BERAPA LAMA JABATAN DIAKON DI AMERIKA?

0
170

Bila gereja-gereja Baptis Indonesia umumnya menjadikan diakon sebagai jabatan seumur hidup, bagaimana dengan di Amerika?

“Di gereja kami ada 30 diakon. Ketika seseorang sudah memenuhi kualifikasi (sebagai calon diakon), pemilihan dilakukan sebanyak tiga kali. Dari 30 diakon ini, akan bertugas selama tiga tahun. Yang sudah pernah menjabat sebagai diakon dapat dipilih lagi setelah satu tahun jeda dari periode sebelumnya,” ujar Pdt. Alex Soetjipto yang pernah melayani di Gereja Baptis Pertama Rock Hill, Missouri, Amerika Serikat.

Pdt. Alex Soetjipto

Pembatasan periode jabatan diakon juga berlaku di Gereja Baptis Windsor, Kanada, negara paling utara di Amerika Utara. Meski demikian, menurut Diakon (Dkn.) Wasi Tri Pramono yang melayani di Windsor, setelah masa jabatan selesai, seseorang yang sebelumnya menjabat sebagai diakon masih bisa dipanggil “Pak Diakon”. Panggilan kehormatan ini tetap berlaku asalkan ia tidak melanggar kualifikasi yang disebutkan Firman Tuhan.

Namun  Dkn. Wasi juga menyebutkan, Alkitab tidak menulis bahwa jabatan diakon berlaku seumur hidup.

Dalam situs internet miliknya ( Gereja Baptis Pertama www.fbccov.org) Covington, Los Angeles, Amerika Serikat menulis, tiap tahun gereja ini memilih 12 diakon untuk melayani selama dua tahun. Ke-12 pria ini bergabung dengan 12 orang yang tahun lalu diangkat juga menjadi diakon. Sedangkan 12 diakon lama yang sudah bertugas selama dua tahun, akan berhenti dari jabatannya.

Meski masa jabatan dan tatacara pemilihan bisa berbeda di tiap gereja, persyaratan menjadi diakon selalu berpatokan ayat Alkitab yang sama. Semuanya mengambil dasar dari 1 Timotius 3: 813. Bagian inilah memang yang menyebut secara jelas persyaratan seorang diakon. Ia haruslah seorang pria yang berkarakter kuat dan mampu memimpin keluarga secara sehat. Ia juga seseorang yang berani bersikap dengan tidak bercabang lidah, dan teruji.

“Di gereja kami, diakon yang terpilih juga harus sudah menjadi orang Kristen baru minimal tiga tahun. Kedua, sudah menjadi anggota gereja minimal satu tahun. Ketiga, sudah berusia minimal 25 tahun,” kata Pdt. Alex kepada Juniati dari Suara Baptis.

Di Gereja Baptis Pertama Rock Hill, panggilan “diakon” hanya berlaku selama yang bersangkutan masih menjabat sebagai diakon. Ketika masa jabatan telah berakhir, ia tidak lagi dipanggil sebagai “diakon”.

Di Gereja Baptis Windsor, proses pemilihan diakon dimulai dengan pengumuman adanya kebutuhan pelayan yang akan menolong gembala sidang melayani jemaat dengan baik. Karena itu, gereja membuka pendaftaran bagi siapa saja yang ingin melayani sebagai diakon. Selanjutnya, gembala sidang dan para penatua meneliti nama-nama yang terdaftar untuk mempertimbangkan kemampuan dan kecocokannya sesuai 1 Timotius 3:8-13.

Ketika semua syarat terpenuhi, gembala sidang dan para penatua akan menyusun program tahunan. Sesudah disepakati dalam rapat bersama jemaat, program tersebut akan dijalankan termasuk para diakon yang terpilih.

Baca Juga Artikel : DIAKON, Benarkah Jabatan Seumur Hidup?

“Pendeta, penatua, maupun diakon harus mencontoh pada pelayanan Tuhan Yesus. Dengan adanya para diakon ini, pendeta dan penatua akan lebih berfokus pada pelayanan Firman Tuhan. Seorang diakon bertugas memimpin bidang yang dilayani sesuai dengan program gereja yang disetujui dan disahkan jemaat dalam rapat gereja. Rasul Paulus pun mengajarkan dalam 1 Timotius 3:13, ‘Mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa’,” ujar suami Farida Iriani tersebut.

Meski tugas utama pendeta dan penatua adalah mengajarkan Firman Tuhan, mereka juga selalu terlibat dalam semua pelayanan seperti kunjungan, perayaan-perayaan, dan lain-lain. Sementara pelaksanaan setiap program dipimpin orang-orang yang sudah ditentukan.

