ADVERTORIAL | Ulang Tahun Intan GBI Kalvari Jakarta

1
86

BAGAI INTAN, BERKILAU UNTUK MENJANGKAU

Menjadi gereja yang menjangkau banyak jiwa, menjadi tekad utama Gereja Baptis Indonesia (GBI) Kalvari Jakarta yang memasuki usia 60 tahun pada 1 Mei 2015. Sebagai salah satu stasiun misi pertama di Indonesia yang dibangun para utusan Injil Konvensi Baptis Selatan (SBC), GBI Kalvari berperan penting dalam melahirkan gereja-gereja Baptis di Jakarta. Bahkan sejak semula, GBI Kalvari telah memandang jauh ke depan dengan merintis gereja-gereja yang “mengepung” Ibukota Republik Indonesia ini.

Hasilnya, di Jakarta Utara berdiri GBI Ebenhaezer, GBI Betlehem, GBI Nazareth dan GBI Rosypinna. Di Jakarta Timur lahir GBI Jatinegara. Di Jakarta Selatan muncul GBI Kebayoran. Sementara di Jakarta Barat terdapat GBI Grogol.

GBI Kalvari juga giat menjangkau jiwa di berbagai daerah yang jauh. Gereja yang berdiri di Jl. Gunung Sahari VI Nomor 36 Jakarta ini melahirkan GBI Kalvari Banjit (Lampung), GBI Kalvari Mranggen (Jawa Tengah), GBI Kalvari Tegal (Jawa Tengah), GBI Kalvari Batam (Riau), GBI Margahayu (Bekasi, Jawa Barat), GBI Kalvari Jambi, GBI Kalvari Bengkulu, GBI Kalvari Cilacap (Jawa Tengah), GBI Kalvari Denpasar (Bali), GBI Kalvari Bangka (Bangka Belitung), GBI Kalvari Kabanjahe (Sumatra Utara) dan GBI Kalvari Bandar Lampung.

Saat ini, sejumlah gereja cabang hasil perintisan GBI Kalvari Jakarta sedang dalam proses menjadi gereja mandiri. Mereka tersebar di Tanjung Pinang (Riau), Pontianak (Kalimantan Barat), Medan (Sumatra Utara), Lampung, Makassar, dan Sintang (Kalimantan Barat).

Tekad untuk mendirikan setidaknya satu gereja di setiap provinsi, terus membara hingga kini. Meski demikian, tidak mudah bagi jemaat Kalvari untuk menjaga api pengabaran Injil tetap berkobar.

“Pergumulan paling berat adalah penjangkauan, karena kita dikelilingi gereja-gereja yang menjangkau, tetapi juga yang merebut orang-orang kita. Tetapi sebetulnya itu satu tantangan untuk kita, jadi temanya menjangkau. Tidak usah gentar. Kita menjangkau orang-orang yang ada di sekitar kita. Saya fokus pada keluarga-keluarga, karena lebih gampang,” ungkap Gembala Sidang GBI Kalvari Pdt. Christantio Nurdin kepada Prisetyadi Teguh Wibowo dari Suara Baptis, Minggu 15 Maret 2015.

Ayah dua anak ini mengakui, meneruskan semangat penjangkauan kepada kaum muda menjadi tantangan tersendiri. Perjalanan misi (mission trip) yang menjadi salah satu cara menumbuhkan semangat penjangkauan bagi kaum muda, tidak selalu dapat mereka ikuti. Kesibukan kuliah dan pekerjaan terkadang menjadi penghambat keikutsertaan kaum muda ke daerah-daerah perintisan gereja.

Meski demikian, semangat kaum muda untuk mengikuti perjalanan misi ini mulai bangkit.

“Sebetulnya kalau (perjalanan misi ini) bisa diprogramkan, (maka akan) bisa dijalankan. Dari segi keuangan, kita punya, gereja bisa menambahi. Kemarin kita ke Lampung, (kaum muda) sudah mulai ikut,” ujar Pdt. Christantio.

Tantangan untuk menggerakkan kaum muda dalam pelayanan juga dikemukakan Oce Meiwa Panggua yang melayani kaum muda GBI Kalvari bersama suaminya, Pdt. Rafli Sumanti. Ketika Oce dan Pdt. Rafli mulai melayani di gereja ini, keduanya merasa, kaum muda dan remaja dirundung banyak masalah. Di antaranya, muncul kelompok-kelompok yang sukar menyatu dan enggan mengikuti persekutuan pemuda.

