EKONOMI KREATIF | Mendorong Daya Saing di Masa Depan

0
116
Seorang peserta Seminar Nasional Ekonomi Kreatif (7 September 2015) mengabadikan klip animasi Battle of Surabaya

Lembaga penerbitan merupakan salah satu dari 16 subsektor industri kreatif yang patut dikembangkan di Indonesia. Pasalnya lembaga inilah yang memberikan kesempatan kepada mereka yang ingin menuangkan ide-ide dalam bentuk tulisan. Hanya saja diakui Ricky Josep Pesik Wakil Ketua Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf), tantangan lembaga literatur tersebut cukup berat karena banyaknya jalur yang harus ditempuh sebelum produk yang dihasilkan sampai ke tangan pembaca.

“Saat ini kami (Bekraf) lebih memilih fokus pada tiga subsektor prioritas yaitu film, aplikasi dan musik; kuliner; serta kriya. Ini dikarenakan film dapat mengangkat subsektor lain seperti desain komunikasi visual, seni pertunjukan, animasi, fesyen, dan sebagainya,” kata Ricky dalam seminar bertema “Ekonomi Kreatif Sebagai Gelombang Kekuatan Ekonomi Baru Berbasis Kreativitas dan Inovasi” Senin 7 September 2015.

Untuk lebih mendongkrak semangat dan memberi pemahaman kepada para peserta seminar, panitia juga memutarkan video klip soundtrack film animasi Battle of Surabaya,  yang diproduseri Ketua STMIK AMIKOM Yogjakarta, Prof. Dr. M. Suyanto, M.M. Film tersebut menjadi salah satu nominasi untuk kategori Best Foreign Animation Trailer dalam Golden Trailer Awards 2014.

Acara yang digagas Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) itu menghadirkan sejumlah ahli di bidangnya. Mereka adalah Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan dan Daya saing KUKM, Kemenko Perekonomian Dr. Ir. Mohammad Rudy Salahuddin, Wakil Rektor III Universitas Telkom Dr. Ama Suyanto, M.B.A., Dekan Fakultas Industri Kreatif Universitas Telkom Dr. Ir. Agus Achmad Suhendra, M.T. Selain itu, hadir pula para pelaku industri kreatif antara lain Wakil Kepala Badan Ekonomi Kreatif Ricky Josep Pesik, Direktur Pengembangan Usaha Lembaga Pembiayaan Dana Bergulir (LPDB) KUMKM Ir. Adi Trisnojuwono, Sekretariat Bersama untuk Pembangunan Ekonomi Indonesia dan Korea Yoosung Shin, Ph.D., Ketua STMIK AMIKOM Yogjakarta, Prof. Dr. M. Suyanto, M.M., Sekretaris Jenderal Game Developer Indonesia (GDI) Robbi Baskoro, dan Directur Tender Indonesia, Tito Loho.

Seminar yang dihelat di di Universitas Telkom ini bertujuan mensosialisasikan rencana kebijakan dan program Pemerintah saat ini dalam pengembangan ekonomi dan industri kreatif. Pasalnya, kreativitas dan inovasi sangat diperlukan dalam mengoptimalkan berbagai potensi kekayaan negara. Ekonomi kreatif berbasis kepada modal kreativitas sumberdaya manusia sehingga berpeluang mendorong daya saing bangsa Indonesia di masa depan.

Untuk itu Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Kreatif, Kewirausahaan, dan Daya Saing Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM), Kemenko Perekonomian Mohammad Rudy Salahuddin menegaskan, pemerintah akan terus memegang komitmen untuk mengembangkan ekonomi kreatif. Pemerintah sadar, potensi ekonomi kreatif mampu berkontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) serta penyerapan tenaga kerja dan nilai ekspor.

“Kami targetkan peningkatan kontribusi ekonomi kreatif terhadap PDB (Produk Domestik Bruto) dari 7,1 persen pada 2014 menjadi 12 persen pada 2019. Begitu juga nilai ekspornya, diharapkan naik dari 5,8 persen menjadi 10 persen.”

Menurut situs resmi Kemenko Perekonomian, ekonomi kreatif mampu berkontribusi 7,05 persen terhadap PDB Nasional. Juga menyerap 11,91 juta tenaga kerja atau 11 persen dari total tenaga  kerja nasional, serta menciptakan 5,4 juta usaha kreatif yang sebagian besar merupakan UKM. Industri kreatif tersebut meliputi arsitektur; desain; film, video, dan fotografi; kerajinan; kuliner; layanan komputer dan piranti lunak; musik; mode; permainan interaktif; penerbitan; periklanan; radio dan televisi; riset dan pengembangan; seni pertunjukan; dan seni rupa. Tercatat, industri kuliner merupakan sub sektor dengan kontribusi PDB terbesar dengan 32 persen. Sementara proporsi industri layanan komputer dan perangkat lunak; periklanan; arsitektur; riset dan pengembangan; fotografi, film, dan video; radio dan televisi; serta permainan interaktif, terhadap PDB masih rendah. Meski demikian, subsektor tersebut memiliki tingkat pertumbuhan tinggi yang potensial untuk dikembangkan.

Pengembangan ekonomi kreatif saat ini masih dihadapkan pada berbagai tantangan dan hambatan. “Rencana Induk Ekonomi Kreatif: Kekuatan Baru Indonesia menuju 2025” mengidentifikasi tujuh isu utama yang menjadi tantangan bagi perkembangan ekonomi kreatif, yaitu sumberdaya manusia kreatif, bahan baku, daya saing industri, pembiayaan, pasar, infrastruktur dan teknologi, serta kelembagaan dan iklim usaha.  Untuk itu, pemerintah sedang berupaya mendorong  industri kreatif menjadi sektor strategis yang mampu berperan lebih besar dalam perekonomian nasional, terutama dalam kontribusinya terhadap PDB, penciptaan lapangan pekerjaan, dan ekspor. Sejumlah terobosan kebijakan juga telah dilakukan yakni dengan memprioritaskan pengembangan ekonomi kreatif dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional 2015-2019 dan pembentukan Bekraf untuk mengawal pengembangan ekonomi kreatif secara khusus.

Penulis: Luana Yunaneva

Foto: Yohanes Bigjohn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here