EMBUN PAGI: Rumah Pergumulan

0
363

Hidup ini sebuah perjalanan yang terdiri penggalan-penggalan kisah. Bak sebuah puzzle. Kadang-kadang ketika sedang menjalani potongan kisahnya, kita tidak mengerti mengapa hal ini atau itu harus kita alami. Namun setelah potongan-potongan itu terkumpul dan disusun, kita baru dapat mengerti mengapa potongan kisah itu harus kita alami….

Waktu itu sekitar tahun 1979… Rumah kontrakan yang kami tinggali, habis masa sewanya. Rumah yang penuh kenangan, karena di situlah kami tinggal terakhir dengan bapak kami. Sudah kurang lebih tujuh tahun kami tinggal di rumah itu. Budhe, demikian saya sapa pemilik rumah kontrakan kami, tinggal tepat di sebelah kami. Budhe tidak akan memperpanjang kontrakan lagi. Bila Ibu mau tetap tinggal di situ, pilihannya hanya satu, yaitu membelinya. Kalau tidak, berarti kami harus pergi dari rumah di Jl. Arjuna no 37 Semarang tersebut. Pilihan yang tidak mudah, karena harga yang ditawarkan kepada Ibu sangat tinggi di luar jangkauan. Itu artinya kemungkinan besar kami harus meninggalkan rumah kenangan tersebut.

Waktu itu kira-kira masih di kelas 2 SD, saya terbangun di tengah malam lalu ke kamar mandi. Ternyata Ibu sedang berdiri di pinggir sumur sambil memandang ke atas.

Saya ketakutan… Saya tidak mengerti, mengapa Ibu malam-malam sendirian berdiri di luar…. Diam-diam saya kembali ke kamar tidur.

Besok paginya, saya memberanikan diri bertanya, “Apa yang Ibu lakukan semalam?”

Sambil tersenyum Ibu menjawab, “O.. kamu lihat to, Ning? Jangan takut, Ibu sedang berdoa. Ibu lihat ke langit, dan Ibu katakan kepada Tuhan, ‘Tuhan, kalau Engkau sanggup menciptakan bintang-bintang di langit, aku percaya bahwa Engkau sanggup menyediakan rumah buat anak-anakku berteduh’.”

Menjelang habisnya kontrakan rumah di Jl. Arjuna tersebut, Ibu berputar-putar mencari tempat tinggal yang baru dengan harga terjangkau. Pilihan jatuh pada sebuah rumah di Jl. Kimar, dekat Gereja Baptis Indonesia (GBI) Peterongan tempat Ibu menggabungkan diri.

Namun setelah Ibu mengajak Mbah (nenek kami, mertua Ibu) untuk melihat rumah tersebut, Mbah mentah-mentah menolak tinggal di situ. Padahal Ibu sudah terlanjur membelinya. Karena uang di tangan sudah habis, Ibu ingin menjualnya kembali. Ketika itulah Ibu baru sadar, ternyata rumah tersebut nyaris tidak ada akses jalan masuk (firasat Mbah ternyata benar, rumah itu dijual dengan harga murah karena nyaris tidak punya jalan keluar-masuk).

Kalau menunggu rumah di Jl. Kimar terjual, pasti masa sewa rumah di Jl. Arjuna keburu habis. Maka, Ibu pun merayu Mbah untuk tinggal sementara bersama kami sambil menunggu rumah tersebut terjual. Nanti uangnya bisa untuk membayar rumah yang baru.

Mbah bersikeras menolak.

Menjual rumah yang tidak memiliki jalan masuk sangatlah sukar. Beberapa peminat datang hanya untuk mengontrak. Itu pun dengan harga murah karena jalan masuk yang sangat sempit.

Memikirkan reaksi Mbah terhadap rumah Kimar membuat hati Ibu hancur….

Pertolongan Tuhan Tepat pada Waktunya

Ceritanya begini. Setahun sebelumnya, selain bergumul mengenai rumah kontrakan, Ibu juga bergumul mengenai pekerjaan. Ibu ditawari mengajar sementara menggantikan seorang guru di SD Masehi Pendrikan Utara yang cuti melahirkan. Ibu diminta mengajar di kelas satu. Kebetulan waktu itu ada salah satu muridnya yang sudah beberapa minggu tidak masuk sekolah tanpa alasan jelas. Ibu mengunjunginya. Ternyata alamat rumahnya tidak jauh dari rumah kami di Arjuna waktu itu, yaitu Jl. Bima I/24.

