Embun Pagi: “BIASA SAJA NAMUN ‘TAK BIASA'”

0
259

Setiap anak selalu punya cerita. Cerita pengalaman hidupnya, yang mungkin “ringan” atau biasa-biasa saja di telinga kita.

Ini tentang Afel – anak sulung kami, ketika ia masih duduk di bangku Playgroup Kanaan Nusantara. Seperti sekolah-sekolah lain, dalam rangka memperingati Hari Kartini, sekolah Afel pun mengadakan fashion show pakaian adat. Karena anak kami laki-laki, maka rasanya tidak terlalu sulit untuk mencari lokasi penyewaan baju adat.

Karena kesibukan pekerjaan, kami baru mencari tempat penyewaan baju adat sehari menjelang hari H. Kami ingin Afel mengenakan baju adat Jawa: baju beskap, stagen, blangkon, dan kain jarit. Sudah terbayang betapa imutnya Afel mengenakan setelan itu.
Tetapi, di luar dugaan, baju-baju adat di setiap tempat penyewaan -biasanya salon-salon- sudah ludes dipinjam anak-anak dari sekolah lain, terutama baju-baju yang seukuran Afel. Namun puji Tuhan! akhirnya kami menemukan satu-satunya baju adat seukuran Afel yang dapat kami sewa di sebuah salon. Setelan baju adat Riau, yang disebut baju monyet. Baju ini dipadukan dengan celana panjang, lengkap dengan kain segi empat sebagai penutup kepalanya.


Keesokan paginya, 21 April 2005, Afel tampak begitu bersemangat dan antusias menyambut Hari Kartini di sekolahnya. Tak seperti biasa, pagi-pagi sekali dia sudah bangun dan minta mandi. Segera dikenakannya “Baju Silat” -sebutan dari Afel untuk baju adat Riau, dan bersiap berangkat ke sekolah.

Karena jam masuk di Playgroup Kanaan adalah jam 8 pagi, biasanya saya sekalian ikut berangkat ke klinik diantar suami. Saat menunggu persiapan saya itulah, tak henti-hentinya Afel melakukan gerakan-gerakan silat seperti yang pernah dia lihat di televisi sembari bergaya bak seorang pendekar di depan cermin besar.

Jarak sekolah Afel dari rumah kontrakan kami hanya sekitar lima menit dengan sepeda motor. Karena itu Afel selalu mampir ke klinik di setiap perjalanannya berangkat sekolah.
Setibanya di klinik, bagaikan seorang artis, Afel disambut teman-teman sekerja saya. Ada yang sekedar memuji, berusaha menggendong, ada pula yang berebut ingin mencium dan mencubit pipinya.

Baca EMBUN PAGI | MBAH TERLALU SAYANG DILEPASKAN

Tiba-tiba, di tengah kerumunan teman-teman, datanglah istri dr. Timotius -pimpinan klinik kami- dengan kameranya, ingin memotret Afel. Anak lanang kami yang selalu sadar kamera itu pun langsung turun dari sepeda motor dan berlari ke arah taman di pojokan klinik. Di situ Afel kembali bergaya pendekar silat sambil beraksi di depan kamera.

Selama di sekolah, biasanya Afel ditemani Bu Nuk, sahabat tempat kami menitipkan Afel sementara kami berdua bekerja. Dari pulang sekolah sampai sore (kadang juga malam), Afel ada di rumah Bu Nuk. Baru setelah saya pulang dari klinik dan suami saya pulang dari kantor di Semarang, kami menjemput Afel. Namun, karena hari itu spesial, maka saya ingin bersama Afel di sekolahnya. Setelah dr. Timotius mengizinkan saya mendampingi Afel selama satu sampai satu setengah jam di sekolah, kami pun berangkat bersama.

Di sekolah, teman-teman Afel sudah berkumpul. Mereka sangat lucu mengenakan pakaian adat. Kebanyakan anak lelaki mengenakan pakaian adat Jawa beskap, hanya Afel sendiri yang mengenakan baju adat Riau.

Setelah upacara pembukaan, kontes pun dimulai. Kesempatan penampilan pertama diberikan pada anak-anak playgroup.


Diawali pengarahan dari seorang ibu guru cantik -Bu Dewi- kepada anak-anak mengenai cara naik panggung, melangkah, bergaya di tengah panggung, hingga kembali turun panggung. Kemudian sang guru mengajak semua hadirin bertepuk tangan meriah sebagai tanda dimulainya kontes fashion show Playgroup dan TK Kanaan. Satu per satu nama anak dipanggil sesuai urutan absensi. Namun ternyata mereka masih malu-malu, tak satu pun anak yang mau maju! Hingga namanya berulang-ulang dipanggil, tak ada yang menggubris. Beberapa guru berusaha merayu, bahkan ibunya sendiri ikut membujuk anak-anaknya, namun tetap anak-anak bergeming. Alih-alih naik panggung, para peserta fashion show cilik itu malah merajuk.

Sampai akhirnya nama Raphael (Afel) dipanggil. Afel spontan melangkahkan kaki ke panggung. Bersyukur, untuk pertama kalinya ada anak yang akhirnya maju ke panggung.
Tapi, ya begitulah, Afel adalah Afel. Dia pun melangkahkan kakinya seenaknya, dengan gaya semaunya, tidak mengikuti pengarahan gurunya.

Dengan sabar Bu Dewi ikut maju ke panggung dan menuntun arah langkah Afel.Sampai akhirnya huuup! Afel meloncat turun dari panggung disambut riuh rendah tepuk tangan para hadirin.

