Garam dan Terang Dunia. Personal Branding yang Mendunia part 2

0
203

3 Prinsip Garam dan Terang

Fakta bahwa kita yang percaya pada Kristus dijadikan-Nya garam dan terang dunia karena apa yang telah dikerjakan Kristus, bukan berarti kita dapat berleha-leha. Bukan berarti tidak mengerjakan keselamatan atau bahkan dengan cara yang tidak bertanggung jawab mempermainkan kasih karunia.

Selain mengawetkan, karakteristik garam yang paling kuat ialah memberi rasa. Rasa membuat makanan dicari dan dikenang orang. Terang bicara tentang situasi. Begitu juga dengan personal branding “garam” dan “terang” bagi umat-Nya. Apakah kita dikenal sebagai orang yang memberi dampak dan mengubah situasi bagi lingkungan di mana kita berada atau tidak?

Pertama, konsisten menjadi garam dan terang.

Di kalangan masyarakat Timur Dekat (Palestina, Jalur Gaza, Lebanon, Suriah, Tepi Barat, Yordania, Turki, Irak, Suriah Timur dan Iran), garam juga digunakan untuk mengesahkan perjanjian, sehingga garam menjadi lambang kesetiaan dan kelanggengan. Orang lain tidak akan memberi stempel bahwa kita pelupa hanya karena satu kali kita lupa di mana menaruh gunting kuku atau kunci kendaraan. Orang lain juga tidak akan berkata bahwa kita adalah seorang ahli kalau kita baru sekali menang main bulu tangkis. Begitu juga dengan seorang Kristen, tidak akan dikenal sebagai murid sejati jika hanya sesekali menuruti perintah Allah sebagai bukti bahwa kita mengasihi-Nya.

Saya dikenal sebagai siapa? Apakah saya dikenal sebagai pendeta yang tidak terbiasa menggunakan helm dalam berkendara? Sebagai orang yang suka telat? Terbiasa memberitakan Injil? Anak muda Kristen yang sering ketahuan selingkuh atau memiliki banyak pacar? Anak muda yang setia melayani? Atau lainnya?

Kedua, hukum cahaya.

Rambatan cahaya lebih cepat dari suara. Itu sebabnya kita terbiasa menutup telinga setelah melihat kilatan cahaya di langit, pertanda guntur akan menggelegar. Jika kita tidak melihat seekor kambing, kita bisa mengenali kehadirannya dari baunya. Kambing tidak selalu perlu mengembik untuk dikenali sebagai seekor kambing.

Murid Kristus sejati tidak selalu dan perlu “menggelegar” atau “mengembik” untuk memperkenalkan pada dunia bahwa dirinya pengikut Kristus. Ia bahkan tidak dapat berkata bahwa dirinya seorang Kristen, jika perbuatanperbuatannya tidak mencerminkan apa yang dikatakannya (Yohanes 14:15)

Baca Juga Pelita Jiwa: LAKUKAN 7 PRINSIP FIRMAN TUHAN INI, MAKA HIDUPMU AKAN MELAJU SECARA KONSISTEN"

Ketiga, menempel pada Sang Sumber.

Yesus adalah terang sejati, kita adalah pantulan cahaya-Nya yang secara langsung disaksikan dunia. Tidak ada cara lainnya untuk kita tetap bercahaya jikalau tidak bersentuhan pada Sumber Cahaya. Ranting hanya dapat hidup, bertumbuh dan berbuah selama ia menempel pada Pokok Anggur Yesus Kristus. Jangan bodoh, tanpa hubungan yang intim dengan Kristus – pertanda sesuatu yang buruk – kita tidak akan efektif bagi kerajaan-Nya.

Orang Ibrani mempunyai persediaan garam yang melimpah di pantai-pantai Laut Mati (Zefanya 2:9) dan di bukit garam (Jebel Usdum), sebuah daratan tinggi seluas 4.000 hektar di sudut barat daya Laut Mati. Garam di sana terjadi dari karang atau fosil. Karena ketidakmurnian dan perubahan-perubahan kimiawi, lapisan luarnya biasanya kurang sedap, umumnya dibuang karena tidak ada harganya. Para petani juga biasa menimbun garam. Namun bila hujan turun, garam murninya hilang terbawa air. Yang tersisa hanyalah butiran-butiran yang tampak seperti garam tetapi telah menjadi tawar.