Ibu menemukan sebuah rumah gedek anyaman bambu yang sudah reot, berlantaikan tanah. Di dalam rumah itulah Ibu bertemu muridnya. Ternyata ia tinggal bersama neneknya. Mereka tinggal hanya berdua. Bapak ibunya bercerai lalu meninggalkan anak ini di bawah asuhan neneknya.

Ibu melihat kenyataan hidup yang keras menimpa muridnya. Hal ini  membuat Ibu beberapa kali mengunjunginya. Ibu terbeban melihat kehidupan mereka. Sampai suatu saat….

Ketika untuk kesekian kalinya berkunjung, Ibu mendapati nenek itu berbaring di tempat tidur. Dipanggilnya Ibu untuk mendekat karena ada sesuatu yang ingin dibicarakan. Nenek itu menjelaskan, karena ia sudah tua dan sakit-sakitan, seorang hamba Tuhan dari Bandung yang akan mengambil cucunya untuk dirawat, akan memboyong mereka.

“Aku tidak punya apa-apa selain rumah yang reot ini, Nak. Kalau mau ambillah rumah ini seharga Rp 1 juta saja.”

Ibu terdiam mendengar tawaran itu. Memang harga yang sangat murah untuk tanah seluas  kurang lebih 200 meter persegi. Mungkinkah ini kehendak Tuhan pada saat kami sedang membutuhkan rumah?

Namun kondisi rumah itu sangat memprihatinkan. Nantinya harus keluar biaya lagi untuk membangun. Mustahil untuk dikerjakan. Jadi, Ibu simpan saja tawaran itu.

Lalu muncullah tawaran rumah di Jl. Kimar yang menurut Ibu, cukup murah, dan yang penting tidak perlu keluar uang lagi untuk membangun. Bisa langsung ditempati. Cuma, di luar dugaan Ibu, Mbah menolak mentah-mentah untuk tinggal di Kimar.

Beberapa waktu kemudian, sang nenek ini sakit keras. Sekali lagi, ia menawarkan rumahnya. Ibu menjadi sangat bingung karena sekarang kondisinya malah lebih tidak mungkin untuk membelinya… Kalau pun mau ambil kesempatan ini, nekat mengajak anak-anak tinggal sementara di rumah yang tidak layak huni asalkan bisa mengajak Mbah tinggal bersama, tapi… uang dari mana ?

Setelah beberapa saat mencari kehendak dan pertolongan Tuhan, Ibu menceritakan pergumulannya kepada Bapak dan Ibu Soegito, anggota GBI Peterongan. Ibu bilang kepada saya, nama beliau berdualah yang terpikir ketika Ibu berdoa.

Puji Tuhan, beberapa waktu kemudian Ibu mendapat pesan tertulis pada secarik kertas (kertas tersebut masih Ibu simpan, yang sempat kami temukan beberapa hari setelah beliau, pada saat kami membersihkan laci meja Ibu). Isinya cukup singkat, Bapak Soegito menganjurkan Ibu mengambil rumah di Jl. Bima. Dan pesan yang kedua, “Silakan Ibu Mulus mengambil uangnya di rumah kami.”

Sungguh sebuah kelegaan yang Ibu rasakan di tengah-tengah keadaan yang mengimpitnya: Mbah yang tidak mau tinggal di Rumah Kimar, dan Ibu yang akhirnya harus kehilangan pekerjaannya mengajar di SD tersebut yang telah “mempertemukan” Ibu dengan sang Nenek. Tuhan buka pintu ketika pintu-pintu yang lain tertutup.

Ibu pun menyambut kebaikan Bapak dan Ibu Soegito. Ibu berdoa untuk meminjam, bukan meminta. Jadi, Ibu berjanji untuk mengembalikan. Dengan kelonggaran hati Bapak dan Ibu Soegito, Ibu dipersilakan mengembalikan dalam batas waktu yang tidak ditentukan.

