Embun Pagi | KEHILANGAN ALKITAB KENANG-KENANGAN DARI BAPAK

0
107

Naning Suryanto*)

Setiap kali memperingati ulang tahun Gabungan Gereja Baptis Indonesia Indonesia (GGBI, setiap 12 Agustus, red.),  ingatan saya melayang ke Bapak. Mungkin… karena dulu sewaktu saya masih kecil, beberapa pendeta bercerita bahwa Bapak punya kiprah dalam terbentuknya GGBI. Dan Bapak sangat getol untuk memajukan peginjilan di Indonesia, terutama melalui konsep “Keluarga Besar GGBI”.

Di mana saya waktu itu? Saya masih terlalu kecil untuk dapat memahami panggilan pelayanan Bapak, masih terlalu kecil untuk ikut mengerti konsep “keluarga besar” seperti yang ada dalam benak Bapak. Terlalu kecil untuk dapat ikut merasakan gairah Bapak dalam ber-GGBI (walaupun terhitung sangat singkat)…

Sampai saya besar, saya kenal wajah Bapak hanya dari foto-foto beliau. Saya kenal kisah hidup Bapak hanya sepenggal-sepenggal dari cerita Ibu dan dari kata orang.

Ibu memang bercerita kepada kami tentang Bapak, hidupnya dan pelayanannya, supaya kami, anak-anaknya, mengenal Bapak. Namun secara detail, bagaimana kiprahnya, bagaimana situasinya dulu dan apa tantangan yang dihadapi Bapak, saya tidak banyak mendengar dari Ibu. Jadi bisa dibilang, saya nyaris tidak tahu apa-apa tentang pelayanan Bapak.

Malu sebenarnya untuk mengakui, bahwa saya anak Pdt. Mulus Budianto, tetapi saya tidak banyak tahu sepak terjang pelayanan Bapak di GGBI! Saya tidak banyak tahu pengajaran Bapak. Justru dari orang-orang lain (pendeta-pendeta Baptis, teman-teman Bapak) saya sering mendengar cerita suka duka pelayanan Bapak. Tetapi tetap saja menjadi potongan-potongan puzzle yang tidak utuh….

Namun bagaimana pun juga, Bapak telah memberikan warisan yang sangat berharga buat kami, anak-anaknya. Sejak saya kecil, bahkan saat belum bisa membaca, saya sudah punya Alkitab (Perjanjian Baru). Di Alkitab itu, pada halaman pertama tertulis (dalam huruf cetak) “Kenang-kenangan dari Pdt. Mulus Budianto untuk anakku: Phebe Setyaning Karti”. Kemudian tertera tanda tangan Bapak (dalam bentuk stempel): “Pdt. Mulus Budianto”.

Ternyata semua anak Ibu juga memiliki Alkitab seperti saya, yang tertulis nama mereka masing-masing. Ketika sudah bisa membaca, saya bertanya kepada Ibu, apakah ini tulisan tangan Bapak?

Ibu menjawab, itu bukan tulisan tangan Bapak tetapi tulisan Ibu sendiri (biasanya Ibu menulis dalam huruf Latin, sih… jadi saya tidak mengenalnya). Ibu memang sengaja menulis dengan cara yang berbeda karena ide pemberian Alkitab ini datang dari Bapak. Ternyata ada cerita istimewa di balik keberadaan Alkitab itu…

Kira-kira setahun sebelum Bapak meninggal, menurut penuturan Ibu, Bapak memberikan suatu “pesan”. Waktu itu sepulang memimpin ibadah pemakaman seseorang, Bapak bercerita, ia melihat begitu banyak karangan bunga bela sungkawa. Padahal karangan bunga tersebut sebentar akan rusak, layu lalu terbuang sia-sia.

Dari situ muncul ide Bapak dan sekaligus sebuah “pesan” kepada Ibu: Seandainya Bapak lebih dulu dipanggil Tuhan, kalau ada yang ingin mengucapkan bela sungkawa, janganlah mereka menyumbang karangan bunga. Bapak ingin, ucapan bela sungkawa mereka diwujudkan dengan menyumbang Alkitab. Nanti Alkitab-alkitab yang terkumpul itu dibagi-bagikan kepada banyak orang. Jadi, uangnya tidak terbuang percuma. Sebaliknya, Firman Tuhan yang dibagikan pasti memberikan berkat. Dan  yang penting, dapat berdampak kekekalan pada mereka yang mau sungguh-sungguh menerimanya.

Ibu hanya menyimpan “pesan” itu dalam hati. Waktu itu, Ibu sama sekali tidak menyangka bahwa saatnya tidak lama lagi…

Ketika saatnya datang, Ibu benar-benar mewujudkan kerinduan Bapak untuk membagikan Alkitab kepada orang-orang di sekitar acara pemakaman Bapak. Termasuk tukang-tukang becak yang lagi nongkrong di pinggir jalan.

Pernah suatu hari, kira-kira seminggu setelah acara pemakaman Bapak, seorang tukang becak datang di rumah kami di Jalan Arjuna No. 37 Semarang. Tukang becak ini khusus datang untuk meminta Alkitab! Karena teman-temannya dapat, kok dia belum dapat!

Puji Tuhan, masih ada Alkitab yang bisa diberikan Ibu kepada tukang becak ini. Jika orang lain saja diberi, maka Ibu sisihkan enam buah Alkitab untuk anak-anaknya sebagai kenang-kenangan dari Bapak…

Kecintaan untuk membagikan Injil kepada sebanyak mungkin orang, terus Bapak lakukan. Bahkan pada saat embusan napas terakhir, Bapak rindu momen itu diisi dengan membagikan Alkitab kepada sebanyak mungkin orang.

