BERSABAR SEBENTAR LAGI – Keluaran 15: 22-27

0
291

Peribahasa “bagai makan buah simalakama” rasanya sangat tepat dipakai untuk menggambarkan situasi saat ini. Sebut saja para pengusaha, mau tidak mau merumahkan karyawan, yang berarti menurunkan bahkan meniadakan produksi, meski tetap membayar gaji mereka. Namun tetap mempekerjakan karyawan di tengah situasi saat ini bukanlah pilihan mudah. Bagi pekerja yang tak memiliki pilihan bekerja secara daring (dalam jaringan) di rumah, harus menerima kenyataan pahit diberhentikan. Di sisi lain, ia mengerti dengan keadaan dan tak dapat menuntut perusahaan.

Bagi pengemudi ojol (ojek online), mengantarkan makanan pesanan bagi para pelanggan berisiko terpapar virus. Tidak berkerja bukanlah sebuah pilihan untuk membuat dapur di rumah tidak mengepul. Dan benar saja, hampir seluruh sektor kehidupan manusia di muka bumi ini menghadapi hal yang sama. Sama-sama sulit.

Keluaran 14-15 menceritakan bagaimana bangsa Israel bersiap menelan buah simalakama. Di belakang mereka, rombongan tentara Mesir dengan segala kekuatan maksimal yang dapat mereka kerahkan tidak saja mendesak rombongan tentara, tetapi juga anak-anak dan para lansia Israel. Di depan, Laut Teberau siap menenggelamkan mereka. Dalam segala arah, bayang kematian menghantui mereka.

Namun, pada waktu dan cara-Nya yang ajaib, Allah bertindak – prinsip ini yang terus dapat kita percayai bahwa Allah pasti berbuat sesuatu entah kita memikirkannya atau tidak. Tiang awan yang menimbulkan kegelapan berdiri di antara tentara Mesir dan orang Israel sehingga yang satu tidak dapat mendekati yang lain (14:19-20). Allah – melalui Musa dan angin timur yang keras – membuat laut menjadi tanah kering yang dapat dilewati bangsa itu (14:21-22).

Dengan mata kepala mereka sendiri, orang Israel melihat bagaimana Allah mencampakkan orang Mesir ke tengah-tengah laut. Kisah itu ditutup dengan respons Israel yang percaya dan menaikkan pujian kepada Allah.

Ketidakpercayaan dimulai ketika umat Tuhan melakukan perjalanan setelah tiga hari berjalan di padang gurun dari tempat penyeberangan Laut Merah di Semenanjung Sinai, dengan tidak mendapat air (15:22). Sangat wajar secara manusiawi, berjalan di tengah gurun dalam situasi entah berantah tak ada air sebagai kebutuhan fisiologis yang utama, umat itu berkeluh kesah. Sampai tiba di Mara, harapan muncul namun dengan segera meredup kembali ketika didapati air di tempat itu terasa pahit. Lalu bersungut-sungutlah mereka. Namun perhatikan, sungut-sungut orang Israel yang berulang bersamaan dengan itu selalu melihat karya Allah, adalah tanda nyata ketidakpercayaan mereka kepada Allah.

Musa menjadi penengah antara Allah dan umat. Tiga hari lalu ia dipuji, sekarang caci maki bertubi. Benar seperti pepatah, kebaikan setahun dilupakan karena keburukan – bahkan keburukan yang tidak dibuatnya – dalam sehari. Ia berseru kepada Allah dan Dia menunjukkan sepotong kayu yang kemudian Musa lemparkan sehingga mengubah air yang  pahit menjadi manis.

Musa bertindak atas nama Allah. Ia menyampaikan isi hati Allah agar umat memasang telinga dan mendengar suara-Nya, melakukan apa yang benar, bukan sungut-sungut. Apa maksud dari semua itu? Tidak lain agar janji Allah sebagai Yehova Rapha (Allah penyembuh, pemulih) tergenapi dalam hidup mereka.

Namun memang benar ada yang salah dengan orang Israel.  Seorang dosen pernah berkata, “Di dalam Alkitab jika ada janji pasti dikuti perintah dan sebaliknya, jika ada perintah pasti ada janji yang menyertainya.”

Dalam konteks ini, Allah memberi mereka perintah sekaligus janji (ayat 26). Dan sekali lagi, orang Israel adalah bangsa yang selektif, mengklaim janji dan memungkiri perintah.