Apa yang Tak Pernah Terpikirkan, Tuhan Sediakan

Setelah membayarkan rumah tersebut Rp 1 juta, nenek dan cucunya itu diboyong ke Bandung. Ternyata lebih dari yang dapat Ibu pikirkan, Tuhan menggerakkan hamba-hamba-Nya untuk menopang kebutuhan kami akan tempat tinggal dengan cara-Nya… Dalam waktuNya.

Tuhan bekerja melalui sebuah keluarga Bapak Jarot dan ayahnya (anggota GBI Sambirejo, waktu itu masih cabang GBI Peterongan) bersedia menolong membangun rumah Bima tanpa dibayar. Pondasi dibangun dengan uang hasil menjual kalung-kalung emas yang masih kami miliki, peninggalan dari Bapak. Keluarga Bapak Jarot menyediakan bantuan bahan-bahan bangunan yang dibutuhkan, ditambah dengan sedikit uang yang masih ibu miliki.

Sementara rumah di Bima perbaiki, GBI Peterongan mempersilakan kami untuk tinggal di pastori. Waktu itu GBI Peterongan tidak bergembala sidang setelah Pdt. Sudarso melayani di Seminari Teologia Baptis Indonesia (STBI).

Tiga bulan kemudian, rumah di Bima pun siap dihuni walau listrik belum ada, dan jendela-jendela masih ditutup dengan papan. Yang penting pintu dapat dikunci. Kami pun boyongan ke Bima.

Tuhan tidak berhenti sampai di situ saja. Dia menggerakkan seorang donatur dari GBI Grogol Jakarta dengan kiriman uangnya berbulan-bulan sampai rumah Bima benar-benar diselesaikan. Listrik disalurkan, rumah kami dipasangi kaca jendela, dikeramik, dinding dicat…

Bukan itu saja. Berbulan-bulan Ibu berusaha menyisihkan uang untuk mengembalikan pinjaman Rp 1 juta itu kepada Ibu Soegito. Ibu mengangsur Rp 10 ribu setiap hari Minggu saat mereka bertemu di gereja. Sampai akhirnya Ibu Soegito tidak tahan lagi menerima angsuran dan meminta Ibu berhenti membayar. Padahal angsurannya masih jauh dari lunas.

Saya mendapatkan cerita itu sepulang Ibu dari gereja, bahwa utangnya sudah dianggap lunas. “Padahal sudah Ibu tunjukkan catatan pembayaran Ibu yang masih kurang, tapi Bu Soegito tidak mempedulikan itu. Pokoknya Bu Soegito sudah tidak akan menerima uang dari Ibu…” tuturnya sambil tersenyum lega di tengah saratnya beban yang harus Ibu pikul.

Itulah sebabnya, Ibu menyebut rumah kami di Bima adalah “Rumah Doa”, “Rumah Pergumulan” dan “Rumah Mukjizat”.

Tetapi seperti ada tertulis: “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”

(1 Korintus 2:9)

Sebuah Puzzle

Tidak boleh memperpanjang kontrakan rumah, sempat membuat Ibu bingung. Penolakan Mbah terhadap apa yang sudah diperjuangkan Ibu, membuatnya hancur hati. Kesempatan mengajar yang sangat singkat di sebuah Sekolah Dasar, bisa saja merenggut impian Ibu. Namun ketika kepingan-kepingan kisah ini dirangkai, terlihat rencana Allah yang indah. Dia tidak ingin kami terus tinggal di rumah kontrakan. Allah mau, kami punya rumah sendiri. Dan ketika Ibu membeli rumah yang “terjangkau” oleh pemikiran Ibu, Allah ganti dengan rumah yang jauh lebih bagus! Bukan dengan uang Ibu, dan di lokasi yang cukup strategis, di luar pemikiran Ibu.

Melalui tulisan ini, saya rindu menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya untuk semua pihak, yang tidak bisa saya sebutkan satu per satu,  yang telah dipakai Allah menjadi bagian dalam puzzle hidup kami. Dengan tangan-Nya yang ajaib, Allah merenda kehidupan kami. Dia memproses iman Ibu, yang menjadi teladan buat kami. Sebuah perjalanan panjang Ibu dengan Tuhan, dan tak satu pun kejadian terluput dari perhatian-Nya.

Terpujilah Tuhan!

*)Penulis adalah Direktur RS Mitra Setia, Ungaran, Jawa Tengah

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here