Ancaman Virus Corona Menjelang Mubes GGBI SIKAP ORANG INDONESIA, NEKAT!

0
897

Sejak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan infeksi virus corona (Covid-19) sebagai pandemi global Rabu 11 Maret 2020, seluruh dunia memberikan tanggapannya. Kurang dari tiga bulan, Covid-19 menjangkiti lebih dari 126.000 orang di 123 negara.

Dalam sebuah konferensi pers, Kamis 12 Maret 2020, Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, “Dalam beberapa hari hingga minggu ke depan, kami melihat kemungkinan jumlah kasus, jumlah kematian, dan jumlah negara terdampak akan melonjak lebih tinggi.”

Meski diakuinya beberapa negara telah mampu menekan dan mengendalikan wabah, Tedros geram karena sebagian pemimpin negara gagal bertindak cepat untuk menahan penyebaran Covid-19. “Kami sangat prihatin dengan tingkat penyebaran dan keparahan yang mengkhawatirkan, dan juga pencegahan yang lamban. Padahal kami telah ‘membunyikan alarm’ yang keras dan jelas,” ujarnya (www.kompas.com).

Lantas, bagimana seharusnya kita bersikap menjelang Musyawarah Besar Gabungan Gereja Baptis Indonesia (Mubes GGBI) 24-27 Maret mendatang?

Berikut wawancara Pemimpin Redaksi Suara Baptis Prisetyadi Teguh Wibowo dengan Ketua Pengurus Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia (YRSBI) Pdt. Victor Rembeth, Kamis 12 Maret 2020.

WHO menetapkan infeksi virus corona sebagai pandemi. Artinya, penyakit mematikan ini telah menyebar ke banyak negara dan mempengaruhi masyarakat dalam jumlah besar. Karena itu WHO meminta  supaya semua negara berperan dalam menekan penyebaran virus corona ini. Sementara kita justru sedang mempersiapkan Mubes GGBI  dengan target 1.200 orang dari berbagai tempat. Bukankah ini tanggapan yang berlawanan dengan konsep mitigasi pandemi?

Semua pihak sudah bersiaga dan selain mitigasi kan ada kesiapsiagaan. Kesiapsiagaan itu manusianya. Kalau mitigasi lebih kepada aspek strukturalnya, melakukan apa dan bagaimana. Karena itu yang pertama kita memastikan kebijakan pemerintah setempat. Belum tahu, dari kepolisian memberikan izin sampai di mana. Tetapi ada persyaratan harus dengan (menyediakan tenaga) rumah sakit dan ambulans sendiri. Nah untuk itu, keempat rumah sakit (Baptis) sudah mempersiapkan tenaga medis untuk berjaga-jaga kalau izin itu diberikan.

Kalau nanti presiden keluar (mengumumkan) bahwa (pandemi viris corona) itu bencana nasional, ada aturan-aturan ketat yang tidak bisa membiarkan kita berkumpul, ya terpaksa (Mubes GGBI ditunda).

(Pdt. Victor mengatakan, Sabtu besok 14 Maret 2020, Panitia Pengarah, Panitia Pelaksana dan para pihak yang terlibat penyelenggaraan Mubes GGBI akan mendiskusikan situasi pandemi dan berbagai skenario yang pernah diibahas sebelumnya.)

Kita akan membicarakan skenario 1, 2, 3-nya rencana kontingensinya (keadaan yang masih diliputi ketidakpastian dan berada di luar jangkauan,red.) hari Sabtu ini. Kalau dari segi mitigasinya, yang struktural, sudah tentu kita tidak bisa tidak mengindahkan apa yang dikatakan pemerintah. Kalau Pemerintah mengatakan “tidak boleh” (menggelar Mubes GGBI), ya kita tidak bisa apa-apa.  Yang pertama dikatakan siaga satu itu kan Jawa Barat dan DKI Jakarta, namanya “titik merah” ya. Itu sudah bukan saja orang dalam pengawasan tetapi orangnya sudah terdampak. Itu di dua provinsi ini, yang lain Bali.

