DIAKON, Benarkah Jabatan Seumur Hidup? Part 1

0
332
Ilustrasi : hipwallpaper

Diakon bukanlah seorang anggota jemaat biasa. Sebelum ditahbiskan, ia sudah menjalani saringan pelayanan tanpa batas waktu di gereja setempat. Artinya, diakon adalah jabatan penghargaan yang diberikan jemaat kepada seseorang. Sebab, dedikasi pelayanan diakon tinggal selangkah di belakang pendeta.

Istilah “diakonos” yang artinya “pelayan, penunggu, pemangku atau pewarta”, dikenal dalam lingkungan Baptis Indonesia sebagai “diakon”. Gabungan Gereja Baptis Indonesia (GGBI) mengakui beberapa pejabat gereja yaitu pendeta, diakon, pendeta muda (Pdm.), sampai guru Injil. Prosedur penahbisan diakon tertuang dalam buku Tata Pejabat Gereja Baptis yang dikeluarkan Departemen Kependetaan Badan Pengurus Nasional (BPN) GGBI tahun 2017.

Jabatan diakon muncul sebagai jalan keluar permasalahan jemaat mula-mula seperti dijelaskan dalam Kisah Para Rasul 6:1-7. Dalam praktik gerejawi masa kini, dasar ini ditambah ketentuan pemilihan diakon yang diberikan Rasul Paulus kepada Timotius (1 Timotius 3:8-13).

Diakon (Dkn.) Prabowo dari Gereja Baptis Indonesia (GBI) Baitlahim Bandung menjelaskan tata cara pemilihan diakon di gereja tersebut. “Tugas yang jelas sekali adalah membantu gembala sidang dalam pelayanan sosial,” katanya.

Dijelaskannya, para diakon di sana juga bertanggung jawab mengelola uang dalam Pos Diakonia, bisa diminta berkhotbah, atau membantu pelayanan pengabaran Injil (PI).

Dalam hal pengakuan jabatan seorang diakon yang berpindah ke gereja lain, dikembalikan ke gereja setempat. Dkn. Prabowo mencontohkan seorang diakon dari GBI Baitlahim yang pindah ke gereja Baptis lain. “Dkn. Suhadi pindah ke GBI Grogol (Jakarta). Nah, jemaat boleh saja memanggil atau menyapa beliau ‘Diakon’, tetapi beliau tidak terlibat dalam pelayanan sosial di gereja tersebut. Hanya pelayanan Sekolah Minggu,” contohnya

Dkn. Prabowo juga mengungkapkan, tidak ada batasan masa pelayanan seorang diakon di GBI Baitlahim. Sedangkan dalam struktur gereja, diakon GBI Baitlahim menempati posisi setelah pendeta atau gembala sidang.

“Urutannya, gembala sidang, diakon, baru (kemudian) asisten (gembala sidang). Jadi, (diakon itu) orang kedua (sesudah gembala sidang),” tutur Dkn. Prabowo.

Diakon Jangan Melawan Pendeta

Ketua Departemen Pendidikan BPN GGBI Pdt. Petrus Maryono menjelaskan kepada Suara Baptis ( SB ), diakon adalah salah satu jabatan yang diakui dalam lingkungan GGBI. Jabatan ini didasari oleh permintaan para rasul gereja mula-mula yang merasa perlu lebih fokus kepada doa dan pengajaran.

Jemaat kemudian memilih Stefanus dan keenam rekannya untuk menyelesaikan pembagian ransum kepada janda-janda. “Untuk melayani kebutuhan meja, artinya untuk melayani kebutuhan yang bersifat fisik, lah… Tetapi secara umum, sekarang (tugas diakon) dipahami sebagai kebutuhan sosial,” jelas Pdt. Petrus.

Alkitab tidak menuliskan syarat usia termuda seorang calon diakon. Namun untuk diakon, syarat lain yang dinyatakan Rasul Paulus dalam 1 Timotius 3:8-13, rupanya lebih diutamakan.

“Orang yang bisa dianggap calon (diakon) itu karena dia (sudah) terlibat dalam pelayanan meja. Komitmennya, sikapnya, tidak pernah undur. Nah , orang-orang kayak begini yang saya kira layak untuk ditahbiskan,” kata Pdt. Petrus.

Ketua Tim Pengembang Kurikulum Sekolah Minggu Baptis ini menambahkan, seorang diakon tak harus sudah berusia tua, “Istilah yang dipakai adalah ‘tua-tua’, yaitu orang yang dianggap sudah berhikmat, bijaksana, mampu memberi tuntunan dan nasihat yang benar kepada umat.”

Pdt. Petrus meyakini, diakon tidak memiliki masa pelayanan tertentu. Maka, sekali ditahbiskan, jabatan itu melekat kepadanya seumur hidup. Dan seperti seorang pendeta, penahbisan diakon seharusnya juga diakui gereja-gereja lain.

“Yang menahbiskan diakon adalah gereja setempat. Tetapi sesudah dia ditahbiskan di situ, dia diterima di lingkungan gereja-gereja Baptis, dan mereka mengakui bahwa dia diakon yang ditahbiskan,” jelas dosen Sekolah Tinggi Teologi Injili Indonesia (STTII) itu.

Karena gereja setempat yang menahbiskan, maka gereja setempat pula yang berwenang memberhentikan seorang diakon. Pencabutan jabatan diakon hendaknya disampaikan kepada Badan Pengurus Daerah (BPD) GGBI setempat dan BPN GGBI supaya dapat diumumkan,

“Jadi, pencabutan (jabatan diakon) tidak hanya diketahui gereja setempat, tetapi juga gereja dalam lingkungan kebersamaan,” kata Pdt. Petrus.

Anggota GBI Nyutran Yogyakarta tersebut menuturkan, keberadaan diakon sangat diperlukan terutama di gereja-gereja yang lingkup pekerjaannya luas dan jemaatnya besar. Jika gereja tidak mampu mengundang asisten, kemitraan seorang gembala sidang dengan diakon adalah jalan keluar.

“Itu alternatif yang baik, karena alkitabiah,” tegasnya.

Namun Pdt. Petrus juga mengingatkan supaya diakon tidak melawan pendeta sehingga gereja terbelah menjadi dua kubu: kubu pendeta dan kubu diakon. “ Nah , diakon dan pendeta harus baik-baik menjaga kemitraan. Apapun problemnya, betapa pun sulitnya,” pungkasnya.

 

Baca Part 2 klik Link di bawah ini

DIAKON, Benarkah Jabatan Seumur Hidup? Part 2

 

Penulis : Arseindy

Editor : Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here