Baptisiana | JIMAT COCA COLA

1
178

Bagi Giarti Nugraheni, anggota Gereja Baptis Pertama (GBP) Bandung, sekaleng minuman ringan (softdrink) pernah menjadi semacam “jimat”. Bila ia lupa membawanya ketika naik bus atau mobil menempuh jarak relatif jauh, Giarti bisa-bisa sakit kepala.

Kisahnya dimulai ketika Giarti masih menjadi mahasiswa Sekolah Tinggi Teologia Baptis Indonesia (STBI) Semarang tahun 1995 sampai 2000. Ketika itu, ia harus sering naik bus sekitar empat jam dari rumahnya di Purworejo, Jawa Tengah ke Semarang. Bolak-balik naik bus membuat Giarti mabuk darat.

“Sebenarnya awalnya nggak (mudah mabuk) juga,” ceritanya. “Dulu, waktu kecil, saya bukan tipe anak yang mabukan kalau dalam perjalanan. Cuma waktu itu tuh kalau lihat orang mabuk di kendaraan (lalu dinasihati orang), ‘Eh, kalau pusing, kalau mau mabuk di kendaraan, minum Coca Cola saja atau Sprite.’ Dari situ, kalau perjalanan jauh, saya harus selalu membawa softdrink, walaupun seringnya nggak diminum karena dalam perjalanan itu saya nggak mabuk.”

Namun membawa minuman bersoda itu telah menjadi kebiasaan yang lambat laun membuat Giarti kerepotan. Suatu ketika ia lupa tidak membawanya ketika bepergian jauh. Wanita ramah ini lantas sakit kepala.

Begitu meneguk minuman ringan, pusingnya langsung hilang. Tetapi, lain kali dia membawa minuman ringan itu, pusing-pusingnya tidak datang lagi. Aneh,kan?

Akhirnya, Giarti menyadari dirinya sudah ketergantungan. Seperti sudah kuat tertanam dalam pikirannya bahwa dalam perjalanan nanti akan mabuk bila tidak membawa minuman bersoda.

“Semua orang kalau sudah tergantung, susah…,” ungkap Giarti.

Seorang ketika teman Giarti hendak ikut dalam perjalanan wisata ramai-ramai ke Puncak, Bogor, yang terkenal dengan jalannya yang berkelok-kelok. Selama ini, teman Giarti mabuk kalau bepergian naik mobil atau bus.

Semula, teman Giarti ketakutan luar biasa ketika diajak pergi.

“Pokoknya saya nggak mau ikut,“ Giarti mengutip perkataan temannya.

Teman itu bilang, naik angkot (angkutan kota) dari tempat kerja sampai rumah saja mabuk, apalagi bepergian ke tempat yang jauh.

Tetapi Giarti tetap mewajibkan semua orang untuk ikut wisata. Giarti memberitahu bahwa ketakutan akan mengalami mabuk itu muncul karena keyakinan tersebut sudah tertanam lebih dulu dalam pikiran. Maka, Giarti lalu mendorong temannya untuk mengisi pikirannya dengan hal yang sebaliknya, bahwa dia tidak akan mabuk. Giarti mengajaknya berpikir bahwa adalah hal yang menyenangkan, pergi ramai-ramai bersama banyak teman.
Giarti menyarankan, temannya tidak membawa salonpas dan obat antimabuk untuk berjaga-jaga.
Ketika teman tersebut menuruti sarannya berpikir hal-hal yang menyenangkan di sepanjang perjalanan, mereka sampai ke Taman Bunga Nusantara, Puncak, tanpa masalah. Begitu pun ketika pulang, sang teman tidak mabuk.
Seorang anak teman lain Giarti juga ternyata juga mengalami ketakutan serupa. Anak ini tidak bisa naik bus karena takut mabuk.

Giarti mendorong temannya untuk mengatakan kepada anaknya, supaya berpikir bahwa naik bus adalah perjalanan yang menyenangkan. Sayangnya, si anak tidak mau mencobanya. Dia lebih senang naik sepeda motor.

Lalu bagaimana akhirnya Giarti bisa melepaskan diri dari ketergantungannya terhadap “jimat” Coca Cola?

“Asal ada niat dari kita, bisa,” ujarnya. “Pasti kalau dengan kekuatan kita sendiri, kita nggak bisa… Tetapi mintalah pertolongan kepada Tuhan, itu yang paling utama,”pesannya.

Namun tentu saja tidak mudah. Pergumulan terus terjadi. Suatu waktu dalam perjalanan pulang Giarti bertekad,

“Saya nggak mau, pokoknya saya nggak akan bawa softdrink.” Eh, ternyata aman. Tidak terjadi apa-apa.

Menurutnya, ketakutan itu hanya bisa dilawan dengan menghadapinya. Ketika dia melawan ketakutannya, ketakutan itu tidak terjadi. Satu-satunya cara melawan ketakutan adalah dengan melakukan hal yang ditakutkan itu, tandas Giarti. Ketika Giarti sengaja tidak menuruti ketakutannya (tidak membawa minuman bersoda), ternyata sesuatu yang buruk(mabuk, sakit kepala) pun tidak terjadi.

Merokok pun sama saja, berawal dari kebiasaan lalu terlanjur menjadi ketergantungan. Jadi, kecanduan merokok harus dilepaskan.

“Ada hal-hal yang nggak penting tetapi menjatuhkan kita. Harusnya kita lepaskan saja,” dorong Giarti.

Tentu, niat terlepas dari ketergantungan tersebut tetap disertai permintaan tolong kepada Tuhan.

Pewawancara: Prisetyadi Teguh Wibowo

Penulis: Lya Dewi Anggraini

 

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here