Embun Pagi – Sang Guru Part 2

0
476

Setelah cukup mencekam murid-muridnya dengan suasana neraka, cerita itu diakhiri dengan sebuah kabar baik. Bersyukur Tuhan Yesus memberi kesempatan buat setiap anak untuk bertobat dengan menerima Dia sebagai Tuhan dan Juru selamat, maka pasti akan dibawa Yesus masuk surga.

Ibu Maria sangat hafal kisah-kisah dalam Alkitab. Bukan hanya kisah Yesus dan muridmurid-Nya, atau kisah-kisah dalam Perjanjian Baru. Tetapi juga kisah nabi-nabi dan rajaraja dalam Perjanjian Lama. Sejarah Alkitab benar-benar Ibu Maria hafal. Saya jadi senang pelajaran agama karena cara mengajar Ibu Maria benar-benar tidak membosankan. Sangat senang kalau saya bisa menjawab pertanyaanpertanyaan seputar Alkitab seperti yang sudah Ibu Maria ajarkan dan kami tulis dalam buku catatan. Sampai akhirnya saya diikutkan Lomba Cerdas Cermat Alkitab SD yang saat itu diadakan oleh Gereja Isa Almasih (GIA) Pringgading Semarang…

Ibu Maria sering mengungkapkan kecintaannya akan Firman Tuhan kepada kami, murid-muridnya. Bahkan Ibu Maria menantang kami untuk mengikuti jejaknya, mulai membaca Alkitab setiap hari secara urut dari Kitab Kejadian sampai Wahyu. Ibu Maria bersaksi bahwa Firman Tuhan itu punya kuasa untuk mengubah hidup seseorang. Bahkan beliau sering bersaksi kepada kami bagaimana hidupnya diubahkan oleh Tuhan Yesus melalui Firman-Nya.

Tantangan itu membekas di hati saya. Sepertinya tidak ada teman-teman yang merespons tantangan Ibu Maria. Walaupun sekolah Kristen, tidak semua murid beragama Kristen. Banyak teman saya muslim, bahkan ada yang Hindu dan Konghucu (yang saat itu belum diakui sebagai agama di Indonesia).

Baca juga 
Embun Pagi | KUSTA

Saya merasa tertantang karena saya ingin berubah. Saya ingin berhenti mengeluh dan protes pada Ibu, sebaliknya bisa selalu bersyukur dan merasakan kasih Tuhan dalam keadaan sehari-hari, seperti Ibu. Saya mau membuktikan, benarkah Firman Tuhan berkuasa mengubah hidup saya.

Mulailah saya, saat itu membaca Alkitab dari Kitab Kejadian… Pasal demi pasal… Banyak yang tidak saya mengerti, tetapi pokoknya membaca. Kadang-kadang saya tanyakan pada Ibu apa maksud Alkitab menulis: peperangan, kekejaman, persundalan, kata-kata kecaman, dan lain-lain. Untuk seorang anak SD, hal ini tidak mudah dimengerti. Bersyukur saya punya seorang ibu yang bisa menjelaskan Firman Tuhan. Melalui kisah yang masih sulit saya tangkap, Ibu bisa memetikkan butir-butir kebenaran yang bisa dicerna anak seusia SD seperti saya.

Alkitab jujur bertutur tentang semua kelemahan manusia, untuk menggambarkan besarnya anugerah yang Allah berikan kepada manusia. Ibu berkata bahwa Alkitab itu untuk semua orang. Bagi anak-anak atau bagi orang-orang yang tidak pernah bersekolah sekalipun, Firman Tuhan dapat dimengerti. Sebaliknya bagi seorang profesor teologi, Firman Tuhan yang sama tak akan pernah habis untuk diselidiki, digali dan didiskusikan.

Saya agak terpaksa membacanya ketika sampai pada kisah hakim-hakim, raja-raja, dan nabi-nabi. Mau berhenti, rasanya tanggung. Bila diteruskan, ko k nggak mudheng (mengerti), Ya… Lagi pula saya belum merasakan “kuasa mengubahkan” seperti yang dialami Ibu Maria. Akhirnya, saya berjuang membaca pasal demi pasal, lembar demi lembar, walau “asal telan”. Saat itu saya belum mengerti bagaimana cara mencerna Firman Tuhan, merenungkannya, mengunyahnya sampai terasa manis di langit-langit mulut.