“Cakupan pelayanan diakonia sangat luas, pelayanan meja, membantu keperluan orang lain yang dinilai memerlukan. Ini umumnya tetangga gereja atau saudara dari anggota gereja, atau pelayanan-pelayanan lain yang dilakukan atas nama gereja. Ini terdiri atas administrasi gereja, perawatan gedung, penggalangan uang untuk bermacam-macam keperluan utusan Injil yang dibantu gereja, atau berhubungan dengan peraturan-peraturan pemerintah yang harus dilakukan gereja, dan lain-lain,” kata mantan Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) Maguwoharjo, Yogyakarta ini.

Dkn. Wasi

Karena Allah adalah pemilik gereja, Dkn. Wasi mengingatkan pentingnya persyaratan yang wajib dipegang teguh pendeta dan diakon. “Karena gereja adalah milik Allah, sehingga kualifikasi-kualifikasi yang disampaikan dalam surat Timotius adalah untuk mengatur keluargaNya, yaitu (gereja atau orang-orang yang diselamatkan oleh anugerah pengorbanan-Nya.”

Karena itu, lanjutnya, seorang calon pendeta dan diakon harus memenuhi kualifikasi Allah sebelum diteguhkan oleh gereja. Jika tidak, ia tidak dapat menduduki jabatan tersebut. Dan jika di perjalanan seorang pendeta dan diakon
terbukti melanggar kualifikasi yang sudah ditetapkan, ia tidak berhak lagi menduduki jabatan tersebut.

“Kalau seorang pendeta atau diakon memiliki pelanggaran seksual, ia tidak berhak lagi menempati posisi sebagai pendeta atau diakon. Sekalipun dia sudah bertobat dengan setulus hati, dia tetap sudah cacat dan tidak memenuhi kualifikasi yang di sebutkan dalam surat Timotius. Tuhan pasti memakainya sebagai alat-Nya, namun tetap tak dapat menempati posisi semula,” kata Dkn. Wasi.

Selama tinggal di Kanada, ayah empat anak ini mendapati banyak sekali orang yang menyandang sebutan pendeta atau diakon. Menurutnya, orang-orang yang memenuhi kualifikasi itu perlu dihargai dan dijunjung tinggi. Ia juga mengingatkan bahwa jabatan diakon bukanlah gelar seperti gelar sarjana.

“Namun, jangan sampai kita menggunakan kasus Yudas Iskariot untuk membenarkan bahwa diakon itu seumur hidup, karena kasus kedua belas rasul tentu berbeda dan itu kasus khusus. Kita patut menghargai mereka yang tetap mempertahankan kualitas hidup mereka sebagai pemimpin-pemimpin rohani,” ujarnya.

Sementara bagi diakon atau pendeta yang pernah melanggar kualifikasi, Dkn. Wasi yang kini menjabat sebagai penatua tidak setuju jika mereka tetap dipanggil “pendeta” atau “diakon”.

Baca Juga Artikel : JADI DIAKON, Pertemanan Pun Mendadak Berjarak

“Kalau mereka yang melanggar masih tetap dipanggil sebagai ‘pendeta’ atau ‘diakon’, itu akan mempengaruhi kesaksian hidup mereka yang akan menyebabkan kerusakan pada tubuh Kristus (gereja). Karena pelanggarannya yang menyebabkan dirinya sendiri didiskualifikasi dari jabatan kudus itu. Seperti yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul 20:28, ‘Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperolehNya dengan darah Anak-Nya sendiri.’ Hamba Tuhan, pendeta atau diakon, memiliki tugas untuk menjaga dirinya sendiri, kawanan domba yang dipercayakan kepadanya. Namun jika ia melanggar, maka ia tidak layak lagi disebut pendeta atau diakon,” tandasnya.

Situs internet baptistdistinctives.org menulis, proses pemilihan diakon gereja-gereja Baptis melibatkan seluruh jemaat. Sedangkan peran diakon biasanya berbeda antara gereja satu dengan yang lain. Meski begitu, umumnya diakon diminta mengevaluasi dan merekomendasikan hal-hal besar untuk dibawa ke rapat gereja.

Gereja juga melibatkan diakon di berbagai pelayanan seperti mengunjungi orang sakit, membantu keluarga dalam kesusahan dan memberikan bantuan kepada orang miskin. Bagaimana dengan diakon di gereja Anda?

 

Penulis: Juniati

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here