Baptisiana | BATU AKIK AIR MATA ULAR

0
120

Batu akik bertuah ternyata bukanlah isapan jempol belaka. Setidaknya, begitulah yang pernah dipercaya kasir toko buku Lembaga Literatur Baptis (LLB) Bandung Sri Sugiyanti, ibu satu anak kelahiran Banten, Jawa Barat.

Kejadian aneh terjadi berawal dari sebuah mimpi yang dialami kakak perempuan Sri, Fima Sugiyanti tahun 1996 lampau. Dalam mimpi, ular itu mengeluarkan air mata yang kemudian menjadi batu akik. Lalu, ular itu berkata bahwa di dalam sumur itu terdapat batu akik yang bisa diambil.

“Kalau nggak salah di mimpi itu, batunya ada dua,” tutur Sri menceritakan mimpi sang kakak.

Berbekal mimpi di malam Jumat itu, Fima pun bercerita kepada kakaknya, Anton Haryanto yang kebetulan mengoleksi bermacam-macam batu akik.

Setelah mendengar mimpi itu, Jarwo, sapaan akrab Anton,  mengajak sahabatnya, Siman yang juga penggemar batu akik untuk menelusuri keberadaan batu itu. Bagi masyarakat Banten, mimpi di malam Jumat adalah istimewa. Maka, Jarwo dan Siman meyakini mimpi Fima itu benar adanya.

Nah, setelah salat Jumat, Jarwo dan Siman menggali sumur di belakang rumah samping pohon pisang muli. Mereka terus mencari dan menggali batu itu. Waktu itu kita percaya bahwa si ular pasti memberikan batu itu,” jelas Sri kepada Suara Baptis (SB).

Lama Jarwo dan Siman menggali sumur tersebut, namun kedua batu yang dicari tak kunjung ditemui. Keduanya sempat menghentikan penggalian. Namun didorong rasa penasaran, pencarian pun diteruskan. Dan…

“Antara percaya nggak percaya, sepasang batu akik merah itu akhirnya ditemukan. Batunya berukuran 2 cm, beratnya nggak sampai 1 gram. Dan itu benar seperti yang ada di dalam mimpi kakak saya,” tutur Sri.

Batu akik merah itu pun dikikir dan menjadi bagus.

“Karena didorong rasa ingin tahu,  saya menanyakan ke Jarwo mengenai kemistikan dua batu merah itu. Dan menurutnya, kemistikan batu yang pertama adalah agar wanita yang memakainya bisa terlihat cantik. Dan batu yang kedua buat pelaris dagang,” tambah Sri seraya tersenyum.

Wanita yang dibesarkan di Anyer, kabupaten Serang ini pun mengaku, dulu sebelum mengenal Tuhan, ia memakai salah satu batu merah itu untuk jimat pelaris dagang.

“Waktu itu saya percaya batu yang saya pakai itu ada pelarisnya. Dan benar, warung kelontong yang saya buka dengan modal Rp 1 juta itu menjadi ramai dan penuh oleh pembeli. Hasilnya lebih dari cukup. Adik saya bisa lulus SMA (Sekolah Menengah Atas) dan keluarga kami bisa makan dari warung itu,” kenang Sri.

Karena sesuatu persoalan, Sri lantas menggadaikan batu itu kepada seorang teman.

“Setelah kami (Sri dan Fima, red.) di dalam Tuhan, kayaknya nggak usah pakai gituan (batu yang ada mistiknya, red.). Itu kan berhala,” tambahnya.

Beberapa waktu lalu, Sri pulang ke kampung halamannya di Anyer. Kepadanya, Jarwo menawarkan batu cincin untuk dipakai. Dengan halus, Sri pun menolak pemberian kakaknya itu.

“Saya sudah nggak mau batu cincin yang ada mistiknya. Itu kan mungkin diisi sama ikatan-ikatan Iblis. Saya sudah melepaskan itu. Sekarang saya sudah di dalam Tuhan Yesus, jadi nggak usahlah pakai yang gituan,” ungkapnya bersemangat.

Apakah Sri juga akan menolak kalau ada yang nanti memberinya batu akik yang tidak mengandung mistik?

“Nah, kalau dikasih batu akik yang nggak ada isinya, saya mau,” tuturnya sembari tertawa.

Sudah berbulan-bulan lamanya, demam batu akik melanda banyak daerah termasuk Bandung. Di banyak tempat, orang dengan mudah bisa menemukan penjualnya, bercampur dengan para kolektor maupun yang sekadar suka batu akik.

Situs internet online akiks.com mengatakan, batu akik digandrungi banyak orang rupanya bukan melulu karena keindahannya. Ada juga yang membeli, mengoleksi, merawat, bahkan mati-matian  mempercayai kekuatan gaib yang tersimpan di dalamnya.

Batu akik seolah-olah sudah menjadi tren dan gaya hidup. Harganya pun menjadi sangat fantastis. Salah satu batu akik elite asal Banten adalah batu akik kalimaya. Menurut kompas.com, batu kalimaya dari Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, mampu menembus pasar ASEAN karena permintaan cukup tinggi di negara-negara tersebut.

Permintaan pasar ASEAN cukup tinggi karena batu fosil dan kalimaya merupakan kekayaan alam yang hanya ada di Kabupaten Lebak. Bebatuan yang bernilai ratusan juta Rupiah tersebut terdapat di sejumlah tempat seperti Kecamatan Sajira, Maja, Cipanas, Cimarga dan Muncang.

Mengutip wawancara pada kompas.com, Ardineswati, seorang pengrajin di Kecamatan Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Rabu Maret 2011 mengatakan, pihaknya menjual kerajinan batu kalimaya dan fosil ke beberapa negara ASEAN seperti Singapura, Malaysia, Thailand,  Thailand dan Filipina. Adapun harga satuan batu fosil maupun permata kalimaya mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 100 juta.

“Saya kira konsumen tertarik karena batu permata itu memiliki nilai seni tinggi,” ujarnya.

Selain kalimaya, tentu masih banyak batu-batu akik yang bernilai tinggi lainnya  seperti batu bacan, zamrud, ruby, topas, giok, kecubung, dan lain-lain.

Apakah Anda sudah memiliki salah satunya?

 SB/bigjohn

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here