Asaf Kharisma Putra Utama “KE PERANCIS KARENA FILM PENDEK”

0
575

Lu jangan mau gratisan doang, dong! Bayar!” umpat seorang perempuan kepada pria bermobil yang menurunkannya di pinggiran Jalan Surabaya, Jakarta.

Di seberangnya tampak seorang bapak tua sedang menyapu jalan. Sambil memegang sapunya, ia menghampiri perempuan yang sedang berusaha keras menyalakan rokoknya.

“Ini Non, korek Non,” seraya menyodorkan korek api. “Mau disetopin taksi, Non?” tanyanya lagi.

Nggaknggak… saya masih mau di sini,” jawab perempuan itu sambil duduk di pinggir trotoar.

Obrolan keduanya pun berlanjut. Dari yang sekadar basa-basi sampai pembicaraan yang cukup serius mengenai makna hidup, arti kebahagiaan, dan harapan. Dinginnya Jakarta malam itu terkalahkan dengan hangatnya obrolan kedua insan ciptaan Tuhan itu. Sampai ketika akhirnya suara azan berkumandang, obrolan pun terhenti. Mereka berpisah.

Film berdurasi 14 menit yang berjudul “Before Morning Comes” dan sarat makna kehidupan itu membawa sang sutradara, Asaf Kharisma Putra Utama terbang ke Perancis guna mengikuti FIDMarseille (Marseille International Film Festival).

Di sela-sela acara Indonesia Baptist Youth Conference (IBYC) 23 Juni 2019, Masdharma dari Suara Baptis berkesempatan berbincang bareng pria berkulit putih ini.

Gue nggak punya effort (usaha) sama sekali buat daftarin film gue atau diri gue ke festival itu,” ujarnya.

Asaf melanjutkan, “Ini jalan Tuhan melalui kampus gue. Kampus gue, IKJ (Institut Kesenian Jakarta) menilai bahwa film yang gue buat untuk tugas akhir ini punya potensi untuk ikut dalam festival. Merekalah yang mengurus segala persyaratannya.”

Singkat cerita, lulusan fakultas film dan televisi itu pun terbang ke kota paling romantis di dunia. Perancis.

“Semua dibayarin. Dari transpor, akomodasi, uang saku selama di sana,” ujar anak sulung Gembala Sidang Gereja Baptis Indonesia (GBI) JBC Pulomas, Jakarta Pdt. Edwin Halim ini.

Sebagai insan film, Asaf tak memungkiri bahwa dia berhasrat mengunjungi Perancis sebelum mati. Perancis punya arti mendalam baginya.

“Sejarah perfilman itu dari Perancis. Film pertama pun ditayangkan di Perancis,” jelasnya.

“Ini berkat Tuhan” ujarnya tegas. “Gue nggak lagi mendoakan, nggak juga sengaja minta, tapi Tuhan kasih,” sambungnya.

Marseilla fait sa star auprès des réalisateurs internationaux au repertour en présence de Séréna Zouaghi au Palais du Pharo

Di Perancis, Asaf bertemu insan film internasional, mulai dari sutradara, kameramen, penulis, hingga editor.

Gue bersyukur berkesempatan berdiskusi dengan mereka. Dapat banyak ilmu,” jelasnya.

Ternyata, sebelum berlaga dalam festival film di Perancis, film “Before Morning Comes” pun pernah masuk dalam 10 besar di Plaza Indonesia Film Festival 2016. Di tahun yang sama, film ini juga masuk dalam Digital Box Office Award.

“Sebuah festival yang sifatnya online virtual, pusatnya di Los Angeles. Mereka melakukan voting dengan cara virtual, tayangnya juga virtual. Nontonya di web,” paparnya.

Asaf merasa ketertarikannya di dunia film adalah warisan dari opanya, Almarhum Adi Surya. “Opa gue itu ternyata seorang jurnalis film di tahun 1960an. Dan gue baru tahu itu saat gue berkecimpung di dunia film,” ungkapnya.

“Awalnya gue bergelut di dunia fotografi. Kuliah pun tadinya ambil jurusan fotografi. Tapi di tengah perkuliahan, gue tertarik ambil jurusan gambar bergerak. Akhirnya gue pindah jurusan,” Ungkap pemuda ramping ini sambil tertawa.

Di dunia film, salah seorang pendiri Komunitas Duduk Bareng ini mengaku belajar banyak hal. Misalnya, karakter manusia, lingkungan sosial, sampai masalah ekonomi. Untuk beberapa kasus, ia bahkan harus mempelajari dunia kesehatan, sejarah, konteks kebudayaan, dan lainnya.

“Saat membuat film masa lampau atau masa depan, kita harus memperkirakan pergeseran budaya dari tahun segini sampai segini. Dua puluh tahun ke depan budayanya akan seperti apa? Kita harus bener-bener mengerti karakter orang, konteks sosial di zaman itu, lingkungan dan budayanya ya, termasuk unsur kesenian, unsur ketuhanan, unsur kehidupan dalam keluarga. Semua ada di situ,” paparnya gamblang

“Belajar film adalah belajar tentang kehidupan. Semua nilai kehidupan ada di dalam film itu,” ujar anggota jemaat The Light Communities Church (TLCC) Bintaro ini.

Baginya, film bukan sekadar kegemaran. Melalui film, Asaf bisa menyampaikan nilai-nilai kekristenan. Hal itu tampak dalam film pendek lainnya seperti “Esa” (2011) dan “Titik Balik” (2014). Film-film karya Asaf bisa dilihat di saluran Youtube Asaf Kharisma’s filmography.