“Betapa manisnya janji-Mu itu bagi langitlangitku, lebih daripada madu bagi mulutku,” (Mazmur 119 : 103).

Saya membutuhkan waktu bertahuntahun untuk dapat menyelesaikan seluruh pembacaan Alkitab dari Kitab Kejadian-Wahyu. Bahkan sampai lulus SD pun, waktu itu saya belum selesai membaca seluruh Alkitab. Sebagai hadiah kelulusan saya, Ibu Maria menghadiahkan sebuah buku tentang pokok-pokok iman Kristen, dengan pesan untuk terus bertekun dalam belajar Firman Tuhan.

Sungguh ajaib cara Firman Tuhan bekerja mengubah hidup saya. Saya ingat tahun-tahun ketika membaca Alkitab tanpa mengerti, tetapi Tuhan tetap taruh dalam hati saya rasa penasaran akan kuasa Firman-Nya. Tidak setiap kali ketika saya belum mengerti tulisan dalam Alkitab, saya bisa mendiskusikannya dengan Ibu. Akhirnya dengan perasaan yang agak berat, saya asal baca saja. Waktu itu merasa dikejar-kejar hutang kalau tidak baca Alkitab sehari pun. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan, bahkan tahun berganti tahun, saya sadar bahwa rasa penasaran akan Firman Tuhan itulah yang menjaga hidup dan pergaulan saya melalui masa-masa remaja, bahkan sampai saat ini (belakangan saya mengerti Tuhan jagai saya melalui “rasa penasaran’ saya – itu anugerah buat saya) . Dari persekutuan ke persekutuan, dari kebaktian ke kebaktian, dari jadi murid Sekolah Minggu sampai kemudian memutuskan untuk mengajar Sekolah Minggu.

Sampai akhirnya saya mengalami perjumpaan pribadi dengan Tuhan menjelang kuliah. Saya dijamah, dan diubahkan, dipulihkan dari luka-luka batin yang saya alami sejak kecil. Sejak itu saya tahu apa arti bersyukur senantiasa, dan belajar untuk memandang positif setiap “kemalangan” yang Tuhan izinkan terjadi dalam hidup saya. Semua baik.

Jadi, SETIAP HARI membuka ALKITAB dan membaca Firman-NYA itu SANGAT PERLU…. Nggak masalah kalau tidak langsung mengerti, asal mau tetap bertahan…. Sampai suatu saat, ketika hati kita terbuka, Roh Kudus akan membuat kita mengerti semua yang telah kita baca… Tidak ada yang sia-sia dalam membaca Alkitab setiap hari, tidak ada waktu yang terbuang percuma dalam belajar Firman Tuhan. Dan kita akan melihat perubahan yang sudah Tuhan buat dalam hidup kita. Kalau sekarang tidak dapat mengerti, peliharalah rasa penasaran atau pertanyaan-pertanyaan yang ada dalam benak kita. Jangan lepaskan, sambil minta Tuhan bukakan pengertian akan Firman-Nya. Kalau pun tidak sekarang, PASTI suatu saat Tuhan akan membuat kita bisa mengerti. Karena hanya oleh anugerah-Nya kita dapat menangkap benih kebenaran-Nya. Dan oleh anugerah-Nya, benih itu bisa tertanam di hati kita.

Yang Allah rindukan hanyalah hati yang tetap mau terbuka dan bertekun. Maka suatu hari kita akan terheran-heran bagaimana kuasa Tuhan telah mengubah hidup kita melalui Firman-Nya. Percayalah, Dialah Sang Guru yang agung! Sang Guru Kehidupan.

Baca sebelumnya di Link di bawah ini :

Embun Pagi – Sang Guru Part 1

 

 

 

*)Penulis adalah anggota

GBI Peterongan Cab. Klepu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here