Embun Pagi – Melihat dan Mendengar Khotbah Ibu Tiap Hari

0
262

Pandemi Covid-19 ini membuat kita “stay at home”. Saya kagum, bagaimana Kuasa Tuhan membuat dunia ini “beristirahat”. Semua jadwal kegiatan kami ditunda sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Pekerjaan di klinik pun sudah sangat berkurang. Kini kami ada banyak waktu bersama di rumah. Dulu, jarang saya pulang dari klinik bisa bertemu langsung dengan anak tertua kami. Tetapi sekarang sudah dipastikan dia ada di rumah ketika saya pulang…

Inilah saatnya waktu keluarga. Dan satu hal Tuhan sadarkan, keluarga adalah pelayanan terpenting kami. Ibadah bukan lagi di gedung, pujian tidak lagi diiringi band gereja. Khotbah tidak lagi dilakukan di depan orang banyak. Tetapi ini saatnya setiap kepala keluarga membawa seluruh anggota keluarga menyembah Tuhan. Menghadirkan hadirat Tuhan dalam rumah tangga. Di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam nama Tuhan, di situ Tuhan ada di tengah-tengah mereka.

Ini mengingatkan saya pada masa kecil dulu. Ibu juga berjuang mengumpulkan kami setiap hari untuk berdoa, memuji Tuhan, membaca Alkitab dan mendengar khotbah singkat Ibu sendiri.

Buku yang kami pakai saat itu adalah renungan Alkitab untuk anak-anak serial Toto dan Titi. Dipanggilnya satu per satu anak-anaknya di sore hari untuk berkumpul. Biasanya waktu itu kami sedang seru-serunya bermain. Tetapi itulah waktu terbaik sebelum Ibu pergi mengikuti kegiatan gereja atau persekutuan.

Yang menyusahkan adalah memanggil kakak-kakak lelaki saya karena mereka biasa bermain sampai jauh. Kadang-kadang yang satu sudah pulang. Tetapi karena kelamaan menunggu kakak yang lain tak juga datang, dia pergi main lagi, sementara yang ditunggu kemudian datang. Lalu terpaksa kami menunggu lagi. Tidak jarang kami ribut dulu sebelum mezbah keluarga…

Ibu punya cara unik untuk mengumpulkan kami dengan menyiapkan camilan (misalnya kacang atom, biskuit, roti yang dipotong menjadi enam bagian, permen dan lain-lain) dalam enam wadah kecil. Ibu berkata ini adalah pengganti uang jajan. Namun sebelum menikmatinya, kami harus berkumpul untuk berdoa dan membaca Firman Tuhan bersama. Selalu, kalau ada di antara kami yang hendak makan camilan itu, Ibu dengan tegas berkata, “Jangan dimakan sekarang! Doa bersama dulu…”

Menjelang kami remaja (karena selisih usia di antara kami tidak banyak, bisa dibilang kami tumbuh bersama-sama), makin lama kami mulai bosan dengan camilan yang Ibu sediakan. Walaupun banyak variasinya, lebih menarik bisa jajan di luar.

Kami sering protes pada Ibu soal camilan itu. Camilan di rumah tidak lagi menjadi daya tarik buat kami. Selain itu kami mulai mengikuti kegiatan sore yang padat, entah itu kegiatan ekstra di sekolah, persekutuan, atau kegiatan di gereja. Karena itu, waktu kumpul keluarga menjadi lebih sulit dan jarang terjadi. Menyesuaikan jadwal tujuh orang rasanya memang tidak mungkin waktu itu.

Tetapi di momen-momen istimewa, seperti hari ulang tahun kami, Ibu tetap berusaha mengajak kami berdoa bersama, sebelum membagi kue atau camilan ulang tahun (yang dikemas secara khusus).

Mezbah keluarga akhirnya tidak bisa rutin kami lakukan setiap hari. Setiap dari kami selalu ada alasan menghindarinya. Namun selalu ada cara Ibu untuk menabur Firman Tuhan. Kalau mezbah keluarga hanya sebatas rutinitas, pasti bukan hal yang membawa dampak buat setiap anggotanya. Kalau dipaksakan dilakukan, pasti akan membuahkan perbantahan bukan pertumbuhan (hem… bandel ya, kami saat masih kecil).

Ibu menanamkan benih Firman Tuhan dalam hati kami dengan keteladanannya. Saya perhatikan, dalam setiap kesempatan Ibu selalu bicara Firman Tuhan. Sedang membahas apa pun, ujung-ujungnya pasti keluar Firman Tuhan.