Itu sebabnya Alkitab kenang-kenangan dari Bapak, menjadi sangat berharga buat saya. Saya sangat suka menatap lekat-lakat tulisan di halaman pertama itu. Setiap kali saya membaca Alkitab itu, setelah membuka halaman pertama, saya dapat merasakan, Bapak pasti senang melihat saya membaca Alkitab kenang-kenangan darinya.

Setiap kali saya bepergian, tidak tidur di rumah, selalu Alkitab ini saya bawa dalam tas, entah ke rumah saudara atau ikut retret. Walau kemudian saya punya Alkitab lain (Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru), saya tetap membawa Alkitab dari Bapak.

Suatu kali saat ikut retret ke luar kota, saya bersama teman-teman berangkat ke Yogyakarta dengan bus umum. Berdesak-desakan kami berdiri di dalam bus, tas-tas dijadikan satu ditumpuk di bagian belakang. Saat turun pun kami berdesak-desakan.

Setelah turun semua, baru kami sadar kalau tinggal tas saya yang belum ikut diturunkan. Tetapi bus sudah telanjur kencang berlalu….

Baju dan lain-lain mudah saja diganti yang baru. Satu-satunya yang saya sesali waktu itu adalah kehilangan Alkitab kenang-kenangan dari Bapak! Saya tidak akan pernah bisa melihatnya lagi. Saya tidak akan pernah bisa melihat lagi tulisan “… untuk anakku Phebe Setyaning Karti…” Dan bagi saya, waktu itu, Alkitab itu tak pernah bisa tergantikan!

Ibu menghibur saya, bahwa Alkitab dari Bapak pasti akan ditemukan orang  lain. Dan berdoalah, agar itu menjadi berkat baginya. Jadi kehilangan saya tidak sia-sia…

Ada pelajaran yang sangat berharga di balik peristiwa itu. Tanpa saya sadari, saya mengultuskan Bapak melalui Alkitab kenang-kenangan itu. Ketika Alkitab itu “dirampas” dari hidup saya, saya merasa seperti kehilangan. Paling tidak semangat saya untuk membaca Alkitab jadi turun.

Ibu menolong saya untuk lebih tajam melihat kejadian ini. Memberitahu saya bahwa itu tidak benar, dan Allah izinkan itu terjadi supaya saya melepaskan diri bayang-bayang Bapak.

Saya harus tetap bersemangat untuk belajar Firman Tuhan seumur hidup saya. Saya harus membaca lebih banyak lagi, berkali-kali lagi, Firman Tuhan. “Semangat” itu tidak akan pernah terampas dari hidup saya dengan hilangnya Alkitab kenangan dari Bapak. Hanya bedanya, saya memang tidak akan pernah memiliki lagi Alkitab yang ada tulisan “….. untuk anakku Phebe Setyaning Karti…”.

Tetapi itu tidak pernah mengurangi kuasa kebenaran Firman Allah! Karena tanda tangan Bapak (apalagi cuma stempel) tidak ada artinya apa-apa. Sejak saat itu saya mulai membiasakan diri, untuk membaca Alkitab “tanpa bayang-bayang Bapak”.

Alkitab kenangan itu mengajarkan saya bahwa Bapak (melalui Ibu) sangat rindu agar kami, anak-anaknya, mencintai Alkitab. Bagi saya itu seperti “pesan terakhir” Bapak buat kami, anak-anaknya. Tetapi kini, kecintaan saya pada Alkitab harus muncul dari dalam diri saya sendiri. Saya punya tanggung jawab sendiri untuk membaca, mempelajari, hidup di dalamnya dan membagi Firman Tuhan buat orang lain.

Tanpa terikat oleh kenangan masa lalu, Tuhan rindu membentuk saya sendiri sesuai kemauan dan rencana-Nya dalam hidup saya. Boleh mengenang Bapak, tetapi jangan sampai mengikatkan diri pada kenangan itu, karena bisa saja saya tidak akan maju satu langkah pun.

Bapak sudah selesai, tetapi saya yang masih hidup harus terus melangkah. Bahkan Ibu mengajarkan prinsip yang penting, yaitu “Bukan karena Bapak”. Saya melayani Tuhan, saya belajar Firman Tuhan, saya memberikan hidup saya buat Tuhan, semata-mata karena cinta saya pada Tuhan. “Bukan karena Bapak”.

Demikianlah, Bapak mewariskan semangatnya kepada saya. Tetapi Ibu yang mengajarkan makna dan memberikan teladannya dalam hidup saya.

Akhirnya… tetaplah bersemangat melayani, GGBI-ku! Bersemangatlah untuk memenangkan banyak jiwa bagi-Nya. Bertumbuh dan makin berkembang dalam kecintaan kita akan Injil. Mengutus makin banyak orang yang mencintai Injil dan rela membaginya dengan orang lain sampai ke pelosok negeri, bahkan berbagai belahan dunia. Rela membayar harga untuk Injil! Biar Dia semakin bertambah, kita makin berkurang, dan semakin tenggelam dalam Kasih-Nya.

GGBI untuk Tuhan Yesus!

“Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan ALLAH yang menyelamatkan setiap orang yang percaya…” (Roma 1 : 16)

 

*)Penulis adalah dokter umum, anggota GBI Peterongan Cabang Klepu, Jawa Tengah

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here