Garam yang tidak memiliki rasa bukanlah garam. Terang yang redup tidak banyak memberi dampak. Murid Kristus pastilah bukan mereka yang hambar, kosong, tak dapat bersukacita, dan tidak memberi dampak. Bukannya menimbulkan kebaikan, garam yang hambar malah banyak membuat kesusahan. Terang yang redup bahkan mati (Einstein berkata bahwa gelap adalah ketiadaan cahaya) menimbulkan kebingungan dan ketersesatan.

Perikop garam dunia dan terang dunia berada dalam satu konteks dengan ucapan bahagia yang mengawali rangkaian khotbah Yesus di bukit. Jika kita perhatikan, menjadi garam dan terang bukanlah sesuatu yang mudah. Tetap berbahagia dalam segala situasi dan kondisi adalah gambaran garam dan terang yang sesungguhnya.

Ia memberi rasa pada dunia yang hambar. Ia membuat perbedaan dalam situasi dunia yang gelap dengan terangnya. Ia berbahagia meski miskin, diberkati dalam kedukacitaan. Ia tetap lemah lembut. Ia adalah seorang yang lapar dan haus akan kebenaran di tengah dunia yang tidak benar. Ia juga seorang yang murah hati di mana dunia sedang bersikap egois. Ia tetap suci di saat dunia menawarkan berbagai bentuk noda manis. Ia adalah pribadi pembawa damai dalam kondisi perang. Ia tetap berbahagia meski dianiaya karena kebenaran. Di saat celaan serta fitnah bertubi-tubi, ia bergembira.

Hanya ada dua pilihan dalam prinsip garam dan terang: mempengaruhi atau dipengaruhi. Karena itu tetaplah memberi rasa dan mengubah situasi. Seperti yang dikatakan Bunda Teresa:

Apabila engkau berbuat baik, orang lain mungkin akan berprasangka bahwa ada maksud tersembunyi di balik perbuatan baik yang engkau lakukan itu. Tetapi tetaplah berbuat baik.

Apabila engkau jujur dan terbuka, orang lain mungkin akan menipumu. Tetapi tetaplah bersikap jujur dan terbuka setiap saat.

Apa yang engkau bangun selama bertahuntahun dapat dihancurkan oleh orang lain dalam satu malam saja. Tetaplah membangun.

Apabila engkau menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati, orang lain mungkin akan iri hati kepadamu. Tetapi tetaplah berbahagia.

Kebaikan yang kau lakukan hari ini, mungkin besok dilupakan orang. Tetapi teruslah berbuat baik.

Kristus ingin memakai kita untuk membuat perbedaan di dunia. Ia ingin bekerja melalui murid-murid-Nya. Apa yang berarti bukanlah sekadar keberadaan dan durasi kehidupan, tetapi donasi kehidupan kita. Bukan berapa lama kita hidup, tetapi bagaimana kita hidup.

*)Pdm. Febbi Timotius

adalah Gembala Sidang GBI Kartasura,

Surakarta, Jawa Tengah.

 

Baca Part 1 klik Link di bawah ini :

Garam dan Terang Dunia. Personal Branding yang Mendunia part 1

 

Daftar Pustaka: Alkitab Terjemahan Baru (TB) LAI 1974,
(Jakarta: LAI, 2012). Ensiklopedia Alkitab Masa Kini Jilid I A-L:
Garam (Yayasan Komunikasi Bina Kasih/ OMF), hal. 327. Jhon Stott, Mengapa Saya Seorang Kristen (Bandung: Pionir Jaya, 2005), hal. 8.
Channel Youtube Pandji Pragiwaksono, Mengenal Personal Branding (Published on Sep 16, 2019). http://www.chillaworld.com/NEWS/LIFEINSPIRATION/Kata-Kata-Bijak-Mother-Teresa. html

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here