Sayang waktu saya terbatas untuk menunggui Afel. Cukup puas bagi saya sudah bisa melihat Afel tampil. Setelah berpamitan dengan gurunya, saya pun kembali ke klinik. Bu Nuk juga sudah datang, jadi saya bisa meninggalkan Afel di sekolah. Saya tidak tahu bagaimana jalannya fashion show itu selanjutnya.

Siang hari di tengah-tengah pekerjaan saya di klinik, tiba-tiba muncul pesan pendek melalui SMS dari Bu Nuk, “Bu, Afel juara satu!”

Haaah… Masa sih ?! Pikir saya spontan. Sebab apa yang dilakukan Afel tadi hanya berani tampil di kesempatan pertama, bahkan dia tidak mengikuti aturan yang sudah ditetapkan. Dari segi kostum pun, Afel paling sederhana dibanding teman-temannya. Biasanya peserta lomba yang tidak mengikuti aturan lomba pasti kena diskualifikasi. Tapi, ini kok malah menang, juara satu lagi!

Baca Juga Embun Pagi | KEHILANGAN ALKITAB KENANG-KENANGAN DARI BAPAK

Segera saya SMS ke mas Gatot – suami saya, bahwa Afel jadi juara I lomba perayaan Hari Kartini di sekolah.


Menurut cerita suami saya -yang waktu itu sedang berada di rumah orang tuanya (Kakek-Nenek Afel)- begitu mendengar kabar itu, Kakek Afel sangat antusias ingin segera bertemu atau paling tidak melihat foto cucu kesayangan-nya itu.

“Ndi fotone?” (mana fotonya?), desak sang kakek menagih foto ketika kami tidak segera mengirim foto “Sang Juara” kepadanya.

Karena zaman itu belum ada smartphone, maka kami harus menunggu beberapa hari sampai foto itu selesai dicetak.

Akhirnya, bukan hanya foto yang kami kirimkan, namun juga sang model -Afel- “jagoan” sang kakek. Kami membawa Afel menemui kakeknya beserta foto dan pialanya.

Agak geli juga kalau mengingat “kemenangan” Afel ini. Hanya karena Afel berani maju yang pertama, Afel jadi juara. Ini sebuah penghargaan untuk keberaniannya, mengalahkan kriteria keindahan kostum, kerapian, cara bergayanya, dan persyaratan lain.

Sebuah prestasi memang, tapi -terus terang- bagi saya itu prestasi yang biasa saja. Sebenarnya, keberanian Afel mau tampil duluan, bukan semata-mata karena ia lebih berani dari teman-temannya yang lain. Tapi karena dia sedang dalam “good mood”.

Mungkin teman-teman Afel yang lain sedikit dipaksa orang tuanya untuk memakai pakaian adat yang lumayan ribet itu. Tapi dengan Afel, kami tidak mengalami kesulitan sama sekali, karena bajunya tidak jauh berbeda dengan baju sehari-hari. Mungkin karena sedikit dipaksa, teman-teman Afel jadi nggak percaya diri.

Namun bagi kakeknya, piala Afel tetaplah sangat istimewa. Ia begitu antusias dengan piala Afel, maka kami merelakan piala itu disimpan di rumah kakek neneknya di Semarang. Piala itu ia letakkan di dalam sebuah lemari kaca, bersanding dengan foto “Sang Juara” yang tengah beraksi dengan baju silatnya, kostum yang mengantar kemenangannya.

Kadang, kalau sedang kangen pada Afel, piala dan foto itu ia taruh di atas meja kesayangannya agar bisa dipandang atau sekadar dipamerkan pada tamu yang datang berkunjung. Kami makin mengerti bahwa Afel, ada di hati kakeknya, kebanggaannya. Dan bertahun-tahun kami biarkan piala itu ada di sana.

Ternyata, di penghujung usia Bapak (kakek Afel), rasa sayang dan bangganya terhadap Afel, membuka peluang bagi kami untuk mengajak Bapak membuka hatinya kembali untuk Tuhan Yesus.

Kami lontarkan satu pertanyaan pada Bapak, “Pak, nanti setelah kematian menjemput, apakah Bapak ingin bertemu Afel dan kami semua di surga?

Bapak mengiyakan dengan mata berbinar

“Nah, kalau Bapak mau, Bapak harus percaya kepada Tuhan Yesus, seperti kami juga percaya pada-Nya,” saya menyambung.

Demikianlah sebuah kemenangan yang biasa dengan piala yang tidak istimewa -karena Afel tidak pernah lagi jadi juara fashion show di TK-nya- dapat dipakai Tuhan untuk mengawali sebuah kemenangan yang luar biasa!

Tuhan memang sering memakai yang biasa-biasa saja untuk dijadikan sesuatu yang istimewa. Kita mungkin menganggap diri biasa-biasa saja, tetapi tidak demikian bagi Tuhan. Kita istimewa bagi-Nya. Dia sudah membayar harga yang luar biasa untuk menebus kita. Ia memiliki tujuan khusus dalam hidup kita masing-masing yang mesti kita penuhi. Tantangan kita adalah menemukan tujuan Allah itu bagi kita.

Piala Afel hanyalah alat. Karena pada akhirnya kami menemukan suatu kesempatan yang istimewa di balik kisah piala itu. Namun, bagian yang terpenting adalah bagaimana Tuhan memproses hati kami bertahun-tahun untuk tetap mengasihi Bapak dan merindukan keselamatan baginya. Tuhan Yesus, Sang Maestro kehidupan, sudah merangkai hari-hari kami yang tampaknya biasa-biasa saja dan merajutnya menjadi hari yang istimewa.

Sampai tiba saat Bapak pulang ke surga, foto dan piala pertama Afel masih terpajang di meja kebanggaan sang Kakek.

“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8:28).


*)Penulis adalah anggota GBI Peterongan Cab. Klepu
Editor: Andry

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here