Di Balik Lagu: Pujilah Yesus yang Mulia

0
63

Nyanyian Pujian nomor 22, 23, 24 berjudul “Pujilah Yesus yang Mulia”, judul aslinya adalah “All Hail the Power of Jesus Name”. Ditulis Edward Perronet pada 1779, kemudian disusun ulang John Rippon pada 1787, dan dilanjutkan William Shrubsole pada 1979.

Edward Perronet. Gambar diambil dari Wikipedia Indonesia.

Kisah di balik pujian ini dimulai dari seorang bernama Edward Perronet (1726-1792). Perronet lahir dari ayah seorang pendeta Gereja Negara (baca: Grereja Anglikan, red) di Perancis yang mengungsi ke Inggris demi mendapat kebebasan beragama. Kala itu, ada pelarangan mendirikan gereja di luar gereja yang diakui oleh negara.

Keteguhan hati ayahnya yang tidak mau terikat pada Gereja Negara, rupanya diwariskan kepada Perronet. Ia hanya mau mengakui satu atasan rohani, yaitu Yesus Kristus.

Maka ketika John dan Charles Wesley mulai mengadakan suatu gereja pembaruan di kalangan Gereja Inggris, dengan senang hati Perronet ikut serta. Bahkan ketika gereja Wesley itu mulai diserang musuh-musuhnya, Perronet rela menderita demi keyakinannya.

Untuk melukiskan kegigihan Perronet, John Wesley dalam catatannya menulis, “Edward Perronet diseret dari kuda tunggangannya dan diguling-gulingkan dalam lumpur. Ia mengalami banyak siksaan, juga dilumuri banyak kotoran, tetapi semua aniaya itu diterimanya dengan penuh ketabahan.”

Walau Perronet begitu sabar terhadap penganiayaan akibat sikapnya menjadi pengikut Gerakan Pembaruan Wesley, bukan berarti ia menerima semua ajaran dan peraturan yang ditetapkan pemimpin gerakan Wesley. Menurutnya, mereka sebaiknya keluar dari Gereja Negara dan membentuk aliran baru.

Namun John Wesley tidak setuju. Memang, di kemudian hari Gereja Methodist dimulai oleh kedua Wesley bersama kawan-kawannya. Tetapi pada era bersama Perronet, John bersikukuh tetap berada dalam Gereja Negara.

Akibat silang pendapat itu, Perronet memutuskan keluar dari Gerakan Pembaruan Wesley. Jiwanya ingin bebas dari penguasaan manusia manapun, dan hanya rela tunduk pada Yesus Kristus. Sekeluarnya dari Gerakan Pembaruan Wesley, Perronet sempat bergabung dengan aliran Kristen yang lebih kecil, walau kemudian kembali keluar. Pelabuhan akhirnya adalah melayani sebuah jemaat kecil tanpa ikatan pada gereja tertentu.

Perronet menggunakan bakatnya untuk menulis syair-syair rohani yang indah. Pada 1779, syair karangan Perronet diterbitkan dalam sebuah majalah Kristen. Lagu itu pendek, hanya satu bait. Baru tahun 1780 diterbitkan kembali dengan delapan bait.

Tahun 1787, John Rippon, seorang pendeta dari gereja Baptis (1751-1836), meredaksi lagu “Pujilah Yesus yang Mulia”. Pendeta Rippon bahkan menambahkan bait terakhirnya.

Ketika Perronet meninggal dunia pada 1792, dalam surat wasiatnya tercantum nama William Shrubsole sebagai pengurus warisan. Shrubsole adalah sahabat Perronet yang menyusun musik lagu “Pujilah Yesus yang Mulia” tersebut.

Selain disadur menjadi salah satu lagu dalam koleksi buku hymne Nyanyian Pujian (atau buku NP merah), “Pujilah Yesus yang Mulia” juga diadopsi dalam buku kumpulan hymne lain di Indonesia. Misalnya dalam Kidung Pujian nomor 222a dan 222b, Nyanyian Bala Keselamatan nomor 40, Nyanyian Kemenangan Iman nomor 16 dan 206, atau juga Nyanyian Rohani Methodist nomor 47.

*Disadur dari “Lagu Penobatan Yesus Kristus” dalam buku Kisah Nyata di Balik Lagu Pilihan.
Klik pada buku untuk melakukan pemesanan.

 

Penulis:
Arseindy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here