 

Saya berandai-andai – dalam kaca mata yang telah membaca dan memahami cerita lengkap perjalanan mereka – jika saja mereka sedikit bersabar dan tetap melakukan perjalanan sejauh delapan kilometer, maka mereka akan tiba di sebuah tempat bernama Elim. Bahkan dalam frame yang lebih luas, jika saja mereka sama sekali tidak bersungut-sungut pada Allah, semua orang Israel akan masuk dalam tanah perjanjian bahkan dalam waktu yang relatif singkat dibanding 40 tahun kenyataan pahit yang harus mereka telan.

Berapa banyak dari kita ketika sampai di “Mara”? Tempat yang kita kira memberikan seberkas sinar, yang bersegera memudar dan entah bagaimana, tertelan kegelapan. Kemudian timbul kekecewaan, seakan dunia berhenti berputar, segala sesuatunya habis sudah. Kita menjadi enggan berjalan dan tak lagi berharap akan Allah.

Persoalan orang Israel bukanlah tentang Mara, Elim, Betel, Eben Haezer atau tempat-tempat lainnya, di mana Allah menunjukkan kebaikan-Nya. Persoalannya adalah tempat yang paling dalam di hati mereka, gersang. Air kesejukan dari Allah sekejap mengering. Diberi manna, membusuk. Mendapat perteduhan, dibongkar. Hati mereka mudah tersulut dan terbakar hebat. Panas hati mereka meluap dalam tindakan keluh kesah kepada Musa, kepada Allah. Lihat saja pada pasal berikutnya, setelah mereka berangkat dari Elim – setelah menikmati 12 mata air dan 70 pohon korma – sungut-sungut kembali muncul.

Memang benar bahwa sepanjang sejarah manusia, mukjizat tidak menjamin seseorang mempercayai Allah, apalagi untuk taat kepada-Nya. Itu sebabnya Paulus menyebut kisah perjalanan umat Israel – di antaranya sungut-sungut mereka – sebagai sebuah sebuah peringatan bagi orang-orang Korintus (1 Korintus 10:1-11) dan orang percaya masa kini. Lihat saja, dalam ketidaksabaran, banyak orang berdoa agar segala persoalan, sakit penyakit, kesulitan hidup cepat berlalu.

Tidak ada yang salah dengan itu. Namun hal itu menunjukkan bahwa banyak orang tidak tahan dalam menjalani proses penderitaan yang tidak dapat terhindari. Bahkan di antaranya mencoba menggunakan cara-cara penyelesaian persoalan yang Tuhan tidak kehendaki. Tetapi jika kita mendasarkan pada penyertaan Allah yang kekal, sebenarnya banyak hal yang dapat kita syukuri di tengah situasi seperti sekarang ini. Entah itu menata ulang spiritualitas yang mungkin saja selama ini sekadar menjadi rutinitas, membenahi diri dalam sepinya hari. Peka dengan suara Allah yang selama ini terlindas bisingnya waktu. Kebersamaan dengan keluarga yang selama ini tertinggal. Atau sekadar menikmati keberkahan membaca buku dari penulis favorit di kursi malas.

 

Karena itu:

Bertahanlah sebentar saja, Allah pasti memberikan kekuatan untuk melakukannya.

Bertahanlah sebentar saja, Allah pasti memberikan kelegaan pada waktu-Nya.

Bertahanlah sebentar saja, supaya kita sungguh-sungguh mengenal jalan-jalan-Nya.

Bertahanlah sebentar saja, agar kita tidak bersalah terhadap Dia serta menyesal kemudian mengapa kita di masa lalu menjadi orang yang sangat egois dengan bersungut-sungut kepada-Nya.

Bertahanlah sebentar saja, mungkin itu adalah perjalanan delapan kilometer, satu bulan, satu tahun atau selama kita hidup yang tak dapat dibandingkan dengan kekekalan.

 

*)Penulis adalah Gembala Sidang GBI Kartasura, Jawa Tengah

 

Catatan:

Simalakama atau Mahkota Dewa (Lat. Phaleria macrocarpa), mengandung senyawa beracun tetapi sekaligus antikanker, itu sebabnya buah ini dipakai sebagai peribahasa yang berarti bagai seseorang yang diperhadapkan pada dua pilihan yang sangat sulit atau serba salah.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here