Di Balik Lagu: Kristus Bangkitlah Sudah

0
50

Dari dalam lembah dosa nan kelam, Yesus Kristus keluar dengan kemenangan atas maut. Karena Dia bangkit, siapapun yang percaya di dalam nama-Nya, mendapat kemenangan yang sama. Notasi “Kristus Bangkitlah Sudah” bahkan disusun sedemikian rupa, karena lagu ini pantas dilantunkan lebih serius.

Ilustrasi Charles Wesley dari www.christianitytoday.com

Charles Wesley, mengarang syair pujian “Kristus Bangkitlah Sudah” atau “Christ the Lord Is Risen Today”, tepat satu tahun setelah ia dan kakaknya, John Wesley, menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamatnya, tepatnya pada 1739. Seperti karya Wesley lainnya, lagu Paskah itu mengutip isi Alkitab. Bandingkanlah 1 Korintus 15:55 dengan kata-kata dalam syair lagu ini.

Sebenarnya, setelah syair yang indah itu diciptakan, keberadaannya terlupakan begitu saja. Bertahun-tahun kemudian, seorang redaktur buku nyanyian (namanya tak dikenal) menerapkan syair yang disukainya itu pada sebuah melodi kuno.

Melodi yang bersifat gembira itu mula-mula diterbitkan dalam buku nyanyian rohani pada 1708. Buku itu berjudul Lyra Davidica (Kecapi Daud), tanpa menuliskan nama komponisnya.

Saat hendak memasukkan syair ke dalam lagu, redaktur itu menghadapi masalah. Pasalnya, syair Wesley tidak sesuai panjang kalimatnya dengan melodi Lyra Davidica. Kata-katanya jadi terlalu pendek, sehingga ada bagian not yang menggantung tanpa syair. Maka, ia menambahkan kata “Haleluya!” di setiap akhir kalimat. Tanpa sengaja, setiap pernyataan iman dalam kalimat, dipungkas dengan kata “terpujilah Tuhan” atau “pujilah Tuhan”. Sungguh pernyataan yang menambah keteguhan hati setiap pelantunnya.

Demikianlah, meski melewati proses yang rumit, lagu “Kristus Bangkitlah Sudah” dapat dikumandangkan di seluruh dunia. Umat Tuhan bersukacita bersama memanjatkan pujian ini, karena siapapun yang membuat syairnya, Tuhan Yesus Kristuslah yang bangkit dari maut, dan menjadi jaminan kebangkitan umat-Nya kelak. Haleluya!

Kisah ini disatukan menjadi buku bunga rampai Kisah Nyata di Balik Lagu Pilihan yang berisi ulasan 60 lagu hymne terkenal.

Meniti Anak Tangga
Redaktur yang menggabungkan notasi dalam Lyra Davidica dengan syair “Christ the Lord Is Risen Today” dari Charles Wesley, mungkin membayangkan jika perpaduan keduanya akan bisa menunjukkan iman orang Kristen saat menyanyikan lagu tersebut. Dari suatu lembah kematian yang kelam tanpa harapan, tercipta sebuah tangga yang menjadi jalan bagi setiap orang kembali kepada kemuliaan Allah Bapa.

Betani Arisandi: instruktur piano dan vokal. Penggemar lagu NP ini bergereja di GBI Bakti Bandung, melayani sebagai organis dan pianis gereja. Tinggal di Bandung.

Betani Arisandi (38), mengomentari notasi pujian ini ibarat seseorang yang sedang menaiki anak tangga menuju suatu tempat. “Seperti meniti anak tangga,” katanya kepada SB saat dihubungi beberapa waktu lalu lewat pesan singkatnya.

Ditambahkannya, tingkat kesulitan lagu ini harus jadi perhatian para pemimpin pujian. Sebab di akhir terdapat nada yang cukup tinggi. “Perhatikan di akhir lagu memakai not do tinggi dan memakai akor tonic (akor I),” tutur Beta, “Nada ini memberi kesan ‘kepastian’.”

Menurut Beta, pemain musik seringkali mengubah nada dasar saat memainkan pujian ini. Dia justru menyarankan agar nada dasar tidak diubah, karena sudah cocok di kunci natural. “Kalau dimainkan pada nada dasar lebih rendah misalnya di B mol /B flat, akan memberi kesan hampa. Tetapi kalu dimainkan pada nanda dasar lebih tinggi misalnya D, memberi kesan terlalu ramping,” kritiknya.

So, jangan salah lagi memainkan nada dasarnya, Gaiss…!

Reporter: Arseindy

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here