 

 

Keputusan final belum hari ini karena toh ada persyaratan yang diberikan oleh pemerintah. Kita sudah merencanakan dengan kesiapsiagaan dan mitigasi, tetapi pada akhirnya keputusan pemerintah yang nomor satu, kita harus manut. Kemudian (akan kita lihat) seberapa besar dampak yang semakin meluas. Dan yang ketiga adalah kemauan kita juga untuk menerima kondisi apa adanya. Kalau  kita merasakan terlalu berat (menyelenggarakan Mubes GGBI dalam situasi saat ini), nanti skenario (penndaan) itu akan kita diskusikan kemudian. Jadi, sampai saat ini belum ada keputusan pasti walaupun WHO sudah sudah mengumumkan kalau ini pandemik.

 

Kalau nanti pemerintah membolehkan mubes digelar dengan persyaratan tertentu, ada protokol yang harus dipatuhi, tetapi apakah juga memperhitungkan soal kesadaran untuk melangsungkan acara yang berisiko menularkan virus corona itu?

Teman-teman dari rumah sakit lebih memberikan pertimbangan-pertimbangan teknis ya, karena kita tidak bisa mengatakan go or no, kan? Karena itu bukan acara kita. Kita memberikan pertimbangan teknis karena melihat perkembangan hari ini sampai Sabtu. Memang ada split position, lanjut atau tidak. Dan itu terjadi di antara para dokter dan juga pengurus yang punya latar belakang kesehatan. Tetapi dalam hal ini Yayasan Rumah Sakit Baptis Indonesia dan tim medis tidak bisa mengambil keputusan akhir.

Kita akan memberikan usulan-usulan teknis perihal kemungkinan-kemungkinan terburuk dan kemudian menyiapkan skenario-skenarionya. Tetapi keputusan akhir itu tetap kepada BPN GGBI karena ini acara BPN GGBI.

Ada berapa kemungkinan keputusan yang akan diambil Sabtu besok?

Ada tiga. Pertama, tetap melanjutkan (mubes). Kedua, melanjutkan dengan catatan mitigasi. Ketiga, meniadakan (mubes) sama sekali. Jadi, menunda atau tidak melanjutkan sama sekali, baru (kemudian) di-review (ditinjau) ulang untuk beberapa bulan ke depan. Tapi keputusan-keputusan itu saya tidak bisa terlalu prematur mengatakan, karena kita yayasan rumah sakit, adalah (melakukan) hal-hal teknis medis.

Mungkin nanti ada izin menggelar mubes dan berbagai langkah pencegahan penularan virus sudah dilakukan, namun ternyata ada orang-orang yang tertular virus corona sesudah pulang. Sebagian orang menyadari, itu adalah risiko yang ditanggung berdua, baik gereja yang mengutus, orang yang datang, maupun penyelenggara mubes.  Tetapi apakah semua orang siap dengan perhitungan seperti ini?

Ada aspek-aspek lain yang perlu dipertimbangkan karena beberapa orang menganggap bahwa mubes itu kata akhir semua untuk organisasi Baptis. Seakan-akan hanya dengan mubes, kita bisa menyelesaikan semua perkara. Padahal belum tentu, kan? Bahkan yang sudah terjadi sekarang, yang semakin dihembuskan: “Kan ini bukan lagi seperti dulu? (Mubes) tinggal mengesahkan (para pemimpin Baptis). Nah, aspek-aspek seperti itu yang berbahaya sekali.

Jadi mari kita berpikir positif. Apa pun (yang akan terjadi), kita harus terima dengan segala risiko, dan dengan segala kesiapsiagaan dan mitigasi. Pihak rumah sakit mempersiapkan petugas dan peralatan medis. Kedua adalah diharuskan juga punya ambulans, oke, kita siapkan. Pengadaan obat-obatan, alat-alat kebersihan dan kesehatan itu juga sudah kita lakukan semua. Tetapi ini kembali kepada keputusan pemerintah dan BPN GGBI. YRSBI mendukung apa pun yang dilakukan, tetapi umat (diharapkan) melihat dari kaca mata jernih. Mari kita lakukan dengan iman dan meyakini, kalau terjadi sesuatu pun, itu sudah kesepakatan bersama karena pengambil keputusan internal adalah BPN GGBI dan eksternal dari kepolisian yang memberikan izin atau tidak.

