Garam dan Terang Dunia. Personal Branding yang Mendunia part 1

0
409

Salah satu komika Indonesia ( stand up comedian ), Pandji Pragiwaksono membagikan personal branding di kanal YouTube miliknya. Menurutnya, personal branding adalah kegiatan bercerita pada dunia tentang siapa kita. Supaya kita berhenti mengejar uang dan membuat uang yang mengejar kita, karena uang mengenal siapa kita. Atau secara singkat adalah apa yang kita kerjakan untuk memberi tahu dunia tentang siapa kita, bisa melalui media sosial atau karya (dalam bisnis melalui jasa atau produk).

Lalu bagaimana personal branding orang Kristen? Berbeda dengan definisi di atas, personal branding murid Kristus s e h a r u s n y a adalah apa yang telah Kristus kerjakan lebih dulu pada kayu salib yang terpancar melalui hidup umat-Nya, sehingga dunia tidak dapat menghindari untuk mengenal Kristus dalam diri mereka.

Menjadi “garam dan terang” yang terdapat dalam Matius 5:13-16, seharusnya menjadi personal branding kita. Mengapa demikian? Kalau kita memperhatikan, dalam klaim terkenal lainnya yang diucapkan Yesus (Akulah Air hidup, Pintu, Pokok Anggur, Jalan dan Kebenaran dan lain-lain), “Kamu adalah garam dan terang dunia,” adalah satu-satunya pernyataan Yesus kepada murid-murid-Nya, yang menyamakan para murid dengan diri-Nya sendiri.

Pribadi dibalik klaim, “Kamu adalah…” ialah Kristus. Jika saya berkata kepada seseorang bahwa ia adalah seorang yang baik atau jahat, saya mengatakannya karena apa yang telah ia lakukan di depan mata saya. Atau sebaliknya jika orang lain berkata bahwa saya baik atau jahat, tentu berdasarkan apa yang saya katakan atau lakukan di depan mereka.

Namun sewaktu Kristus berkata bahwa, “Kamu adalah garam dan terang dunia,” hal itu bukan berdasar apa yang orang itu lakukan, melainkan apa yang telah Ia (Yesus) lakukan untuk orang tersebut. Yakni, berkenosis turun ke dalam dunia, sama seperti manusia, mati di atas kayu salib, menebus dosa dan membuat seseorang layak disematkan status baru, “kamu adalah garam dan terang dunia,” berdasarkan kasih karunia-Nya.

Salib adalah cara Allah melihat bahwa Yesus seolah-olah sebagai satu-satunya pelaku dosa
di dunia ini. Jika ada yang berpikir bahwa dosa terkejam yang bisa dilakukan manusia adalah pembunuhan, Bapa di Surga melihat, seolaholah Yesuslah yang melakukannya.

Perbuatan dosa bahkan melebihi itu, atas apa yang telah kita lakukan (berselingkuh, aborsi, pelecehan seksual, pornografi, mutilasi). Salib adalah bukti Yesus diperlakukan seoalaholah Dialah pelaku utama dari semua kejahatan manusia. Murka Allah harus dicurahkan bagi dosa, Yesus menanggungnya untuk kita.

Seperti yang dikatakan Paul Washer, “Salib bukanlah tanda atas betapa besar berharganya kita, melainkan begitu rusaknya kita. Bahwa kita teramat jahat sehingga satu-satunya jalan kita dapat diselamatkan adalah melalui Putera Allah yang dihancurkan di bawah kekuatan penuh murka Allah yang seharusnya ditimpakan kepada kita.”

Untuk kejahatan yang tidak kita lakukan, kita tidak mungkin mau dipersalahkan. Di saat melakukan sebuah kesalahan, manusia cenderung membela diri untuk mempertahankan harga diri (salah saja ngotot , apalagi benar?). Yesus Allah sejati dan manusia sejati, tanpa cacat dan dosa, rela dipersalahkan dan menjadi “kambing hitam” bagi manusia yang rusak. Ia mati supaya kita hidup. Ia menjadi “gelap” supaya kita menjadi terang. Ia lebih dulu melakukan semua itu.

Baca juga 
Pelita Jiwa: LAKUKAN 7 PRINSIP FIRMAN TUHAN INI, MAKA HIDUPMU AKAN MELAJU SECARA KONSISTEN”

Pengampunan penuh, bukan untuk sebagian dosa, telah dikerjakan Yesus bagi kita. Demikian pernyataan iman yang kita ekspresikan melalui sebuah pujian “Nyamanlah Jiwaku” NP. 221. Bait kedua lagu itu berkata, “Bukan sebagian dosaku ini, melainkan sepenuh dosaku. Dipaku disalib, dihapus penuh. Hai pujilah Tuhan jiwaku.”

Itulah sebabnya untuk semua hal yang telah kita lakukan, yang mendatangkan murka Allah, telah dipulihkan di dalam Kristus.

Ketika kita berkata bahwa kita adalah orang Kristen dan memilih Kristus sebagai Tuhan, faktanya Ia yang lebih dulu memilih, mengasihi, dan mengorbankan segalanya bagi kita bahkan ketika kita masih berdosa (Efesus 1:4; 5: 2; 2 Timotius 1:9; Galatia 2:20; 1 Yohanes 4:10). Seperti yang diungkapkan John Stott bahwa mengapa seseorang menjadi orang Kristen, bergantung mutlak bukan pada pengaruh orang tua, guru, pendeta, bahkan keputusan pribadi untuk mengikuti Kristus, melainkan pada “Anjing Pemburu dari Surga.”

“Semua karena Yesus saja, yang mengejar saya dengan tanpa lelah bahkan ketika saya berlari menjauh dari diri-Nya untuk menjalani keinginan hati saya sendiri. Dan jika bukan karena pengejaran murah hati oleh Anjing Pemburu dari Surga, saat ini saya akan berada pada kehidupan di atas tumpukan sampah dan kesia-siaan.

Baca Part 2 klik Link di bawah ini :

Garam dan Terang Dunia. Personal Branding yang Mendunia part 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here