“Kita berusaha sambil berdoa bagaimana membangun hubungan yang erat dalam persekutuan pemuda dan remaja. Sebetulnya banyak hal yang kita lakukan tetapi belum ada hasil,” ujar Oce dengan nada merendah.

“Tetapi kita tidak mau putus asa, kita terus berjuang. Salah satunya, kita intens kunjungan, mencari orang-orang yang tadinya aktif, sekarang tidak aktif. Kita mencari tahu, kenapa orang ini nggak datang. Di situ kita bisa mencari cara untuk merangkul orang itu. Yang kita lakukan (kunjungan, red.) mungkin kecil, tetapi saya rasa bisa efektif kalau kita intens menjangkau dan mengunjungi mereka,” sambung wanita asal Toraja ini.

Berbarengan dengan bulan ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia Agustus mendatang, GBI Kalvari akan menggelar acara Kalvari Cup, lomba olah raga dan berbagai kegiatan gereja lainnya. Oce berharap, acara ini dapat membangun kembali hubungan erat di antara kaum muda.

“Dengan momen itu, kita bisa bersama-sama dalam keluarga besar GBI Kalvari. Kita juga berjuang supaya anak-anak muda itu merasa bahwa GBI Kalvari itu rumah kedua. Kalau ada perasaan itu, sunggguh-sungguh anak-anak itu merasa bahwa ini adalah tempat kita, kita tidak bisa ke tempat lain karena ini adalah rumah kita. Di sini kita bisa membangun kebersamaan, membangun keluarga dari bermacam-macam suku dan latar belakang,” ujar Oce.

Mendengar pernyataan Oce yang merendah dengan menyebut belum berhasil membangun hubungan erat di antara kaum muda, Ketua Panitia Keanggotaan GBI Kalvari Dkn. Heryansyah Himawan mengoreksinya. “Sebenarnya bukan tidak ada kemajuan (di antara) anak muda. Adanya persekutuan rutin, ini sudah ada kemajuan bagus. Memang tidak mudah, apalagi ke depan kami mengharapkan kaum muda terpanggil sepenuh waktu. Ini (tantangan) luar biasa.”

Dkn. Heryansyah menambahkan, tanggung jawab membangun kaum muda ini bukan hanya di pundak pendeta, tetapi juga tanggung jawab jemaat.

Salah satu pimpinan sebuah holding company di Jakarta ini mengakui, gereja umumnya lebih banyak menyusun program untuk kaum dewasa, bukan pemuda. Ketika GBI Kalvari masih memiliki sekolah dulu, membangun hubungan maupun penjangkauan kepada kaum muda lebih mudah dilakukan.

Diungkapkannya, bagaimana kaum muda GBI Kalvari pernah benar-benar seperti sebuah keluarga besar yang karib pada tahun 1970-1980-an. Mereka sering berkumpul di gereja dan di rumah Dkn. Heryansyah.

“Sebenarnya rumah keduanya bukan di gereja, tetapi di rumah saya, karena makannya gampang. Tidur pun di situ,” kenang Dkn. Heryansyah.

Ketika itu, rumah keluarga Heryansyah masih terletak di Jl. Pasar Baru, tidak jauh dari gereja. Anak-anak muda pria seusianya ketika itu sering menginap ramai-ramai di satu kamar. Yang tidak kebagian tempat tidur, cukup puas berbaring di sofa atau tempat lainnya.

“ Kalau orang satu kamar itu nggak pulang, satu sakit mata, semua juga sakit mata,” tutur Dkn. Heryansyah sambil tertawa.

Saking dekatnya hubungan mereka, para pemuda itulah yang pertama mengetahui seorang teman diserang tifus. Dengan kompak, mereka melarikannya ke rumah sakit sementara orang tua si sakit tidak mengetahuinya.

Sedemikian eratnya jalinan persaudaraan, para pemuda ini tumbuh menjadi orang-orang yang sangat melindungi adik-adiknya. Selesai persekutuan, ketua persekutuan kaum muda membagi tugas  anak-anak lelaki yang memiliki motor untuk mengantar pulang anak-anak perempuan.

Pengaruhnya terhadap orang-orang sekitar pun luar biasa. Dalam persekutuan kaum muda yang diadakan di rumah salah satu anggotanya, sering terjadi orang tuanya dimenangkan. Bahkan teman, kakak, dan adik juga dimenangkan.

