Cerpen: Selibat (Bagian2) – FATAMORGANA Part 2

0
249

Kami justru akrab ketika sudah jauh.

Aneh ya…

Tapi itulah kadang kenyataan.

Kami dekat ketika mulai kuliah, ketika sama-sama terbentur dengan persoalanpersoalan realitas kehidupan anak muda yang kuliah pas-pasan dan penuh keminderan.

Belum ada handphone kala itu, maka waktu kebetulan bertemu di toko kelontong di kampung, sempat ngobrol berbagi rasa yang sama soal hampir putus kuliah karena finansial, meski sekilas…

Eh , ternyata, nyambung.

Lalu, percikan itu menyala.

Maka, sebuah hubungan jarak jauh, long distance relationship.

Dengan surat, dengan doa, dengan kerinduan yang sering harus dipendam paksa…

Namun perceraian orang tuanya ternyata juga membawanya pergi.

Diputus ikut ayah, Ina bukan hanya pindah kota, tapi pindah pulau lain yang jauh di sana.

Kami miskin. Kami susah bertemu. Susah saling rantau. Itu terjadi mendekati masa perkuliahan hampir usai.

Maka seusai kuliah, seusai juga aku dan dia. Ina hilang sekalian.

Suratnya terakhir hanya berkata, bahwa jika aku masih percaya dan masih mengenal siapa dia, maka seharusnya aku masih percaya dia tetap memiliki rasa cinta itu padaku selalu.

Namun dia mengaku dan minta maaf hidunya kacau sejak kacaunya ayah-ibunya. Dia susah berpikir jernih, pun susah katanya menjudikan hidupnya hanya padaku yang masih tidak punya apa-apa dan belum siapa-siapa.

Jadi, apakah maksudnya? Maka, dahulu, mungkin aku marah pada Ina. Terkejut. Sangat kecewa. Terhina. Namun kini setelah aku masuk dalam realitas kehidupan seorang dewasa, aku bisa lebih paham keresahan pikirnya. Dan aku, memaafkan Ina. Tapi aku sudah kehilangannya.

Jika kemudian aku bisa bertemu dengannya pun, butuh keajaiban. Entah kenapa saat aku pulang kampung dari rantau pekerjaan, dia juga tengah pulang ke rumah ibunya yang masih di kampungku. Di jalan, berpapasan.

Tapi kulihat, ada cincin terlingkar. Ina, telah bertunangan. Patah hati lagi aku. Namun anehnya yang sudah sangat patah, tidak mau putus juga. Bagian tubuh yang patah, biasanya lamalama akan membusuk, dan mati, kalau tidak sembuh diobati.

Namun aneh, dalam kasusku, rasa ini tidak mau busuk pun mati. Ia bertahan saja dalam kepatahannya. Tetap bertahan meski sakit mendera.

Difondasikan oleh kepercayaan bahwa Ina sedang kacau akibat orang tuanya dan masih kacau dalam semua keputusannya, dan akan kembali suatu saat nanti. Irasional! Atau entah sebuah intuisi meski tak ber”dasar”. Ataukah iman? Atau, ilusi…

Tiga tahun lalu, ketika anaknya sudah satu tahun, kembali kami bertemu dan ternyata sama-sama telah pulang rantau. Aku tinggal di kampung, ia di kompleks perumahan baru.

Bertemu di acara reuni SD, diadakan di pusat kota, di suatu mall yang baru dibangun, terbagus pada masa itu.

Cukup banyak yang bisa datang, menyenangkan. Namun yang paling menyenangkan, adalah jika aku bisa melihatnya.

Meski sakit juga hatiku, tapi aku tetap ingin melihat dia. Bertahan tidak pulang walau teman-teman berangsur balik kandang, hampir tinggal dia dan aku.

Entahlah apakah Ina juga bertahan di foodcourt itu untuk bisa hanya denganku, atau itu ekspektasi rasaku.

“ Oke, so , aku balik dulu ya?” teman terakhir, pada kami berdua.

Lagi, “Ina, mau ikut? Kamu ada kendaraan nggak, aku bawa mobil,” menawarkan.

“Tinggal saja. Masih mau shopping sebentar buat anak.”

“ Wah , ibu yang baik. Ingat anak. Okelah, hati-hati ntar. Jangan kelamaan, kasihan lho anak nunggu di rumah, kan?”

“ Sip, deh .” Lalu, reuni sejak makan siang yang berakhir di hampir makan malam itu, benar-benar menyisakan aku dan Ina.

“Mau shopping , In?”

“Rencananya…”

“ Oh. ”

“Mau ikut?”

“ Nggak .”

“ Oh .” Kikuk.

Ina tak beranjak. “ Nggak jadi?”

“ Gimana kabarmu?”

“Aku?”

“Kamu.”

“Ya begini saja.”

“Sudah married ?”

“Belum.”

“Kenapa…” Tersenyum.

Kembali kikuk. “Ya sudah deh, aku jalan dulu,” pamit Ina.

“Oke .”

“Kamu mau pulang?”

“Entah. Mungkin masih mau di sini. Ngopi.”

“ Oh… Oke. Bye .” Ina pergi, menghilang.

Mencari kursi, paling kosong di pojokan. Duduk, sandar, menghela napas, merasa gugup, tapi juga bodoh. Mengapa kulewatkan percakapan berdua Ina tadi, mungkin kesempatan, kan? Tapi, kesempatan buat apa ya? Bukankah yang kuinginkan adalah bisa melihatnya, dan sudah terjadi.

Bahwa ia baik-baik saja dan masih cantik, bukankah bersyukur? Bukankah, tidak ada lagi yang boleh kuharapkan, meski keyakiananku itu tidak pudar?

“Mas…” Tersentak. Kukira pelayan. Namun Ina. Ia berdiri, menarik kursi.

“Boleh duduk?”

“Boleh.”

“Makasih.”

“ Nggak jadi belanja?”

“Nanti saja.”

“ Oh… ” Dan perlahan, kami berbincang.

Hatiku merasa ringan, dan sangat riang. Semua mencair cepat, suasana kembali hangat. Ini pertanda, hati kami masih menyala. Tautan itu masih ada.

Maka, itulah kenangan terindah yang rasanya kembali kupunya. Datang ke mall yang sama, berusaha duduk di kursi yang sama, dia akan ada… Kala aku rindu, demikianlah jadinya.

Selalu aku merindukannya. Jadi jika bukan kenyataan yang kamu punya, kenangan, itulah yang tersisa. Kalau aku, aku memilih tidak membuangnya.

Namun menghidupkannya, dengan terus mengulang ritual yang sama, di mall ini.

 

Baca selanjutnya part 3 link di bawah ini

http://suarabaptis.com/cerpen-selibat-bagian2-fatamorgana-part-3/

Baca sebelumnya part 1 link di bawah ini

http://suarabaptis.com/cerpen-selibat-bagian2-fatamorgana-part-1/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here