(Cerbung) Selibat : Tara Segitiga part 1

0
140

Atau, mungkin aku diciptakan selibat? Single?

Hah, selibat!

Pikiran inilah, yang tadi kusebut mulai menghantuiku! Pemikiran yang entah dari mana muncul. Apa mungkin dari pembacaan Alkitab di nas minggu lalu?

Ada orang yang tidak dapat kawin, karena ia memang lahir demikian dari ibunya.

Ada yang dijadikan demikian oleh orang lain.

Ada yang membuat demikian dirinya karena Tuhan.

Astaga! Adakah diriku, masuk dalam salah satu dari ketiga kategori itu?

Aku bukan di Eden, maka aku sungguh-sungguh tidak bisa tidur malam itu, dan menjadi sering susah tidur setelahnya.

Aku membayangkan, kalau aku di Eden, Tuhan pasti akan menghiburkanku, dan aku akan mudah kembali mendapatkan kenyenyakan-kenyenyakan tidurku seperti dulu.

Ah, tapi bukankah di surga sudah tidak dibutuhkan perkara-perkara duniawi seperti ini?

Hei, iya! Adakah ini perkara duniawi semata, yang mengapakah mesti kurepotkan dibanding perkara surgawi?

Aku jadi sadar, selama ini, aku belum banyak melayani, baik di gereja atau secara pribadi. Adakah itu jalannya? Kalau aku melayani, mungkin akan semakin banyak Tuhan memberi?

Ah, tapi, masakan aku melayani dengan motivasi manusiawi?

Adakah kasih Tuhan berdasarkan pada apa yang dapat kuberi? Sedang keselamatan sendiri, hal termutlak dan termahal yang Ia berikan, bukan pemberian jasa pun “barteran”? Itu karunia, yang bukan sama sekali ada sangkutnya dengan siapa kita atau apa yang sepadan telah mampu kita berikan pada-Nya.

Suatu hari…

Adakah kebetulan, coincidence , jika kamu bertemu seseorang kembali, di tengah kemungkinan satu banding banyak? Atau, itu adalah pengaturan dari Atas?

Pulang kerja, meski letih, seperti biasa aku login untuk kembali menjadi sopir online panggilan. Nama pertama masuk. Wanita. Sudah kurang begitu tertarik. Telah putus asa.

Tujuan, oh , pusat kota. Tidak jauh. Satu menit jemput, lima menit antar, selesailah tugas pertama. Nanti break makan. Baru lanjut kedua.

Tapi di yang pertama itu…

Kukirim chat , “Sesuai map ya, Kak?” memanggil “Kak” kepada semua usia yang tampaknya belum ibu.

“Iya.”

Tapi ternyata lompat, entah kesalahan di mana.

Kucari-cari. Antara kasihan dan khawatir komen buruk dari pengguna layanan.

Chat masuk, “Sudah di mana, Mas?”

“Maaf, kok map-nya salah. Saya sedang mencari.”

“Oh, gitu. Bisa cepat? Tolong.”

“Iya.”

Entah kenapa, yang biasa tenang saja, jadi gugup.

“Tolong cepat,” chat lagi.

“Iya, Kak. Maaf ya. Sebentar,” membalas sopan, meski makin gugup juga. Adakah ia sakit, atau mau membawa orang sakit?

Merasa bersalah.

Ah , akhirnya! Ketemu!

Pintu mobil langsung dibuka, ia sendirian, membanting pintu, menutup mukanya dengan tangan, menangis.

Aku bengong.

Ragu, “Maaf… Kak Gita?”

“Iya…” pelan sekali.

Mengangguk-angguk sendiri. Menjalankan mobil.

Tidak kuasa ingin tahu, berkali kucuri pandang dari kaca spion. Apa yang harus seorang sopir bijak lakukan? Mendiamkan, membiarkannya menumpahkan rasa tanpa harus malu ditanya orang lain yang tidak ada urusannya? Atau…

Tidak bisa menahan naluriku, “Tisu, Kak…” mengulurkan boks tisu, “Maaf dengan tangan kiri…” sesopan mungkin, sehalus mungkin.

Meraih tanpa melihatku, pun mengubah posisinya sama sekali.

Pusat kota sudah dekat.

Memberanikan diri, “Kak, nggak apa-apa?” Takut salah.

Menutupkan tisu ke kedua mata, ia menganggkuk pelan.

Oh, okay…” aku ikut mengangguk meski tak dilihatnya.

Sampai di destinasi. Telah membayar secara online, wanita itu keluar, begitu saja…

Aku jadi bertanya-tanya. Siapa dia. Apakah yang terjadi. Adakah yang telah menyakitinya. Akankah aku berjumpa lagi?

Tuhan ternyata baik!

Entah kenapa, nama yang sama, bisa masuk kembali untuk kedua kalinya. Meski mungkin, tapi itu jarang. Apalagi di kota yang besar ini di mana ada semakin banyak profesi sepertiku. Yang berarti secara logis semakin sedikit peluang perjumpaan kembali. Kecuali memakai cara offline, janjian pribadi.

Apakah ini, Gita yang sama?

Lokasi jemput berbeda, destinasi berbeda. Tapi betul, ia wanita yang sama!

BERSAMBUNGGGG…..

Baca Selanjutnya Link dibawah ini

(Cerbung) Selibat : Tara Segitiga part 2

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here