Cerpen: Selibat (Bagian2) – FATAMORGANA Part 1

0
318

Aku tidak tahu… Jika hari ini aku harus mati, apakah aku lebih baik mati di pangkuanmu, tapi mulai bertoreh dosa. Atau, aku mati “suci” dan jauh dari semua rasa yang fana, tapi sangat merindukanmu dan berusaha tidak menyesal bahwa kita tidak bersama…

Mall itu juga, tahun ketiga. Menghabiskan hampir setiap sebuah Sabtu di sini. Mungkin sampai para penjaga booth makanan itu hafal. Aku tidak menyalahkan mereka. Karena aku pun, sampai tahu jika ada penjaganya yang berganti baru.

“Lho, Mbak Tias ke mana?”

“Cuti hamil, Mas.”

“ Oh…”

“Ih, care amat!” tersenyum curiga.

“Jangan salah paham. Mbak Tias kan setia melayani setiap kali saya pesan di booth ini.” Tertawa,

“Iya, ya. Mas memang pelanggan paling super setia. Kalau saja ada kejuaraannya, menang lho.” Berusaha cuek meski tertohok juga,

“Halah…”

“Omong-omong, Mas juga setia hari ini?”

“Maksudnya?”

“Setia datang sendirian?” Nyengir ,

“Rahasia! Hanya jangan kau sangka bahwa orang yang hobi nge-mall itu orang yang suka keramaian, atau jenis sosialita. Nggak selalu begitu.”

“Iyakah? Lalu, Mas, jenis apa? Bagaimana penjelasannya?”

“Nah, sayangnya, karena kamu yang bertanya, aku enggan menjelaskannya.”

“ Ah , bingung! Lalu?”

“Pokoknya…”

Tertawa bersama-sama, dan aku pergi ke kursi paling pojok. Dekat kaca. Kursi yang sama. Kulihat hamparan hujan di luar. Begitu derasnya, sampai terbentur rata di seluruh permukaan dinding kaca foodcourt ini.

Namun sayang, tidak kudengar derainya, karena efek kedap kaca dan bising mall mengalahkannya. Tetapi, bayanganmu tak terkalahkan oleh apa pun. Engkau hadir meski kututup rapat mataku, kupejamkan mataku, pun, meski, kucoba eratkan pintu hatiku.

Mengapa, bahwa engkau selalu berhasil masuk, dan duduk di hadapanku? Seperti hari ini, hadir kamu, di depanku. Memesan takoyaki yang sama, jenis kopi yang sama. Tersenyum halus, mempesona. Aku, merindukanmu. Entah engkau tahu, atau tidak tahu, atau mungkin juga sedang mencoba erat menutup pintu hatimu?

“Kesini lagi? Kangen saya ya?” Senyum jengkel,

“ Nggak , kangen dokternya.”

“Hahaha… Iya, Bu Dokter cantik, kalau saya kan perawat lelaki, ndak selera pasti.”

“Iyalah, biar kanker begini, pikiran masih lurus, Mas,” menunjuk-nunjuk kepala yang plontos akibat kemo.

Mas Priyo, perawat bangsal khusus penyakit terminal, nyengir.

“Mas, ganteng lo model rambutnya begitu. Belum pernah tahu sampai mencoba, kan? Beberapa orang takut sebelumnya, tapi ternyata ndak seberapa parah penampilannya.”

“Menghibur, ah…”

“Eh , serius ini. Dosa saya, kalau cuma mulut manis.”

“ Haha.. . Okelah. Makasih ya. Bagaimana kabar istrimu? Masih di masa bulan madu, kan?”

“Sudah hamil besar, Mas.”

“Oh ya?”

“Mas saja yang agak lama tidak balik. Namun akhirnya kembali juga.”

“Bosan dikemo. Kau kira enak?”

“Hahaha … Ya enakan touring , lah Mas.”

“Makanya…” Percakapan terhenti, jam visitase dokter, dan semua kembali ke “kodrat”-nya. Priyo kembali pada tugasnya, aku kembali pada penantian proses kesembuhan yang rasanya tiada tara. Namun sekarang ada yang tidak kembali lagi, yaitu kesendirian hatiku. Karena aku menemukanmu, kembali. Kamu, pelipur laraku. Kamu juga yang membuatkau kembali mau menjalani pengobatan ini, meski aku ragu.

Coffeshop Selancar, pojok jalan. Pilihanmu. “Hai, sudah lama menunggu? Maaf terlambat.” Mendongak, kembali ke dunia nyata. Memasukkan handphone ke saku celana. Baju V-Neck bergaris horisontal putih merah biru, celana jeans, sneaker hitam, rambut digulung tak rapi, namun kamu cantik.

“Tak apa. Kamu dari mana?”

“Mengantar anakku sekolah, kan masuk siang hari ini. Makanya, tidak bisa on time. Maaf ya?”

“Tak apa…” mengulang.

“Bukan suami yang antar?”

“Nggak bisa, dinas luar kota sejak lusa.” “Oh…”

“Eh, ini produknya. Ini bagus untuk meningkatkan imun tubuh. Yang sehat bisa pakai, kalau ada sakit bisa juga.”

Memegang produk itu, ragu. Kami “teman” lama. Berjumpa di grup yang dibuat kawan lainnya.

“Sebenarnya, siapa sih yang perlu?”

“Apa?” tersentak.

“Melamun ya?” tersenyum manis,

“Imunbooster ini, buat siapa?”

“ Oh , itu…” menggaruk-garuk hidung. Dia menatapku, aku menatapnya.

“Buat aku…” Demikianlah. Kadang, dalam hidup, angin berhembus ke mana ia mau.

Tapi yang seolah apa adanya itu, kadang membawa sesuatu yang seperti diaturkan alam. Entah benar, entah salah. Kadang, ia membawa harumnya kelopak mawar dari taman lain. Kadang, membawa nikmatnya sate pedagang keliling. Kadang, membawa butiran halus hujan merayap masuk ke balik kaca yang bercelah. Dan kau, adalah yang singgah terbawa oleh laraku yang tiada kuduga.

Tiada menduga akan sakit. Namun, tiada menduga bahwa sakitku membawamu kepadaku, kembali. Jadi, apakah aku harus mengeluh lagi mengenai sakit ini? Namun, secara resmi, kita tak bisa memiliki. Ada yang mengikatmu, yang disebut sebuah pernikahan. Walau aku bebas, namun kebebasanku tidak bisa memerdekakanmu. Entah mengapa kita baru bertemu lagi. Mungkin harusnya aku sakit, sejak dulu…

Dulu aku dan Ina teman sekampung. TK sama, SD juga, sampai SMP. Orang tua kami rupanya punya pikiran sama, menyekolahkan yang dekat, yang praktis dan anak bisa jalan sendiri pulang pergi. Namun tidak semua kedekatan mengakrabkan.

Baca selanjutnya part 2 link di bawah ini

http://suarabaptis.com/cerpen-selibat-bagian2-fatamorgana-part-2/

Baca selanjutnya part 3 link di bawah ini

http://suarabaptis.com/cerpen-selibat-bagian2-fatamorgana-part-3/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here