Gaya Hidup | GEREJA (BUKAN) CATWALK!

0
80

Diana Santi*)

Tulisan ini dibuat saat ada kehebohan di media online menyoal seorang artis Ibukota yang dianggap menghina pengadilan karena tak mengenakan pakaian yang dianggap pantas dalam acara persidangan.  Lembaga peradilan dianggap telah dilecehkan. Bagi sebagian orang mungkin sepele. Lha wong cuma soal pakaian, gitu lho… Tetapi apakah benar itu soal sepele?

Nah, bagaimana dengan gereja? Apakah gereja memiliki pandangan yang mirip dengan orang-orang di pengadilan itu atau sebaliknya, atau malah tak punya pendapat sama sekali?

Arus Mode Busana dalam Gereja

Tak bisa kita pungkiri, peristiwa di pengadilan itu juga kerap terjadi di gereja, bahkan dalam acara ibadah. Dan terjadi juga di gereja Baptis, lho. Tetapi untungnya tidak diliput media online jadi tak ada gaungnya.

Kalau mau jujur, beberapa dari kita pasti pernah melihat sesama anggota jemaat yang sedang berbakti memakai pakaian yang tidak semestinya dalam situasi ibadah. Ada yang seperti (maaf) memakai pakaian yang kekurangan bahan, ada juga yang robek di sana sini atau pakaian wanita yang (maaf lagi) superketat nyaris robek.

Ditilik dari budaya ketimuran, rasanya kita akan senang melihat orang berpakaian wajar, artinya tidak mengundang perhatian karena saltum (salah kostum) alias kurang cocok dengan situasi. Secara umum orang tak akan berkomentar jika melihat orang memakai bikini seksi di pantai atau di kolam renang karena memang cocok dengan situasi dan lokasi. Tetapi coba bayangkan komentar apa yang akan terlontar bila melihat orang berbikini saat berjalan-jalan di mall? Hahahaaa…

Kita mungkin tertawa membaca ini, namun tanpa disadari kita sering “salah kostum” dalam acara ibadah. Memang tidak ada aturan tertulis tentang pakaian seperti apa yang dianggap benar atau salah saat acara ibadah. Namun penggunaan hikmat saat memilih baju untuk ibadah menjadi hal yang sangat penting agar terhindar dari saltum tadi itu.

Tren mode berbusana pada abad ini memang sangat dinamis. Secara cepat model baju berganti-ganti.  Jemaat pun tak mau ketinggalan zaman dan mengikuti tren itu.

Tak ada yang salah dengan itu. Namun, saat tren mode berbusana itu dibawa masuk gereja tanpa ada filter maka jadilah gereja semacam catwalk alias panggung peragaan busana. Segala jenis busana yang ada di luar gereja serta merta masuk ke dalam gereja dan ke dalam acara ibadah. Saking derasnya arus tren berbusana, sampai sulit dibedakan ini sedang di dalam acara ibadah atau di panggung festival busana. Sangat memprihatinkan.

Pandangan orang-orang di sekitar gereja tentunya sangat penting kita pertimbangkan. Bagaimana pendapat mereka tentang gaya berbusana orang-orang di dalam gereja?

Penulis pernah mendengar jokes tentang para polisi yang ditugasi menjaga gereja saat ibadah Natal. Mereka mengaku sangat happy tiap kali menjaga gereja. Mengapa begitu? Alasannya, karena di gereja banyak berseliweran perempuan cantik yang berpakaian minim!

Hahaahaaa… tertawa lagi kan kita? Yaaa.. itu pendapat orang luar tentang kita.  Sepertinya cerita itu bukan sekadar seloroh tetapi menyiratkan arti yang sangat dalam.  Apa mau dikata? Mereka telanjur punya pandangan demikian terhadap kita, penghuni gereja.

Mari Bercermin

Jangan salah paham. Tulisan ini bukan sedang mengarahkan kita untuk berbusana jadul alias ketinggalan zaman. Bukan itu. Tulisan ini mengajak kita bercermin lalu memperbaiki dandanan kita disesuaikan dengan situasi ibadah di gereja.  Nasihat Firman Tuhan dalam 1 Timotius 2 : 9a berkata: Demikian juga hendaknya perempuan. Hendaknya ia berdandan dengan pantas, dengan sopan dan sederhana.

Meski batasan pantas, sopan dan sederhana bisa saja berbeda seorang dengan yang lain, namun cara paling praktis untuk menjalankan Firman Tuhan tersebut adalah dengan mengajukan pertanyaan kepada diri sendiri: “Apakah pakaian yang saya pakai ini menyenangkan hati Tuhan? Apakah pakaian saya ini menjadi batu sandungan bagi sesama?”

Dengan cara ini memungkinkan kita untuk memilih pakaian yang sewajarnya saat berbakti di gereja. Firman Tuhan tersebut tentunya juga ditujukan buat kaum Adam sehingga laki-laki pun dapat menggunakan cara yang sama dalam memilih busana untuk beribadah. Yang pantas, sopan dan sederhana.

Jika kita amati, saudara kita yang beragama lain berkostum sangat sopan saat beribadah. Mungkin hal itu terpengaruh oleh budaya dari agama itu berasal. Mereka tidak dapat membawa masuk budaya dari luar kedalam rumah ibadah mereka. Semaju apa pun tren mode berbusana, mereka menaati aturan main itu. Mereka tidak dapat membawa seleranya masuk kedalam acara ibadahnya. Mereka taat. Meskipun dalam kekritenan hal tersebut adalah hal lahiriah, tetapi paling tidak mereka sangat sopan dalam berbusana saat beribadah. Untuk soal yang satu ini bolehlah kita meniru kesopanan mereka, hehehe…

Soal selera berpakaian, sangat tergantung nilai dan selera individu. Tetapi kita dapat belajar membuang jauh keegoisan dan mulai menyesuaikan gaya berbusana kita berpadanan dengan Firman Tuhan. Mungkin pepatah yang pas untuk menyesuaikan diri dalam berbusana dengan situasi dan lokasi adalah di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung.

Mulai dari diri sendiri. Lama kelamaan orang di luar gereja akan melihat teladan dari cara kita berbusana dan terkikislah pendapat miring yang selama ini melekat pada kita, warga gereja yang sering berbusana minimalis.

*)Penulis adalah kontributor SB, anggota GBI Kebayoran, Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here