(Cerbung) Selibat : Tara Segitiga part 2

0
59

Membuka jendela mobil, “Kak Gita?” mengkonfirmasi, meski aku telah meyakini.

Ia terkejut, “I-iya…” terbata.

Senyum ramah, berpura awal tidak kenal, memberi ruang agar ia tidak ragu, pun malu, apalagi mungkin membatalkan order-nya.

Masuk, duduk, sendiri, menunduk.

Aku melihat dari kaca spion. Tersenyum.

Mungkin ia tahu, karena tiba-tiba, “Maaf, Anda yang waktu itu ya? Saya jadi malu…” tersipu.

“Oh , tidak apa, Kak!” tersenyum kembali, ramah. Entah kenapa aku bahagia dia yang jadi penumpangku.

Bukan lagi karena kepo, ingin tahu, tapi entah ya… Ada rasa yang berbeda.

“Jangan panggil Kak. Mas lebih tua dari saya. Saya, Gita.”

“Saya Bayu,” refleks menjawab.

“Iya, saya tahu.”

Betul juga, namaku jelas pasti tertera di aplikasi. Aku jadi malu.

Gita tertawa.

Entah mengapa, aku senang melihatnya bisa tersenyum sedemikian rupa.

Lalu kami berkenalan.

“Kalau offline berapa?” ia bertanya menyebut sebuah destinasi kota. Kami berbincang juga.

Aku berharap, kembali jumpa.

Gita menghubungiku. Lagi!

Bertanya bagaimana cara bisa mendapatkanku kembali secara online.

Aku bertanya mau ke mana.

Ia bilang ingin mengunjungi bibinya di pinggir kota.

Kutawarkan mengantarnya.

Ia bilang apakah ini offline.

Aku jawab, tidak, aku mengantarmu saja. Sebagai teman. Bukan sebagai driver.

Ia bilang, kurang enak.

Aku sahut, tidak apa, meyakinkannya.

Ia mau.

Maka, kami pun jadi sering bertemu.

Aku cinta Gita. Berharap inilah jodohku. Tapi semakin mengenalnya, meski semakin suka, tapi aku semakin takut juga.

Bukan karena takut pada ujung pernikahan, tapi takut bahwa ujungnya akan sama seperti “biasa”. Ia bukan untukku, pun sebaliknya. Dan aku akan kembali selibat lagi, kesekian kalinya.

 

“Emak, ia tidak seagama. Bagaimana
baiknya? Ada temanku berkata, tidak apa. Yang lain berujar, lupakan saja. Semua, sama susahnya. Aku ingin ia ikut aku. Ia ingin, aku bisa mengikutinya. Kami sama-sama keras kepala. Ini sudah bertahun lamanya. Namun aku masih tidak sejahtera, kalau kami tidak sama. Tapi mendapat jodoh, itu sulit, Mak. Bisa menemukannya saja, susah! Emak mungkin tidak paham, karena Emak langsung bertemu Bapak. Tapi aku? Aku juga ingin menikah, aku ingin sama. Ah, tapi apakah orang harus sama semua, Mak? Lihat, aku makin berusia. Sangat jengkel dan menyakitkan jika bertemu orangorang yang enteng rasa, gampang bertanya, pun menasihati tentang mencari pasangan dan pernikahan. Seharusnya mereka lebih banyak diam, seperti engkau, Mak… Mereka tidak tahu apa yang kurasakan! Mereka tidak tahu apa yang sudah kulalui! Apa yang kuperjuangkan!”

Tentu saja Emak tidak menjawab, karena yang kuajak bicara adalah nisannya.

Andai Emak masih ada, meski katanya ia “bodoh”, tapi aku selalu percaya jawabannya. Dan jawabannya, takkan menyesatkan anak yang dikasihinya.

