga, hahaha… Dan kalau sama pedagang (pasar), nggak bisa pakai cara halus. Jadi, (gaya) premannya keluar,” ungkap Pdt. Hana sambil tertawa.

Ia melanjutkan, “Sekarang mereka manut (patuh). Kalau dulu tuh, harus bertengkar dulu,
adu mulut dulu (ketika ditertibkan).”

Bila dengan anggota gereja para pedagang berani melawan, lain halnya kepada Pdt. Hana.
Entah mengapa, mereka biasanya langsung patuh ketika disuruh pindah dari depan pintu pagar. Bahkan setiap hari Minggu, sepanjang halaman depan gereja akhirnya bersih dari lapak dagangan.

“Nggak tahu mengapa, mereka takut sama saya atau gimana? Mereka bilang, ‘Penditane
saiki galak’ (pendeta yang sekarang, galak), hahaha.”

Pendopo, Ciri Khas Jemaat Karangayu
Penerimaan masyarakat terhadap kehadiran sebuah gereja, bergantung bagaimana membawa diri di suatu lingkungan, ujar Pdt. Hana. Inilah memang yang terjadi dalam pelayanan pria tegap ini. Dengan menjalin hubungan yang baik dengan masyarakat sekitar, GBI Karangayu pun dengan cerdik berhasil mengatasi masalah dengan pedagang pasar yang bertahun-tahun berlangsung.

Dalam menertibkan lingkungan gereja, Pdt. Hana dan jemaat terus mendekati pedagang, tukang parkir, aparat kelurahan hingga kecamatan. Kesabaran ini berbuah manis. Pihak kelurahan bahkan kemudian meminjamkan lahan kosong di seberang gereja sebagai tempat parkir mobil jemaat yang hendak kebaktian Minggu.

Namun begitu, Pdt. Hana dan jemaat perlu terus mengamati situasi. Kadang-kadang ada satu-dua pedagang yang serta merta menggelar dagangan ketika melihat tempat kosong. Padahal tempat tersebut memang harus dikosongkan karena mengganggu gereja.

Maka, tak henti-hentinya Ketua Badan Permusyawaratan Nasional Gabungan Gereja Baptis Indonesia (Bamusnas GGBI) tersebut bersama jemaat dan petugas keamanan setempat, menertibkan para pedagang.

Meski tak secara langsung terjadi perubahan yang drastis, Pdt. Hana bersyukur,  pengaturan dan penataan semakin baik. Para pedagang yang semula merampas badan jalan di seberang gereja, tak berani lagi nekat bertahan. Selain mereka segan terhadap Pdt. Hana yang tegas, penertiban yang dilakukan ayah dua anak ini rupanya mendapat dukungan penuh pemerintah kelurahan dan kecamatan. Warga sekitar gereja juga jelas-jelas mendukung gereja. Mereka ingin pula melihat daerahnya menjadi lebih rapi dan tertib.

Keakraban antara GBI Karangayu dengan warga sekitarnya terlihat nyata. Pendopo, bangunan tambahan berarsitektur Jawa milik gereja, sering menjadi tempat rapat rukun tetangga (RT) dan rukun warga (RW). Bangunan yang bagian depannya terbuka tanpa dinding tersebut juga selalu menjadi tempat warga berapat dalam masa pemilihan umum dan acaraacara masyarakat lainnya.

Pendopo ini dibangun semasa GBI Karangayu digembalakan Pdt. Dwi Tartiyasa, yang sekarang menetap di Yogyakarta sesudah pensiun dari pelayanan. Bangunan yang sekarang sangat langka tersebut telah berfungsi ganda. Selain menjadi kantor gereja, pendopo tersebut dapat digunakan warga dan anggota jemaat untuk pementasan ketoprak, gamelan, bahkan tempat resepsi pernikahan bagi yang membutuhkan.

Meski beberapa kali muncul usulan mengganti pendopo dengan bangunan yang lebih modern, bangunan tradisonal ini tetap bertahan. Menurut Pdt. Hana, keberadaan pendopo ini justru perlu dilestarikan karena sudah menjadi ciri khas GBI Karangayu.

Ia memang benar. Sulit sekali menemukan gereja Baptis lain yang punya pendopo saat ini. GBI Karangayu memiliki sejarah yang cukup panjang. Gereja ini dirintis Sumardi Timothy, mahasiswa Seminari Teologia Baptis Indonesia ( kini Sekolah Tinggi Teologia Baptis Indonesia/STBI). Pelayanan berkembang pesat hingga pada tahun 1962, kebaktian perdana diadakan dan Pdt. Sumardi Timothy menjadi gembala sidang pertama di sana.

