DIAKON, Benarkah Jabatan Seumur Hidup? Part 2

0
518
Ilustrasi : hipwallpaper

Diakon, Bagus Jika Dibatasi Waktu

Beberapa pendapat berbeda diungkapkan mantan Gembala Sidang GBI Cimahi, Jawa Barat Pdt. Rattu Albert Moniung. Kepada Arseindy dari SB, Pdt. Moniung mengatakan, Kisah Para Rasul 6 sepertinya menekankan, seorang diakon “cukup hanya” terkenal baik dan dipenuhi Roh.

“Hal itu bisa dipastikan karena jemaat Yerusalem belum memiliki organisasi yang kompleks seperti sekarang. Tetapi syarat ini mulai bertambah ketika Timotius bermaksud memilih diakondiakon pada jemaat Makedonia, Ahaya, Efesus, dan lain-lain. Kalau dalam 1 Timotius 3, seolaholah tekanannya pada ayat 11: ‘Tetapi istrinya haruslah orang terhormat…’ Lalu ada syarat keluarga, bisa mengurus anaknya, keluarganya dengan baik,” jelas Pdt. Moniung.

Berdasarkan kisah jemaat mula-mula di bawah kepemimpinan Rasul Petrus, lanjutnya, seorang diakon berada dalam jemaat. Dengan demikian, diakon ada di bawah pimpinan pendeta.

“Mungkin ada pendeta yang dianggap sombong, sendiri (melakukan semua tugas pelayanan). Itu pentingnya berdoa bersama,” ujar Pdt. Moniung.

Ia sendiri tidak setuju jika diakon merasa posisinya mengatasi pendeta apalagi jika ada gereja yang para diakonnya memposisikan diri menjadi majelis gereja.

Sedang anggapan bahwa seorang calon diakon harus memenuhi standar yang tinggi (seperti cakap secara teologis, mampu berkhotbah dan sebagainya, red. ), pria tenang yang tercatat sebagai salah satu pendiri GGBI itu kurang setuju.

“Petrus waktu itu menyatakan, ‘… Kami melalaikan pelayanan Firman dan doa, karena melayani meja.’ Jadi, penekanan utamanya adalah kelancaran pemberitaan Firman,” terang Pdt. Moniung.

Walau begitu, bisa saja seorang diakon melakukan pelayanan yang melebihi tuntutan jabatan, seperti dilakukan Stefanus dan Filipus. “Jabatan (keduanya) sebetulnya diakon, tetapi dia melakukan pekerjaan rasuli, bahkan melebihi rasul-rasul yang mendoakan dia, hehehe,“ ujarnya seraya tertawa pelan.

Pdt. Moniung menduga, gereja-gereja Baptis Indonesia mengacu kepada figur besar Stefanus dan Filipus sebagai pedoman pemilihan diakon. Inilah yang kemudian menimbulkan pelbagai persyaratan rumit seorang calon diakon.

Dalam acara lokakarya pertumbuhan gereja berjuluk “Recharge” di GBI JBC Cabang TLCC Bintaro, Jakarta beberapa bulan lalu, sejumlah pendeta senior Baptis dari Konvensi Baptis Selatan di Amerika mengungkapkan pendapat menarik. Pada gereja-gereja yang mereka gembalakan, diakon benar-benar sebuah jabatan pelayanan yang dibatasi waktu. Bisa untuk tiga tahun, bisa juga lima tahun, tergantung aturan gereja setempat. Ketika masa pelayanannya selesai, seorang diakon tak lagi dipanggil sebagai “Pak Diakon”.

Di beberapa gereja Baptis tersebut, seorang diakon juga tidak dituntut memiliki persyaratan seperti layaknya pendeta. Meski demikian, seorang calon diakon tetap harus anggota gereja yang yang hidupnya dapat dijadikan teladan. Sedangkan tugas-tugas seorang diakon di sana pun benar-benar langsung. Misalnya, membantu merapikan halaman anggota gereja yang sudah lanjut usia dan sejenisnya. Maka, seorang diakon tidak ditempatkan pada posisi hampir seperti pendeta, seperti dilakukan pada umumnya gereja Baptis Indonesia.

Soal perbedaan aturan pengangkatan diakon antara gereja-gereja Baptis di Amerika dengan Indonesia, Pdt. Moniung menilai wajar. Di Indonesia sendiri terdapat beberapa perbedaan peraturan antara sejumlah gereja Baptis tentang syarat dan tugas seorang diakon. Bahkan tidak  semua gereja Baptis menerapkan persyaratan seorang diakon seperti tertuang dalam bukuT ata Pejabat Gereja Baptis terbitan GGBI.

ilustrasi : Shutterstock

“Esensinya bukan terletak pada organisasi yang melakukan. Itu hanya pedoman yang dikeluarkan GGBI sebagai suatu organisasi gereja. Meski dia mengutip ayat-ayat Firman Tuhan, dia bukan Firman Tuhan itu sendiri,” tambahnya.

Menurut Pdt. Moniung, gereja Baptis memiliki kebebasan kesetempatan yang tidak bisa dibatasi pedoman GGBI. Jika gereja setempat membutuhkan, gereja berhak tidak memakai pedoman dari GGBI. Inilah yang membedakan GGBI dengan sinode, kata Pdt. Moniung,

Mantan Direktur Balai Mahasiswa Baptis Yogyakarta ini setuju dengan pembatasan masa pelayanan seorang diakon. “(Pembatasan) itu sebetulnya menolong kita. Jadi katakanlah, (masa jabatan diakon) 10 tahun atau 5 tahun. Jangan bilang per periode. Itu menolong gereja untuk memilih lagi (diakon yang baru),” katanya.

Ia juga setuju jika seorang diakon dibatasi berdasarkan umur. “Kalau dibatasi dengan umur, boleh (saja) dengan persetujuan jemaat. Bagus juga. Tetapi inti pembatasan ini adalah menolong tenaga potensial untuk muncul ke permukaan. Juga menolong menggantikan (diakon) yang tidak produktif lagi (karena lanjut usia, red. ),” tukasnya.

Sewaktu ditanya harapannya akan diakon di gereja-gereja Baptis Indonesia, Pdt. Moniung berkata, “Saya berharap ada diakon yang menjadi ‘Stefanus’ di Indonesia.”

Menurutnya, gereja perlu orang-orang yang berani muncul ke permukaan dan memberikan dirinya sepenuh hati seperti Stefanus. “Musti ada ‘Stefanus’ zaman sekarang. Bisa dari jemaat, bisa dari diakon, bisa dari pendeta. (Tentu saja) bukan nekat kayak orang Jepang mau harakiri (bunuh diri),” pungkas Pdt. Moniung menutup wawancara.

Baca Part 1 klik Link di bawah ini

DIAKON, Benarkah Jabatan Seumur Hidup? Part 1

Penulis: Arseindy Editor:

Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here