Embun Pagi – Sang Guru Part 1

0
412

Paling tidak ada dua orang dalam hidup saya yang menginspirasi untuk mencintai Firman Tuhan. Yang pertama Ibu, yang kedua adalah guru agama saya di sekolah dasar (SD).

Waktu itu di tahun 1979, saya sedang menempuh pendidikan dasar di sebuah SD swasta Kristen di Kota Semarang. Secara ekonomi teman-teman saya waktu itu, tentu saja rata-rata menengah ke atas. Rata-rata teman-teman saya diantar- jemput orang tuanya dengan kendaraan bermotor, bahkan ada yang dengan mobil.

Sebenarnya, saya cukup minder bersekolah di situ, apalagi setiap hari Jumat dan Sabtu selalu berpakaian bebas. Pada hari-hari itulah akan terlihat anak-anak dari keluarga yang berada, baju bebasnya pasti bagus-bagus. Bahkan ada salah satu teman saya yang hampir setiap minggu, bajunya pasti baru. Sedangkan saya, baju bebas saya kebanyakan jahitan Ibu sendiri. Sangat sederhana, baik model maupun aksesorinya. Itu pun setahun satu-dua kali baru dijahitkan Ibu lagi. Bersyukur, kadang-kadang keluarga kami waktu itu dapat kiriman baju-baju (dari tante atau keluarga di Jakarta) sehingga koleksi baju saya tidak melulu hasil jahitan Ibu.

Itu baru masalah baju, belum soal tas, sepatu, tempat pensil, alat-alat tulis dan lain-lain. Apalagi soal uang jajan! Kadang-kadang saya bisa menerima keadaan, tetapi sering saya jadi ingin seperti mereka.

Padahal sangat dekat dengan rumah saya, waktu itu di Jl. Arjuna no 37, ada dua SD negeri. Yang satu kualitasnya lumayan, sedangkan yang lain cukup memprihatinkan. SD negeri yang pertama, di depan rumah (seberang jalan), sering menjadi ajang lomba antar SD sekecamatan. Tetapi yang satunya (selisih beberapa rumah di samping rumah saya), sering “jam kosong” alias gurunya nggak datang. Kalau saya lihat penampilan murid-muridnya yang sehari-hari lalu-lalang di depan rumah saya (terutama dari SD di samping rumah), mereka sangat sederhana. Bahkan ada beberapa yang saya lihat kadang-kadang tidak pakai sepatu!

Di depan rumah saya ada pohon jambu dan pohon mangga. Halaman depan rumah saya
memang berpagar tanpa pintu, sehingga pada jam istirahat atau pulang sekolah dengan mudah sekawanan murid SD negeri itu nyelonong masuk halaman depan rumah saya dan memanjat pohon jambu atau pohon mangga kami.

Saya amati mereka, seragam lusuh, sepatu lusuh, jarang yang pakai kaos kaki… Bahkan ada yang tidak membawa tas, cuma buku-buku…

Memang di SD Negeri depan rumah jauh lebih baik penampilannya, lebih disipilin, dan lebih teratur. Namun murid-murid SD negeri depan rumah pun tetap lebih sederhana dibanding SD swasta tempat saya bersekolah. Saya pikir, kalau teman-teman saya model ini, jelas saya tidak akan minder…

Baca juga Embun pagi 
KETIKA SEMUA ORANG JAJAN DI KANTIN SEKOLAH

Pernah saya tanyakan pada Ibu, kok saya nggak disekolahkan di SD negeri dekat rumah, yang di depan rumah, tentu saja. Bayar sekolahnya pasti jauh lebih murah, dan pasti nggak akan takut terlambat. Kalau ada yang ketinggalan jadi lebih gampang, nggak repot mengambilnya ke rumah.

