Dampak Berbahaya Korban Perundungan “TUHAN, TOLONG CABUT NYAWAKU”

0
421

“Tuhan, tolong cabut nyawaku”, tulis Jack pada secarik kertas yang ditinggalkan di meja gurunya seminggu sebelum meninggal. Murid kelas 2 sekolah dasar di Sydney, Australia bernama lengkap Jack Wilkinson itu memilih mengakhiri hidupnya. Ia sudah tidak sanggup akibat perundungan (penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi) yang dialaminya di sekolah.

Bocah laki-laki berusia 7 tahun ini kerap pulang sekolah sambil menangis. Ia bahkan memohon kepada orang tuanya agar tidak pergi ke sekolah lagi.

Setelah sempat pulang dalam keadaan tertekan, Jack menuliskan pesan di bantal sebelum bunuh diri, “Saya tidak mau hidup lagi.”

Tidak hanya perundungan verbal, Jack juga mengalami kekerasan fisik.

fokusjabar.co.id

Kisah yang diambil dari hot.liputan6.com itu terjadi pada Februari 2019 lalu. Kejadian tersebut hanyalah satu dari sekian banyak kasus perundungan di berbagai negara termasuk Indonesia. Senada dengan itu, Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indoneia (KPAI) bagian pendidikan Retno Listyarti mengatakan, per tanggal 30 Mei 2018, anak korban perundungan sebanyak 22,4% kasus sementara anak sebagai pelaku perundungan sebanyak 25,5% kasus.

Menurut psikolog Fitria Linayaningsih psikolog, ada banyak sebab anak menjadi pelaku perundungan. Misalnya, pernah menjadi korban sehingga melakukan hal yang sama kepada orang lain sebagai bentuk balas dendam, kurangnya perhatian dari orang tua, terlalu banyak bermain game dan menonton film sehingga anak meniru tindakan dari apa yang mereka lihat.

Menurut anggota Gereja Baptis Indonesia (GBI) Seteran Semarang ini,   bahwa semua pihak harus ikut terlibat dalam pencegahan, baik anak, orang tua maupun gereja. Fitria memberikan beberapa tips di antaranya:

  • Sebagai anak. Ketika menjadi korban perundungan, anak harus memiliki pertahanan diri. Ia tidak boleh malu, minder, atau takut saat berhadapan dengan pelaku perundungan. Sebaliknya, mereka harus dengan berani berkata kepada pelaku, “Berhenti mengejekku”, “diam”, dan “hentikan”. Anak juga harus segera melaporkan tindakan perundungan kepada guru maupun orang tua agar pihak sekolah juga dapat mengatasinya dengan tegas.
  • Sebagai orang tua. Kunci utama yang harus dimiliki orang tua yaitu adanya komunikasi yang baik dengan anak. Terpenuhinya kebutuhan mereka akan kasih sayang memudahkan orang tua mengarahkan anak agar dapat menghormati orang lain.

Orang tua harus menjadi tempat paling aman bagi anak. Ini akan membuat anak nyaman dan menolong mereka belajar terbuka, tidak sungkan berbagi setiap hal yang mereka alami di sekolah maupun gereja. Karena itu orang tua harus bisa mengenal lingkungan pergaulan anak untuk meminimalkan pengaruh buruk dari lingkungan sekitar.

Dikutip dari https://hellosehat.com beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua pelaku agar anak dapat berhenti merundung adalah:

  • Berbicara perlahan pada anak. Berikan pemahaman bahwa apa yang dilakukannya akan menyakiti orang lain. Atau tanyakan pada anak, jika itu dilakukan orang kepada dirinya apakah dia menyukainya? Minta anak menceritakan dan hindari menyalahkannya.
  • Ajarkan anak untuk bertanggung jawab dengan apa yang dilakukan. Misalnya penggunaan handphone dari jam 16.00-17.30 dan sejenisnya.
  • Ajarkan anak untuk menghormati orang lain. Anak diajar untuk menghargai perbedaan ras, suku, agama, warna kulit dan lain-lain. Doronglah dia untuk terlibat dalam sebuah kegiatan supaya anak belajar bersosialisasi.
  • Berikan contoh yang baik. Banyak anak meniru apa yang dilakukan orang tuanya di rumah. Ketika orang tua mengatasi konflik atau masalah dengan benar, anak akan melihat hal yang positif.