Kalaupun pemerintah mengizinkan, masih ada pertimbangan-pertimbangan lain dari pihak internal?

Jadi, seperti itu. Kalau pun ditunda atau tidak dilaksanakan, ya tidak perlu kita kecewa yang berlebihan. Lebih baik kita rugi dalam sejumlah rupiah daripada kita memaksakan kehendak. Tetapi (juga harus diterima) kalau (mubes tetap) kita laksanakan dengan keyakinan  bahwa kita sudah usahakan dengan sebaik-baiknya.

Jadi, Sabtu besoki kita akan buat skenario-skenario dan rencana kontingensi apa yang kita lakukan. Semua rumah sakit kita undang, bahkan direktur-direkturnya dan semua persiapan sudah kita siapkan

Ada dua sikap merespons pandemi ini. Pertama, ayo kita lakukan mubes ini, kan hidup mati di tangan Tuhan? Sikap yang lain, kita tunda saja mubesnya sebagai tanggapan atas seruan WHO supaya semua negara berperan dalam mengurangi penyebaran pandemi corona. Sebagai pendeta yang sudah bertahun-tahun terjun dalam pencegahan dan penanggulangan bencana, bagaimana pendapat Anda?

Orang Indonesia biasanya mengambil (sikap) yang pertama: nekat. Lho, orang Indonesia, tahu kalau itu daerah longsor, tetap membangun rumah di situ. Dan kita tahu kalau itu daerah banjir, kita tidak mau pindah dari sana. Kita sudah tahu kalau ada DBD (demam berdarah dengue) dan kita tidak melakukan segala sesuatu.

Jadi, inilah sikap orang Indonesia. Orang (menjalankan kendaraan) melawan arus pun tetap berani, kok! Nanti urusannya Tuhan (kalau ternyata mendapat celaka). Orang Indonesia sudah terbiasa seperti itu. Jadi, pengambilan keputusan kita memang rada nekat.

Begitu juga gereja-gereja. Kami bicara, “Ayo kita siapkan tim siaga bencana,”, gereja mana yang pernah melakukan itu? Ini peringatan juga untuk kita, gereja-gereja kita. Muhammadiyah dan NU sudah dilibatkan (dalam menyiapkan tim siaga bencana) bahkan punya yang namanya “hospital prepare”. Nah, kita tidak pernah melakukan itu karena kita menganggap, investasi untuk kesiapsiagaan dan mitigasi itu tidak perlu. Itu (sikap) orang Baptis. Saya harus mengatakan (seperti) itu, ya. Kita lebih senang dengan heroisme: nanti kalau terjadi bencana, baru kita rame-rame. Ini yang mungkin jadi bagian perenungan kita.

Jadi, (kalau) kita mengambil permainan (sikap) yang kedua, kok aneh? Kadang tiba-tiba seperti: Haa… ketakutan!  (Kalau mengambil sikap yang kedua), ini bukan pengambilan keputusan (secara sadar, tetapi) lebih ke psikologi massa. Psikologi massa kita memang terlalu terpengaruh dengan pemberitaan ketakutan, bukan pemberitaan harapan. Yang menakuti-nakuti itu yang kemudian laku.

Lalu kita khawatir berlebihan, itu kan katanya secara psikologis dapat menyebabkan imunitas menurun.  Kemudian juga kita takut melakukan apa pun juga. Jadi, dalam pengurangan risiko bencana tinggal kita meningkatkan kapasitas kita. Artinya, ketika kita mengetahui kelemahan kita, kita akan melakukan lebih. (Misanya), saya tahu sedang lemah tubuh, saya sedang tidak fit, janganlah kita pergi ke keramaian.

