Cerpen: Selibat (Bagian2) – FATAMORGANA Part 3

0
28

Itulah ceritanya.

Sampai kemudian kami dipertemukan lagi di chat grup alumni yang dibuat teman lainnya.

Kamu hepi kayaknya , Ina.

Iya tuh, sering pasang status piknik nan bahagia. Timpalan lainnya.

Yang disapa di grup hanya jawab pendek dengan emoticon “tertawa”.

Ina nggak banyak ngomong di grup.

Tapi ia sering memposting sedang pergi dengan keluarga kecilnya, suami dan anak satu-satunya.

Baik posting di grup, atau di status, atau media sosial lainnya.

Aku “tidak berani menyapa”. Entah mengapa. Aku penyimak saja, tanpa banyak komentar pun bertanya.

Entah mengapa dia menceritakan kebahagiaan-kebahagiaan itu meski lewat gambar, padahal ia tahu aku didalamnya. Dan aku yakin ia pasti masih bisa merasa rasaku ketika di foodcourt itu.

Tapi hati ini tak tahan juga. Suatu hari ku-PM dia, karena tahu Ina memasarkan produk-produk kesehatan.

“Aku pesan imun-booster ya?”

“Jadi?” meminta konfirmasi setelah saat aku bertanya itu dan ini padanya.

“Coba lima sachet dulu.”

“ Oke .”

Dan terjadilah pertemuan di Coffeeshop Selancar itu.

Pertemuan makan siang itu, mengubah semuanya.

Aku jadi tahu, ia tidak bahagia dan purapura.

Namun janji pernikahan, membuatnya berusaha setia.

Aku mendukungnya. Meski secara fakta, kami jadi sering berjumpa.

Entah salah atau benarnya. Dikatakan berkasih, tidak. Tapi di dalam hati, itu selalu jadi pertemuan istimewa. Terlebih ketika aku jujur kepada Ina bahwa hidupku di antrean menuju kematian, setidaknya demikian persepsi sebagian besar orang tentang laraku ini. Maka, selalu terasa Ina ingin berjumpa. Sering menyapa, dan melontarkan secara halus perhatiannya.

“Jangan sedih sekali, Ina. Aku saja enggak .” Ia menunduk.

“Kamu lain kali tidak usah menengok kalau tahu aku sakit. Ini tidak enak. Kita bertemu pas aku sehat saja, di mall, di kafe, di mana gitu …”

“Ya jangan begitu.”

“Setiap orang itu pada dasarnya sudah antre kematian kok . Kita tidak pernah tahu gilirannya saja. Maka bedanya, orang yang sakit seperti aku ini seperti diperjelas saja kapan mungkin gilirannya.”

“Kenapa kamu bilang kamu tidak sedih?” Menghela napas,

“Ya ada sedih. Cuma aku tidak ingin menjadikannya utama. Karena aku lebih pilih sisa ini bahagia. Melakukan hal-hal benar, hal yang baik, merasa bahagia.”

“Apa sungguh kamu merasa nggak sedih?” diulangnya tak percaya.

Aku sedih juga sebenarnya. Sedih karena… “Siapa sih yang kasih info ke grup kalau aku masuk rumah sakit? Padahal ini privasi,”

mencoba alihkan pembicaraan dan pikiran. Tak tergoyahkan, masih di topik yang sama, tiba-tiba Ina menangis.

“Ina…” Untung sepi.

“Aku… Aku merasa bersalah, Mas. Aku… Aku merasa mungkin sakitmu karena aku.”

“Ina! Enggak …” Tiba-tiba Ina mendekapku yang duduk di ranjang.

Terkejut.

Iba, kasihan… Tapi juga jantungku berdebar. “ Enggak ,” mengelus pelan rambutnya.

Satu menit, dua menit… Memegang pundaknya, menjauhkan.

“Ina, lihat mataku. Lihat, please …” Menatap dengan basah.

“ See , tidak ada kemarahan, kan ?. Tidak ada kekecewaan. Aku sudah memaafkanmu.” Kembali menangis, menggeleng.

“Aku sakit bukan karena kamu. Ya… sakit saja. Dan aku masih bertahan justru karena bisa bertemu kembali denganmu. Terima kasih untuk itu.” Bertambah sesenggukan,

“Aku berdosa padamu, Mas. Aku berdosa. Sekarang pun, aku tidak bisa bersamamu, meski aku ingin…. Kita seharusnya tidak lagi bertemu, karena aku jadi makin menyiksamu.” Hatiku tertusuk, tapi,

“Sudahlah…”

“Apakah kamu ingin aku berpisah, dan menuju padamu, Mas?” Pikiranku sendiri mulai kacau sebenarnya dicerca emosi ini, namun aku harus bertahan,

“Enggaklah , kan nggak boleh.”

“Apakah kata-kata itu dari hatimu?”

“Sudahlah…” Aku menyesal dia mendengar aku masuk RS, dan menengok, dan berakhir pada malam

“berkabut” ini.

Seharusnya ia tak perlu datang. Mungkin melihat kondisiku, membuat perasaannya bertambah dalam.

“Ina… jam besuk habis,” aku berbisik, pelan, lembut.

Para perawat, sudah berseliweran di luar kamar-kamar. Salah satunya, masuk ke dalam.

***

Ina menerima surat itu. Surat yang diposkan tanpa alamat pengirim.

Ina…
Aku berterima kasih pada Tuhan aku telah mengenalmu dalam hidupku ini.

Kamu telah menjadi bagian istimewa yang oleh alam, mungkin, tertorehkan.

Jika aku memilih, aku pasti akan tinggal.

Namun maafkanlah bahwa aku mengambil pilihan lainnya untuk berpindah tempat tinggal.

Tenang saja, aku belum berpindah ke dimensi lainnya.

Namun aku hanya berpindah pekerjaan, sehingga aku harus berpindah segalanya.

Tetapi satu yang tidak pernah pindah dari hatiku, dan itu adalah kamu.

Kamu, membuatku hidup dengan tidak kecewa. Janganlah tidak percaya…

Ina, bertahanlah, sebagaimana seharusnya… Kalau ada kehendak surga, kita bisa bersama.

Kalaupun tidak, bukankah kita sudah selalu bersama? Dan tidak ada yang dapat mengambil kebersamaan itu dari kita, kecuali kita yang menghapusnya.

Hatiku selalu untukmu, sahabat seumur hidupku.

Ina, terdiam.

Tidak tahu apa yang ia rasa, atau harus lakukan …

*)Penulis tinggal di Salatiga, Jawa Tengah

Baca sebelumnya part 1 link di bawah ini

http://suarabaptis.com/cerpen-selibat-bagian2-fatamorgana-part-1/

Baca sebelumnya part 2 link di bawah ini

http://suarabaptis.com/cerpen-selibat-bagian2-fatamorgana-part-2/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here