“Dalam film yang sekuler, gue bisa menyampaikan pesan kerohanian, pesan iman. Dan itu lebih bisa diterima oleh semua kalangan masyarakat daripada sedikit-sedikit ngomong doa, sedikit-sedikit bawa-bawa Firman, sedikit-sedikit ngomong dosa, sedikit-sedikit ngomong Tuhan itu begini, Tuhan itu begitu. Pesan kekristenan lebih tersampaikan,” paparnya ekspresif.

Asaf melanjutkan, sewaktu film “Before Morning Comes” ditayangkan pada sidang akhir, seorang teman dekatnya yang kebetulan beragama Islam juga menonton film tersebut. Di akhir penayangannya, teman tersebut menghampiri Asaf, menyalaminya dan berkata, “Ini baru film anak pendeta!”

Pengakuan itu membuat Asaf sangat bangga. “Padahal film gue itu ditutup dengan suara azan subuh. Tapi temen gue bisa melihat hal lain dari film itu, nilai keristenan,” ujarnya bangga.

Ketika ditanya, apakah profesinya ini bisa dijadikan sumber penghidupan? Pria yang bercita-cita membuat film rohani ini menjawab dengan serius. “Puji Tuhan, sejauh ini bisa menghidupi, kok,” jawabnya tegas.

Lanjutnya, “Gue masih bisa menabung, kehidupan gue tiap bulan juga masih aman. Masih bisa kasih perpuluhan.”

Menurutnya, industri film sekarang sangat berbeda dengan industri film zaman dulu. Kalau dulu, pekerja seni secara ekonomi tidak menghasilkan, tetapi sekarang berbeda. Industi film sangat berkembang.

Nggak cuma layar lebar, kita bisa bikin company profile (profil perusahaan), proyek musik video, video wedding, mengajar. Peluangnya sangat besar untuk bisa hidup di dunia film,” ujarnya.

Setelah menekuni dunia film, Asaf berhasrat memiliki tayangan media sesungguhnya. Yakni, membuat film-film yang memberkati, yang menjadi kesaksian bagi banyak orang.

“Media adalah cara terbaik bagi kita untuk menyampaikan kesaksian dan kebenaran Firman Tuhan. Di media, kita tidak punya batasan apa pun. Kita taruh di Instagram, WhatsApp, FaceBook, YouTube, semua orang bisa melihat. Dan orang bisa memilih melihat atau tidak melihat. Tapi setidaknya kita bisa menyampaikan kebenaran Firman Tuhan,” tukasnya.

“Dengan karya, kita sudah ngomong dengan sendirinya tentang Firman Tuhan,” simpulnya.

“Harapan gue ke depan, ini bener-bener bisa berjalan, bisa jadi alat dan cara untuk memenangkan jiwa. Gue rindu tidak hanya bisa bikin film, tetapi kita bisa follow up juga. Ketika ada yang nonton, kemudian ada komentar dan segala macem. Mungkin ada tim yang lain yang bisa follow up, ‘O, mereka perlu konseling, mereka perlu apa….’ Dan mereka bisa sampai ke situ sih.”

Ia berpesan supaya kaum muda berani berkarya. “Tuhan kasih talenta ke setiap manusia untuk berkarya dengan luar biasa. Berkaryalah untuk Kristus. Lakukan yang terbaik dengan apa yang kita bisa. Kalau bisa di film, buatlah film untuk Tuhan. Kalau bisa desain, desainlah yang bagus untuk Tuhan.”

Asaf melanjutkan, “Banyak sekali yang bisa dilakukan sebagai anak muda. Yang penting kita mau berkarya sepenuhnya untuk Kristus, itu satu. Terus yang kedua, carilah komunitas yang dapat membangun kalian, komunitas yang bisa membawa inspirasi kalian, tempat kalian beraspirasi, bisa juga menjadi sebuah wadah untuk berekspresi untuk mengkreasikan sesuatu.”

Pria yang juga piawai bermain musik ini bersedia jika diminta berbagi ilmu cara membuat video sederhana. Sempat beberapa kali ia berkeliling gereja Baptis untuk membuat pelatihan audiovisual sederhana.

“Salah satunya membuat pengumuman di gereja. Biasanya kan pengumuman kegiatan gereja cuma ditulis di buletin, terus diumumin di gereja. Belum tiga hari udah lupa. Tapi kalau dalam bentuk video, pengumuman itu bisa dibagiin lagi, lewat WhatsApp. Orang akan terus diingatkan.”

Sambungnya, “Selain itu kita bisa membuat ilustrasi khotbah singkat, ‘Pak Pendeta, khotbah minggu depan apa? Ada ilustrasi sederhana apa yang Bapak mau sampaikan?’ Kita bisa bantu dengan membuat audiovisualnya. Itu membantu para hamba Tuhan untuk menyampaikan khotbah dengan cara yang menarik. Mau nggak mau harus ikutin perkembangan zaman. Dan sekarang, era digital.”

Asaf rindu memiliki rumah produksi sendiri, yang benar-benar menaungi anak-anak muda yang berpotensi dan mau berkarya untuk Tuhan.

“Mau bikin film bareng-bareng yang bisa untuk kesaksian. Itu cita-cita besar gue,” tutupnya.

 

Penulis: Masdharma

Editor: Prisetyadi Teguh Wibowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here