Di sekolah, Guru adalah pengganti orang tua. Karena itu guru diharapkan juga dapat memberikan perhatian, kasih sayang dan pendampingan pada setiap anak. Guru juga perlu bekerja sama dengan orang tua dalam memberikan pengawasan kepada anak.

Dikutip dari health.detik.com, psikolog Anna Surti Ariani mengatakan, sangatlah penting bagi sekolah untuk mempublikasikan program anti-bullying dengan tegas. Juga harus disosilisasikan dengan cara yang mudah dimengerti, sanksi apa yang akan mereka terima jika mereka menjadi pelaku maupun penonton perundungan dan tidak melaporkannya.

Senada dengan itu, psikolog Seto Mulyadi yang akrab disapa “Kak Seto” mengatakan, ketika orang tua atau guru mengetahui anaknya menjadi pelaku perundungan, mereka harus memberikan sanksi dengan tegas sesuai dengan aksinya, dan tidak dibiarkan apalagi dengan alasan anak masih kecil (cnnindonesia.com).

Gereja memiliki peran yang besar dalam membentuk karakter dan kepribadian anak. Membentuk kerohanian anak sejak dini, mengasihi dan menghargai sesama, saling memperhatikan merupakan hal yang dapat diajarkan Sekolah Minggu. Selain itu anak dapat belajar melalui teladan tokoh-tokoh Alkitab. Dampaknya, anak akan berkembang menjadi pribadi dengan karakter yang penuh kasih dan menghargai orang lain dalam segala kelebihan dan kekurangannya.

Dikutip dari kpai.go.id, pendidikan karakter mengambil peranan penting dalam dunia pendidikan baik dari orang tua, sekolah maupun pemerintah. Pendidikan karakter dapat membangun fondasi yang kuat pada diri setiap anak  sehingga perundungan tidak terjadi lagi dalam dunia pendidikan.

Dampak bagi Korban dan Pelaku

Dampak perundungan sesungguhnya tidak hanya dirasakan korban namun juga pelaku. “Ketika anak menjadi korban bullying, mereka akan mengalami rasa takut dan gelisah, menjadi pemalu dan sulit bergaul, tidak dapat berkonsentrasi belajar. Akibatnya, prestasi akademik menurun, mengalami depresi bahkan menyebabkan bunuh diri jika tidak segera ditangani,” tutur Fitria Lina.

Diteruskannya, sementara bagi pelaku, perundungan dapat menyebabkan terbentuknya perilaku ekstrem lainnya, sulit menghargai orang lain, cenderung ingin mendominasi dalam segala hal sehingga menghalalkan segala cara agar keinginannya terpenuhi.

Senada dengan itu, psikolog dari EduPsycho Reseach Institute, Yasinta Indrianti mengatakan, pelaku juga akan merasa bersalah. Kalau hal itu dibiarkan, akan menyebabkan dampak fatal bagi pelaku yang merasa dihantui kesalahan.

Fitria Lina menambahkan, Alkitab memberikan beberapa nasihat berkaitan dengan perundungan. “Orang yang menghina sesamanya berbuat dosa,” Amsal 14:21. Bahkan Amsal menyebutkan, mereka yang menghina orang lain adalah tidak berakal budi, “Siapa menghina sesamanya, tidak berakal budi,” Amsal 11:12a.

Fitria menganjurkan supaya menegur dan mendidik pelaku perundungan supaya menjadi lebih baik, mendoakan mereka agar bertobat. Dan ketika mereka sungguh-sungguh maka Tuhan akan mengampuni segala dosa mereka.

“Yesus sendiri memberikan teladan-Nya pada kita (Dia juga diolok-olok dan dihina, red.). Tetapi Yesus menasihatkan kepada kita dalam Matius 5:44 untuk mengasihi musuh dan berdoa bagi mereka yang menganiaya kita. Demikian Yesaya 43:4a memberikan penghiburan, ‘Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan Aku ini mengasihi engkau.’ Jadi, meskipun orang menghina, kita tetap berharga di mata-Nya,” ujar Fitria.

Lulusan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang ini menegaskan, perundungan adalah tindakan dosa yang tidak seharusnya dianggap sepele.

“Karena itu, perlu kesadaran dan keterlibatan berbagai pihak dalam mencegah terjadinya bullying dan kekerasan lainnya,” pungkasnya.

 

Penulis: Juniati

Editor: Masdharma & Prisetyadi

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here