Nah, itu yang dilakukan dengan baik sebagai pengurangan risiko oleh pemerintah Singapura. Kalau baca (berita) dari Singapura, itu bagus sekali. Ini kita bicara persepsi risiko dan komunikasi risiko. Ini jadi kuliah bencana, ya? Hahaha … Apakah umat juga disiapkan kapasitasnya? Kapasitas kita dari segi medis, rumah sakit sudah mempersiapkan kapasitas itu.

Contoh sederhana saja, kalau kita nanti ke sana (Mubes GGBI) rame-rame, apakah kita masih mau mencuci tangan dengan benar? Apakah kita mau pakai hand sanitizer? Hand sanitizer itu tidak boleh dipakai tujuh kali sehari, itu malah akan mempermudah kuman (masuk ke dalam tubuh).

Jangan mudah baper (terbawa perasaan). Karena sekarang kan orang baper kalau (temannya) nggak mau bersalaman. Nggak mau bersalaman artinya, “Saya ingin menjaga diri saya.” Nah, persepsi risiko kita yang harus diperbaiki dan saya pikir ini moment of truth (saat sebuah keputusan penting diambil).

Jadi, umat Baptis harus belajar bahwa ada kesiapsiagaan bencana, mitigasi bencana.  Jangan main-main dengan investasi umat untuk mengurangi risiko bencana. Ini bagus sekali, ini pelajaran yang sangat bagus. Terima kasih atas pertanyaan itu.

Jadi, saya malah kampanye tentang penanggulangan risiko bencana. Kita merasa hebat kalau kita terjun dan merasakan respons-respons siap tanggap darurat, tapi kita nggak pernah berpikir bahwa pengurangan bencana itu perlu dan penting.

 

Terima kasih kembali, ini tugas media massa untuk mengedukasi publik. Nah, apa pun nanti yang diputuskan pemerintah, adanya protokol-protokol yang harus dijalankan kalau mubes tetap digelar, tetap akan ada pertimbangan-pertimbangan internal?

Yang kedua adalah mitigasi yang disiapkan secara internal. Dan yang ketiga adalah sesudah semuanya itu diberikan pun, tetap harus ada pertimbangan lain-lain dan sebagainya. Yang terakhir adalah, akhirnya (keputusan ada) pada gereja dan utusan itu sendiri, jadi berangkat atau tidak, dengan berbagai pertimbangan. Misalnya, kondisi kesehatan, juga melihat agenda mubes.  Semuanya kan tidak bisa disederhanakan dengan satu atau dua alasan.

Apa pun keputusan itu sesudah pertemuan Sabtu besok, sebaiknya segera ada pengumuman supaya gereja juga bersiap-siap?

Saya pikir itu yang pertama. Dan sekali lagi, semua dikembalikan (kepada gereja dan pribadi utusan). Kita juga orang Baptis (yang) keselamatannya (adalah tanggung jawab) setiap orang. Jadi kembali ke teologi, jangan memaksakan kehendak (kepada) orang lain. Kalau dia tidak datang walaupun sudah bayar (biaya pendaftaran), jangan juga mengatakan, “Berarti dia tidak beriman.”

(Itu) pilihan-pilihan pribadi. Kita masuk aspek spiritualitas, biarlah umat memilih, biarlah orang memilih. Siapa pun, biarlah memilih mau berangkat atau tidak (ke mubes). Jangan juga orang-orang yang (datang), merasa patriot, merasa luar biasa, merasa diberkati Tuhan dengan kekuatan supranatural. Atau menjadi baper atau nyalah-nyalahin (orang yang batal datang), “Wah, kurang beriman!”

Nah, orang Baptis itu punya pilihan keimaman orang percaya. Di situ (kita) kembali ke konteks itu.

 

Terima kasih.

 

Pewawancara: Prisetyadi Teguh Wibowo

Transkripsi: Aris Santoso

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here