Pelayanan Pdt. Sumardi terus bertumbuh. Tahun 1964, ia membuka kelas-kelas Sekolah
Minggu. Namun pada tahun 1965, terjadi kondisi yang tidak menentu akibat konflik politik dan meletusnya Gerakan 30 September 1965. Situasi genting tersebut menggangu pertumbuhan dan persekutuan jemaat. Meski begitu, Pdt. Sumardi bertahan dalam pelayanan hingga tahun 1969.

Pelayanan pun dilanjutkan James Suherman, seorang mahasiswa STBI. Kehadiran dalam
ibadah meningkat hingga sekitar 60 orang. Dua tahun kemudian jumlah kehadiran melonjak mencapai 150 orang.

Setelah menyelesaikan studinya, James Suherman  ditahbiskan menjadi Gembala Sidang GBI Karangayu. Tahun 1974 dilakukan pembangunan gedung gereja dan pastori di lokasi yang kini ditempati GBI Karangayu, Jl. Kenconowungu Raya 34. Pelayanan Pdt Suherman terus berkembang dan beberapa organisasi pelayanan dalam gereja pun dibentuk.

GBI Karangayu juga berhasil memandirikan beberapa gereja cabang seperti GBI Setumbu
dan GBI Maranatha Tlogo.

Menurut Pdt. Hana, GBI Karangayu memiliki keunikan tersendiri. Jalinan kekeluargaan di gereja ini menjadi kekuatan sekal igus kelemahannya. GBI  Karangayu kuat dalam memperhatikan pelayanan namun masih terbatas di dalam jemaat sendiri.

Jalinan kekeluargaan dalam gereja ini pun dirasakan Pdt. Hana sebagai hubungan yang begitu hangat. “Jadi kita punya pendopo. Sebelum pandemi, biasanya setelah kebaktian atau Sekolah Minggu, kita ngobrol sampai lama. Itu menimbulkan rasa kekeluargaan yang cukup kuat. Selain itu ada beberapa keluarga besar di sini dan itu menjadi kekuatan gereja. Namun itu akan menjadi (suatu) kekurangan jika gereja hanya mengandalkan (persekutuan di dalam jemaat) itu,” tandasnya.

Maka, pria asl i Semarang tersebut mendorong jemaat supaya bergerak memenuhi Amanat Agung Tuhan Yesus.

“Dalam lima tahun terakhir ini saya mengajak jemaat untuk mulai memperhatikan keluar, yaitu dengan pembukaan pos PI (Pengabaran Injil) baru,” ungkapnya.

Suami Puji  Rahmawati ini pun menuturkan keunikan jemaat yang menurutnya patut dicontoh gereja-gereja Baptis lain. GBI Karangayu sudah merancang sedemikian rupa untuk memperhatikan gembala sidangnya. Jika sang gembala pensiun sesudah melayani dalam batas waktu tertentu, gereja akan menyiapkan rumah dan tetap memberikan tanda kasih.

Perhatian nyata jemaat juga ditujukan kepada janda pendeta. Hingga sekarang, GBI Karangayu tetap memperhatikan keperluan material janda-janda pendeta yang dulu pernah
melayani di sana.

Semasa penggembalaan Pdt. Dwi Tartiyasa yang kental memiliki darah seni, GBI Karangayu membeli seperangkat gamelan, alat musik tradisional Jawa. Meski sekarang gamelan tak lagi digunakan jemaat, jiwa seni yang ditularkan Pdt. Dwi Tartiyasa telah mendorong pertumbuhan seni musik generasi berikutnya. Maka, gereja pun memiliki pemain musik yang cukup hingga tidak mengalami kesulitan membentuk tim pemain musik ibadah.

“Ya, (gereja ini) cukup menonjol di bidang musik dan beberapa kali juga  memenangkan lomba (musik) tingkat BPD GGBI,” ujar Pdt. Hana.

Seperti di semua tempat pelayanan, penggembalaan Pdt. Hana tak selalu mulus di gereja ini. “Kalau berbicara tentang hambatan pasti selalu ada, ya. Karena ketika kita dipanggil di suatu gereja, pasti ada sesuatu yang harus kita kerjakan. Pembenahan-pembenahan di sektor organisasi pasti terjadi, (dan) seringkali terjadi benturan-benturan.”

Pria penyuka motor sport ini mengaku bersyukur ketika visi dan misi pelayanannya dapat ditangkap dan dijalankan bersama-sama. Meski harus melakukan berbagai pembenahan, ia tidak serta merta mengganti  semua cara pelayanan sebelumnya. Pdt. Hana melakukan pembenahan dengan berpijak pada apa yang sudah ada.

Contohnya, perhatian yang nyata dari jemaat kepada keluarga gembala-gembala sidang yang sudah pensiun. “Gereja memang harus memikirkan kehidupan hamba-hamba Tuhan. Kalau hamba-hamba Tuhan melakukan yang terbaik, pasti gereja akan menjadi saluran berkat bagi kehidupan hamba Tuhan (juga),”
tutupnya.


Penulis: Juniati
Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here