Ibu tersenyum mendengar alasan saya. Kemudian Ibu menjelaskan alasannya menyekolahkan semua anak-anaknya ke SD swasta Kristen. Memang pernah ada yang menyarankan pada Ibu untuk menyekolahkan anak-anak di SD Kristen, dan Ibu menganggap nasihat itu baik. Karena pendidikan dasar sangat penting, Ibu akan mencari pendidikan Kristen yang cukup kuat buat anak-anak Ibu. Memang jauh lebih mahal dan susah payah, tapi Ibu berharap itu akan menjadi bekal iman yang cukup kuat untuk jenjang pendidikan yang akan saya tempuh selanjutnya. Nanti kalau suda sekolah menengah pertama (SMP) dan sekolah Menengah atas (SMA) saya bisa mencari sekolah negeri yang baik, dengan biaya sekolah yang lebih ringan namun pendidikan agamanya (sering) tidak menjadi prioritas. Selain itu saya pasti akan memiliki teman-teman yang mayoritas beragama lain, Ibu berharap saya sudah siap menghadapinya.

Ibu bersyukur ada taman kana-kanak (TK) – SD Theresia, Jl. Imam Bonjol yang masih dalam wilayah Kelurahan Pendrikan Kidul, Semarang, tempat domisili kami. Jarak dengan rumah kami masih bisa ditempuh dengan jalan kaki kurang lebih seperempat jam. Saat anak-anak Ibu masih TK, Ibu antar-jemput kami dengan sepeda. Memang cukup merepotkan untuk Ibu seorang diri, tetapi karena ini penting dan pilihan Ibu sendiri, ia melalui masa-masa itu dengan kerelaan, tanpa mengeluh.

Setelah mendengar jawaban Ibu, saya belajar untuk menerima pilihannya, terutama belajar untuk tidak minder dengan penampilan dan perlengkapan sekolah yang saya miliki dibanding milik teman-teman SD saya.

“Jangan membandingkan keadaanmu dengan teman-temanmu, Ning. Bersyukurlah dengan apa yang ada…” Nasehat Ibu untuk membuat saya tetap bersemangat bersekolah di SD Theresia.

Dan Ibu memang benar. Bersyukur di SD Kristen tempat saya bersekolah, ada sosok Ibu Maria, guru agama saya. Orang Ambon, dan suaranya sangat empuk saat mengajar. Ibu Maria sangat pandai bercerita. Walau berbadan gemuk, beliau sangat energik. Setiap cerita yang Ibu Maria bawakan di kelas sangat hidup. Gaya dan ekspresinya, perubahan intonasi dan warna suaranya dalam bercerita sangat menghidupkan cerita pelajaran yang disampaikan. Masih melekat di benak saya cerita beliau tentang seorang anak yang suka memberontak pada orang tuanya, yang acap kali membuat ibunya susah… Sayang sebelum sempat bertobat, anak itu mati lalu masuk neraka.

Saya sangat terkesan saat Ibu Maria menceritakan penderitaan di alam neraka. Anak itu berteriak, “Haus… haus!”

Ibunya yang melihat dari surga, betapa pun sayangnya pada anaknya, tidak bisa bisa memberinya setetes air pun pada anaknya yang sangat menderita di neraka. Berkali-kali Ibunya mencoba mengirim satu ember besar penuh dengan air dari surga. Namun begitu sampai ke neraka, air itu langsung habis dimakan api!

Sang anak hanya bisa menangis menyesal dan terus meraung-raung, “Haus…haus!” Bahkan ia memanggil-manggil ibunya untuk menolong (Ibu Maria pun berjalan mengelilingi kami sambil memperagakan kegelisahan anak itu mencari setetes air untuk melegakan kerongkongannya yang haus).

Sempat terlintas dalam pikiran saya, ketika mendengar cerita itu, jangan-jangan saya seperti anak itu… sering membuat Ibu susah dengan protes dan bantahan saya… Cerita itu benar-benar masuk ke hati saya, dan saya mulai merasakan takut masuk neraka.

Baca selanjutnya di Link di bawah ini :

Embun Pagi – Sang Guru Part 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here