“Ini karena orang tua melihat, anak-anak muda ini menunjukkan hubungan yang baik,” ujar Dkn. Heryansyah yang ayahnya juga dimenangkan kemudian.

Tidak hanya itu, hantu yang konon menghuni rumahnya pun tidak muncul lagi setelah para pemuda sering mengadakan persekutuan. Banyak anak yang tanpa disadari terancam broken home karena berbagai masalah keluarga, terselamatkan karena eratnya hubungan tersebut.

“Di situ dipersatukan oleh Yesus, dihibur, dikuatkan. Mereka sifatnya mengayomi,” kenang Soeherman Gunawan, ketua kaum muda GBI Kalvari tahun 1972. “Saya dimenangkan di gereja ini karena terkesan (dengan eratnya hubungan kaum muda). Kekeluargaannya luar biasa. Kaum muda mendominasi (pelayanan di gereja), seperti paduan suara atau jam doa.”

Soeherman yang percaya Tuhan Yesus dari penjangkauan temannya (pemuda GBI Kalvari) lalu mengisahkan, ia dan teman-teman mudanya betah sekali di gereja. Setiap pulang sekolah, berolah raga, belajar kelompok, selalu dilakukan di gereja.

“Murid-murid yang ada kepintaran, meng-ajar (yang lain). Makanya, kita larinya ke gereja, bukan ke tempat lain. Persekutu-an pemuda digabung dengan remaja, tetapi pemuda itu mem-punyai sifat meng-ayomi. Jadi, remaja senang sekali,” kata Soeherman.

Kini, puluhan mantan anggota kaum muda GBI Kalvari telah menyebar ke kota-kota di seluruh dunia. Ada yang menjadi pendeta atau anggota gereja yang giat membuka gereja Baptis di tempat tinggalnya.

Dalam peringatan ulang tahun intan 1 Mei 2015 ini, GBI Kalvari diharapkan semakin berkilau dan menjangkau lebih banyak jiwa. Ulang tahun intan ini mengambil tema “Semakin Berkilau untuk Menjangkau”. Ini adalah tema lanjutan ulang tahun emas 10 tahun lalu yang bertema  “Menabur dan Menuai”.

“Kalau tidak berkilau, bukan lagi intan yang memancarkan cahaya ke sekelilingnya. Pada umumnya, kita seringkali membuat acara yang menarik, tetapi lupa akan sekeliling kita, lupa membuat sinar untuk menolong orang lain menemukan Yesus,” tandas Dkn. Heryansyah yang menjadi Ketua Panitia Ulang Tahun Ke-60 GBI Kalvari.

Diungkapkannya, tekad GBI Kalvari untuk menjangkau semua provinsi, masih kuat tertanam. Bahkan gereja ini juga ingin memperluas jangkauan pelayanannya ke luar negeri.

“Di mana ada kesempatan, kita akan menjangkau tiap provinsi satu per satu,” kata Dkn. Heryansyah.

Sebagai gereja Baptis yang injili, demikian Dkn. Heryansyah, setiap anggota jemaat GBI Kalvari harus berjiwa menginjil, baik yang senior maupun yunior. “Memang zaman dulu didominasi kaum muda. Kita harapkan (sekarang), semuanya terlibat. Kita menginjil bukan hanya internal kita, tetapi keluar juga, ke pulau-pulau. Kita perlu bekerja sama dengan bekas cabang, terutama gereja yang memiliki strategi mendirikan satu gereja di kota besar. Kita juga menginjil di daerah transmigrasi. Ke mana Tuhan tunjukkan (jalan), kita akan membuka.”

Sebagai salah satu orang lama di GBI Kalvari, ia berharap, gereja ini sungguh-sungguh menjadi teladan dalam penginjilan, pengajaran, pemuridan, dan pelayanan sosial.

“Gereja harus menjadi terang di sekitarnya. Zaman makin berat, makin sulit. Gereja harus siap, tidak terpaku pada beban berat kesibukan, tetapi harus tetap memancarkan terang cahaya itu kepada orang-orang yang belum mengikut Kristus,” tandasnya.

SB/lya/pris

1 COMMENT

  1. Selamat Ulang Tahun ke 60 GBI Kalvary.
    JEMAAT GBI Kalvary.
    PDT Kristantio and others Pendeta also Para Diakon, Guru sekolah Minggu, Pemain Musik, Singers
    Daikon Heryansyh, Bp Soeherma Gunawan
    And all of You.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here