“…..haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun…..” (Ulangan 6:7)
Ayat Firman Tuhan seperti mengalir begitu saja dari mulut Ibu, baik sedang menegur, memarahi kenakalan kami atau pun sedang memuji ketika kami lakukan sesuatu yang baik. Pokoknya dalam situasi baik maupun tidak baik, selalu ada Firman Tuhan. Karena bagi Ibu….

Firman Tuhan itu hidup, kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh dan Firman Tuhan tidak akan kembali dengan sia-sia…..

Pernah suatu saat, ketika saya sedang asyik mengerjakan PR, lantai ruang makan (entah kenapa) terlihat kotor sekali… Ibu dari dapur, minta tolong saya untuk menyapunya sebentar sebelum mengundang semut datang.

Dengan setengah jengkel, saya menjawab, “Ya, Bu… nanti…”
Ibu mengulang lagi, supaya saya kerjakan sekarang juga.
Saya merasa, kenapa harus saya? Kenapa nggak yang lain yang disuruh? Hanya kebetulan saya yang ada di depan mata Ibu…
Berulang saya jawab “nanti”.

Sekali lagi Ibu meminta saya menyapunya sekarang juga.
Lalu dengan rasa enggan campur jengkel, wajah cemberut, saya bangkit dan mulai menyapu.

Ketika itulah Ibu memanggil saya dengan nada agak tinggi, membuat saya kaget. Lalu dengan suara yang tegas, Ibu berkata, “Sudah, Ning, letakkan sapu itu! Biar Ibu yang mengerjakan sendiri!”

Ibu hampir tidak pernah membentak saya seperti itu. Saya tidak mengerti apa yang Ibu maksudkan….

Mulanya saya menolak meletakkan sapu itu, dan bermaksud terus menyapu.
Namun dengan tegas Ibu berkata, ”Letakkan sapu itu, atau berikan pada Ibu. Kalau kamu terpaksa melakukannya, tidak akan jadi berkat. Biar Ibu yang melakukannya!”

Sambil berjalan mendekat, Ibu mengambil sapu itu dari tangan saya dan mulai menyapu. Lalu berkatalah Ibu, “Ingat baik-baik Ning, apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.”

Selesai menyapu, dengan suara yang tenang Ibu menjelaskan bahwa Ibu tidak mau saya mengerjakan sesuatu yang sia-sia. Apa pun yang saya kerjakan akan sia-sia di mata Tuhan, kalau saya kerjakan dengan separuh hati karena terpaksa. Karena berkatnya sudah dicuri Iblis. Itulah sebabnya Ibu menggantikan saya untuk melakukannya.

Pengalaman sore itu benar-benar menjadi khotbah yang tidak akan bisa saya lupakan. Menjadi perenungan seumur hidup saya, karena akan banyak “sapu” lain yang Tuhan berikan pada saya dan “lantai kotor” lain yang harus saya bereskan…. Akankah perbuatan saya menyenangkan hati Tuhan atau sia-sia di mata-Nya, itu adalah pilihan saya.

Serial khotbah Ibu berakhir ketika saya memeluknya di saat embusan napas terakhirnya. Sesaat setelah usia Ibu selesai, saya amati lekat-lekat wajahnya. Kerut-merut usia tua dan penderitaannya lenyap, berganti seutas senyum.

Teduh… seteduh ketika masa hidupnya, Ibu selalu yakin akan dijemput Kekasih Jiwanya, Sang Mempelai Pria yang sangat dicintainya. Nama yang selalu disebutnya ketika bicara dengan kami anak-anaknya…

Saya temukan jawabannya! Jika cinta Tuhan melekat kuat, tidak ada lagi yang perlu saya takutkan…

Saat ini, ketika pandemi Covid-19 melanda dunia dan ketakutan tersebar di sekitar kita, terbayang kembali wajah teduh Ibu. Cinta Ibu pada Tuhan Yesus tidak tergoncang dalam badai apa pun. Apalagi saat ini, aktivitas pelayanan banyak berhenti. Setiap orang diminta menjaga jarak, bahkan (untuk sementara) pintu gereja ditutup.
Semua kembali kepada pribadi masing-masing. Tuhan mencari setiap hati yang mau menjadi rumah-Nya. Tuhan menguji setiap cinta kepada-Nya. Bila cinta saya pada-Nya melekat kuat seperti maut, apalagi yang saya takutkan? Hai maut, di mana sengatmu?
Amin! Tuhan Yesus memberkati!

*)Penulis adalah Direktur Klinik Mitra Setia Ungaran, anggota GBI Peterongan Cabang Klepu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here