***
“Bagaimana, Mas? Keluarga sudah menanyakan, akan dibawa ke manakah hubungan kita?”

Ini perbincangan kesekian kalinya, yang berpangkal namun tiada pernah berujung, seperti sebelum-sebelumnya.

Perbincangan yang mesti dilakukan, meski kalau boleh memilih, kami berdua ingin samasama menghindar, sebab hanya membawa pertengkaran.

Aku ingin mencintaimu, Gita, bukan ingin bertengkar denganmu.

“Lha bagaimana? Please , lah, kamu ikut aku?”

“Ya nggak bisa!” wajahnya mulai tidak enak, lagi.

“Kamu saja!” mulai marah.

“Kepercayaan bukan soal kepercayaan semata. Tapi tentang ujung kehidupan. Ke surga, nirwana, atau ke neraka. Kan ?” tanyaku. Pertanyaan yang pernah kunyatakan bukan sekali dua.

“Lalu… kau mau bilang lagi kalau ikut kamu pasti ke surga, sedang kalau ikut aku tidak jelas ke mana?” ia tersinggung. Lagi…

Aku diam. Putus asa, pun bosan bertengkar hal yang tak beda. Sudah tiga tahun kami
bersama  dalam putus sambung asmara.

Sampai kapankah, ya? Atau harus bagaimana…

“Itu fakta, Gita. Hidup tidak hanya soal di dunia.”

“Ah!” dia marah. “Egois. Sok tahu! Sok suci! Sok yakin! Tidak boleh ada yang meyakini ia masuk mana, itu namanya mendahului Yang Di Atas!”

“Anak-anak kita mau dibawa kemana? Surga, atau neraka! Masa kamu tidak menyayangkan mereka? Kamu pilih yang pasti, atau yang tidak?”

“Ah , kamu egois! Kepercayaanmu sok benar! Itulah masalahnya!” Gita menangis, melepas cincin emas yang kuhadiahkan di ulang tahunnya lalu.

“Stop , Gita! Jangan kau ucapkan putus lagi!” nadaku mulai tinggi.

Aku tahu, ia mau melemparkan cincin itu padaku.

“Apa kamu lupa Mas, ancaman bapak ibuku tempo hari? Kalau sampai usia tiga puluh aku ndak kamu nikahi, aku akan dijodohkan dengan tetanggaku? Kamu tahu itu? Kamu mau? Kamu tega?”

Astaga! Terkejut dibuatnya. Iya…

“Lalu, aku harus bagaimana?”

“Waktu kita sempit, waktuku sempit! Lamar aku!” Gita mendorongku.

“Entahlah…”

“Ulang tahunku dua minggu lagi. Dan aku tahu bapak ibuku tidak main-main kali ini. Mereka juga lelah menunggu. Mereka malu! Putuskanlah demi aku, Mas! Aku menanti jawabmu!”

“Aku tidak tahu!”

Digenggamkannya cincin itu padaku, “Kukembalikan cincin ini padamu. Kalau memang engkau sudi bersamaku, kembalikanlah waktu ulang tahunku. Aku menantimu…”

Gita keluar dari mobil, berlari dalam amarah dan air mata yang ditahannya. Menghilang dalam malam. Entah ke mana.

Aku masih terdiam, memegang cincin itu dalam genggaman. Bingung. Apakah harus kulakukan!

Tara Sagita, adakah kamu jodohku, jika jodoh itu ada… Haruskah aku mengejarmu?

Lama aku terduduk di belakang kemudi, memejamkan mata.

Sebenarnya aku tahu, ini ujungnya. Aku hanya menunda-nunda, berandai-andai, berharap-harap entah dalam nyata atau ilusi semata.

Ini, tentang prioritas. Lemas, tanganku terjuntai. Cincin menggelinding. Pilihan, telah dijatuhkan…

 

Baca Cerita sebelumnya Link dibawah ini

(Cerbung) Selibat : Tara Segitiga part 1

*)Penulis tinggal di Salatiga

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here